Arogansi Oknum ASN Marahi Bentak-bentak Pesepeda Lansia di Lampung Picu Kemarahan Publik

Insiden ini sebenarnya sepele. Seorang bapak tua lansia sedang mengayuh sepeda ontelnya, membawa muatan "ronjot" (keranjang anyaman) berisi bambu, beban hidup dan beban muatan mungkin membuatnya sedikit oleng. Tanpa sengaja, ronjot bambu menyenggol mobil yang ditumpangi para oknum ASN, senggolan sesungguhnya tidak begitu fatal, namun respons yang diterima pak tua lansia sungguh di luar nalar.

Alih-alih menyelesaikan masalah dengan kepala dingin atau memaklumi kondisi si bapak yang sudah tua renta, ketiga oknum ASN berseragam malah justru turun dan langsung "menghakimi".

Lampung, EDITOR.ID – Beredar video peristiwa arogansi oknum berseragam terhadap kakek pesepeda di Lampung memicu kemarahan publik dan menjadi pengingat serius bagi etika abdi negara. Insiden sepele di Lampung ini menjadi tamparan keras bagi integritas ASN. Videonya viral di media sosial dan menuai kecaman publik.

Video yang beredar memperlihatkan potret arogansi tiga orang pria berseragam, diduga kuat oknum Aparatur Sipil Negara (ASN) yang memperlakukan seorang pesepeda bapak tua lansia dengan sangat tidak pantas.

Peristiwa ini bukan tentang kecelakaan besar, melainkan hanya karena masalah “lecet” yang dibalas dengan penghinaan fisik dan verbal.

Insiden ini sebenarnya sepele. Seorang bapak tua lansia sedang mengayuh sepeda ontelnya, membawa muatan “ronjot” (keranjang anyaman) berisi bambu, beban hidup dan beban muatan mungkin membuatnya sedikit oleng.

Tanpa sengaja, ronjot bambu menyenggol mobil yang ditumpangi para oknum ASN, senggolan sesungguhnya tidak begitu fatal, namun respons yang diterima pak tua lansia sungguh di luar nalar.

Alih-alih menyelesaikan masalah dengan kepala dingin atau memaklumi kondisi si bapak yang sudah tua renta, ketiga oknum ASN berseragam malah justru turun dan langsung “menghakimi”.

Bapak tua lansia seakan-akan sedang dikepung oleh ketiga oknum ASN, pak tua lansia dibentak-bentak bahkan dimarahi habis-habisan di pinggir jalan layaknya pelaku kriminal berat.

Puncak dari arogansi tersebut terjadi ketika salah satu oknum meluapkan emosinya dengan menendang-nendang sepeda milik si bapak, padahal sepeda itu adalah alat utamanya untuk mencari sesuap nasi.

Warga yang melihat dan merekam kejadian ini merasa iba sekaligus geram.

Publik menilai tindakan ini sangat tidak manusiawi, mobil yang lecet bisa dicat ulang, tapi hati bapak tua yang diinjak-injak harga dirinya di depan umum sulit untuk diobati.

Seragam ASN yang melekat di tubuh mereka seolah tidak mencerminkan sikap pengayom, melainkan penguasa jalanan yang anti-kritik dan anti-senggol.

Padahal permasalahannya sepele hanya karena gesekan kecil antara keranjang bambu (ronjot) yang dibawa kakek pesepeda dengan mobil yang dikendarai oleh oknum ASN berseragam tersebut.

Bukannya menyelesaikan secara kekeluargaan, ketiga oknum justru membentak dan menendang sepeda kakek tersebut di depan umum.

Para pelaku ketiga oknum ASN merupakan pegawai di lingkungan Pemerintah Provinsi Lampung.

Pemerintah Provinsi Lampung menekankan bahwa perilaku tersebut tidak mencerminkan nilai Core Values ASN “BerAKHLAK” (Berorientasi Pelayanan, Akuntabel, Kompeten, Harmonis, Loyal, Adaptif, dan Kolaboratif).

Kasus ini kembali memicu diskusi mengenai pentingnya rendah hati bagi pemegang jabatan publik, mengingat mereka adalah pelayan masyarakat yang digaji dari pajak rakyat.

Setelah video tersebut viral dan mendapatkan kecaman luas, pihak Inspektorat Provinsi Lampung segera melakukan pemeriksaan ketiga oknum ASN ini.

Para oknum tersebut dikabarkan telah mendapatkan teguran keras dan sanksi disiplin sesuai dengan Peraturan Pemerintah tentang Disiplin Pegawai Negeri Sipil.

Pihak-pihak terkait telah melakukan pertemuan untuk proses mediasi dan permintaan maaf secara langsung kepada kakek tersebut.

Media sosial menjadi motor penggerak kasus ini hingga viral. Banyak warga yang menawarkan bantuan materi untuk memperbaiki atau membelikan sepeda baru bagi sang kakek.
.
Kejadian ini menjadi pelajaran mahal bahwa status sosial atau seragam tidak memberikan hak kepada siapa pun untuk merendahkan martabat orang lain, terutama rakyat kecil.

“Gila Hormat” seringkali membuat lupa bahwa gaji yang mereka terima berasal dari pajak rakyat, termasuk mungkin dari pajak yang dibayar lewat keringat bapak pesepeda bambu tersebut.

Kini, publik menanti sanksi tegas bagi ketiga oknum yang sok jagoan itu.

Peristiwa ini bukan tentang kecelakaan besar, melainkan hanya karena masalah “lecet” yang dibalas dengan penghinaan fisik dan verbal.

Kejadian bermula dari insiden sepele di jalan raya.

Leave a Reply