EDITOR.ID, Indramayu – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Indramayu merilis, hasil ‘assessment’ di lapangan ditemukan sedikitnya terdapat sepuluh titik tanggul kritis di daerah aliran sungai (DAS) Cimanuk. Kondisi tersebut dinilai berpotensi memicu terjadinya bencana banjir. Malah teori InaRISK (portal hasil kajiann risiko bencana) versi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyatakan Kabupaten Indramayu memiliki risiko tinggi terhadap bencana banjir dan risiko sedang untuk bencana longsor.
Kondisi tersebut membuat pemerintah kabupaten (Pemkab) setempat berupaya keras melakukan pencegahan. Diantara upaya itu adalah tim Pemkab Indramayu melakukan mitigasi (upaya mengurangi risiko bencana) tanggul sepanjang DAS Cimanuk menyusul mulai masuknya musim penghujan. Pemkab Indramayu melaksanakan langkah pencegahan pada tanggul-tanggul kritis dengan menanam rumput Akar Wangi atau Narwastu (Vetiver).
Asisten Daerah Bidang Pemerintahan, Jajang Sudrajat mengatakan, Akar Wangi dinilai efektif dalam mencegah longsor dan pengikisan tanggul. Akarnya yang bisa sepanjang 1,5 meter sehingga akan ikut memperkuat kondisi tanggul sungai. “Rumput ini juga mudah hidup di cuaca ekstrim suhu panas dan dapat mencegah erosi,” ujar dia saat Apel Siaga Bencana belum lama ini.
Dalam perkembangan yang sama, belum lama ini tembok penahan tanggul sungai Cimanuk jebol sepanjang 20 meter. Lokasinya di Blok Pancoran Mas Desa Rambatan Kulon Kecamatan Lohbener Kabupaten Indramayu. Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Cimanuk-Cisanggarung pun langsung bergerak. Mereka memasang ratusan ‘sand bag’ (karung berisi pasir) untuk menutup celah menganga pada struktur pasangan batu tembok.










