Jakarta, EDITOR.ID,- Lama tak kelihatan dihadapan publik, Ustaz kondang Yusuf Mansur tiba-tiba muncul dengan menawarkan jasa doa online berbayar. Jasa tersebut ia promosikan melalui video yang diunggah di media sosial. Dalam tayangan tersebut Ustaz Yusuf Mansur mempromosikan jasa kirim doa online berbayar. Video promosi pak Ustaz langsung viral dan menuai kontroversi warganet.
Dalam tayangan tersebut, pendakwah yang dikenal dengan dakwah sedekah dan motivator spiritual itu mengajak masyarakat berdonasi melalui aplikasi PayTren, baik dalam jumlah uang kecil maupun besar, dengan imbalan doa dari dirinya.
Jasa doa yang dijual Ustaz Yusuf Mansur sontak menuai tanggapan beragam dari masyarakat. Sebagian warganet mendukung inisiatif tersebut karena dianggap sebagai bentuk inovasi dakwah di era digital. Namun sebagian netizen menganggap komersialisasi doa tak pantas. Karena doa adalah hubungan manusia dengan Tuhan yang bersifat pribadi.
Ada juga netizen yang mengkritik dan menilai konsep doa berbayar dapat menimbulkan salah persepsi jika tidak dijelaskan secara terbuka. Artinya dijelaskan secara lebih transparan agar tidak disalahpahami.
Pihak manajemen PayTren menjelaskan bahwa program tersebut sebenarnya merupakan donasi sukarela, di mana sebagian dana yang terkumpul akan disalurkan untuk kegiatan sosial dan pesantren. Meski begitu, warganet tetap memperdebatkan etika dan batasan antara ibadah dan aktivitas komersial.
Karena dikemas dalam bentuk “layanan doa”, sebagian publik menilai hal itu berpotensi menimbulkan persepsi negatif.
Sosok Ustaz Yusuf Mansur, Pendakwah yang Rajin Bisnis
Ustaz Yusuf Mansur dikenal sebagai sosok yang aktif menggabungkan dakwah dan pemberdayaan ekonomi umat. Ia mendirikan program investasi berbasis syariah serta lembaga pendidikan untuk mencetak para hafiz Al-Qur’an muda.
Sebelum dikenal luas sebagai ustaz dan pengusaha, Yusuf Mansur pernah menempuh pendidikan agama di Pondok Pesantren Daarul Falah, Cilongok, Tangerang. Di sanalah ia mulai mendalami ilmu Al-Qur’an dan fikih yang kemudian menjadi dasar perjalanan dakwahnya.
Selepas dari pesantren tersebut, Yusuf Mansur aktif berdakwah di berbagai daerah dan membangun Pondok Pesantren Daarul Qur’an di Cipondoh, Tangerang. Dari sanalah ia mulai menekuni bidang dakwah dan pendidikan Al-Qur’an.
Lembaga itu kini berkembang menjadi jaringan pendidikan tahfiz Al-Qur’an di sejumlah kota besar di Indonesia dan bahkan telah memiliki cabang di luar negeri.
Selain itu, Yusuf Mansur juga dikenal lewat program Wisata Hati yang sempat populer di televisi nasional dan menjadikannya salah satu penceramah terkenal di Indonesia. Meski beberapa kali terseret kontroversi, ia tetap aktif berdakwah melalui media sosial dan berbagai kegiatan keumatan.
Meski kerap menuai kontroversi, Yusuf Mansur tetap memiliki pengikut setia yang menilai dakwahnya mampu memotivasi banyak orang untuk memperbaiki spiritualitas dan semangat berbagi. Ia juga aktif berdakwah melalui media digital seperti YouTube, Instagram, dan aplikasi keuangan syariah yang ia kembangkan.
Harapan Publik terhadap Dakwah di Era Digital
Kasus viral jasa doa online ini menjadi refleksi tentang bagaimana teknologi dan dakwah kini saling beririsan. Publik berharap para tokoh agama dapat memanfaatkan kemajuan digital dengan cara yang lebih bijak, transparan, dan tetap menjaga keikhlasan dalam berdakwah.
Perjalanan panjang Ustaz Yusuf Mansur, dari santri hingga menjadi tokoh nasional, menunjukkan bahwa dunia dakwah terus beradaptasi dengan zaman. Namun, kepercayaan masyarakat tetap menjadi kunci utama agar pesan dakwah dapat diterima dengan baik oleh umat.
Fenomena seperti jasa doa online ini juga menjadi refleksi bagaimana dakwah dan digitalisasi kini saling beririsan, membuka peluang baru sekaligus tantangan bagi para dai dalam menyampaikan ajaran agama dengan cara yang bijak dan bertanggung jawab. ***












