Jakarta, EDITOR.ID,- Mantan Duta Besar Republik Indonesia untuk Jepang 2013-2016, Yusron Ihza Mahendra hari ini meluncurkan tiga buku sekaligus. Peluncuran dan bedah buku ini bertema “Trilogi Refleksi 60 Tahun G30 SPKI”. Acara diselenggarakan di Kompas Institute.
Ketua Dewan Redaksi EDITOR.ID Asri Hadi turut hadir di acara ini dan juga memberikan perhatian yang sangat besar.
Kebetulan Asri Hadi dan Yusron Ihza sama-sama merupakan satu almamater saat menimba ilmu di FISIP Universitas Indonesia (UI). Selanjutnya Asri Hadi melanjutkan studinya ke Monash University di Australia dan Yusron Ihza lebih memilih kuliah ke Jepang.
“Saya mengapresiasi produktivitas Bapak Yusron Ihza dalam menelurkan buku-buku cerita atau novel berkualitas dan sarat makna,” ujar Asri Hadi disela-sela peluncuran buku.
Termasuk buku yang hari ini dilaunching. Asri Hadi menilai Yusron Ihza adalah tokoh yang mampu mengisahkan sejarah politik dan diplomasi dunia karena pengalaman sebagai wartawan dan Duta Besar.
Peluncuran dan bedah buku ini sekaligus memperingati sejarah Gerakan 30 September/ PKI yang sering ditulis dalam sejarah sebagai peristiwa kelam bagi bangsa Indonesia.
“Kita diajak menyingkap kabut propaganda, menafsir ulang sejarah, serta membuka ruang refleksi 60 tahun pasca-G30S/PKI,” ujar Asri Hadi.
Selain tokoh wartawan senior yang juga Bendahara Asosiasi Media Digital Indonesia Asri Hadi, juga hadir di acara ini Wakil Menko Hukum dan HAM Prof Dr Otto Hasibuan dan Mayjen Pol Purn Sidarto Danusubroto dan Ilham Aidit serta ahli sejarah Prof Asvi Warman. Juga terlihat hadir mantan Menteri Luar Negeri Hasan Wirayuda

Buku yang diluncurkan Yusron Ihza Mahendra terdiri atas tiga buku.
Buku pertama ditulis dalam gaya novel sejarah dengan judul “Irian Barat Bayang-Bayang Intrik Global di Balik Misteri Pembunuhan Kennedy”.
Novel ini mengaitkan peristiwa pembunuhan John F. Kennedy di Dallas pada tahun 1963 dengan intrik global yang melibatkan Perang Dingin, persaingan ideologi, serta kepentingan ekonomi korporat besar Amerika, termasuk yang terkait dengan Irian Barat (sekarang Papua).
Novel ini berlatar di era Perang Dingin, di mana Amerika Serikat dan Uni Soviet saling bersaing dalam berbagai aspek, termasuk pengaruh ekonomi dan politik global. Novel ini mencoba mengungkap tabir gelap di balik pembunuhan Presiden Kennedy, mengungkap dugaan adanya konspirasi politik yang lebih besar.
Judul novel secara eksplisit mengaitkan misteri pembunuhan tersebut dengan Irian Barat, menunjukkan keterlibatan elite intelijen dan korporasi besar Amerika dalam perebutan sumber daya dan kekuasaan di wilayah tersebut.
Novel ini menampilkan tulisan perpaduan antara sejarah dan fiksi. Meskipun berdasarkan kisah nyata dan peristiwa sejarah, novel ini juga mengandung unsur fiksi yang mencakup tema cinta, kebencian, kesetiaan, pengkhianatan, keberanian, dan kekuatan tekad.

Buku Berjudul “Nyanyian Bangsa Cacing Dalam Orkestra Dusta”.
Buku jenis novel sejarah yang kedua berjudul “Nyanyian Bangsa Cacing Dalam Orkestra Dusta”. Novel ini menggugat tesis resmi Orde Baru yang menuduh PKI sebagai dalang tunggal G30S. Dengan nyali yang tak gentar, ia menyuguhkan pembacaan ulang. Yaitu, bahwa G30S boleh jadi adalah kudeta yang dirancang untuk gagal—agar memberi dalih bagi kudeta yang sebenarnya.
G30S adalah sebuah operasi intelijen yang penuh dengan trik, intrik, kamuflase, dan tipu daya! Sebuah gugatan terhadap sejarah yang dibungkam, sebuah panggilan dari gema masa silam, gema dari nyanyian luka yang diabaikan.
Nyanyian Bangsa Cacing adalah novel ‘politiko-historis’ yang menyusuri lorong-lorong tergelap dalam sejarah Indonesia: tragedi G30S 1965 dan akibat panjangnya bagi kehidupan, terutama dalam pembentukan alam kesadaran bangsa ini.
Melalui tokoh utama Tam (Tamsil), seorang pencari kebenaran yang pulang dari perantauan, novel ini menyingkap tabir yang selama ini ditutup rapat oleh rezim melalui propaganda-propaganda dusta berbungkus bendera.
Seperti yang lazim terjadi, sejarah negeri ini pun ditulis oleh mereka yang menang dan berkuasa—termasuk kuasa untuk ‘menyunting’ sejarah sesuai kebutuhan mereka.
Tam bertemu tokoh-tokoh kunci: dari Mat Rusip, Pak Johan, Prof. Noval, hingga arwah D.N. Aidit, dalam perjalanan spiritual-rohaniah dan intelektual yang menyusuri frekuensi-frekuensi sejarah yang pernah dibungkam. Ia menggali dokumen tersembunyi, membuka testimoni yang dilupakan, dan menyusun ulang narasi yang tercerai berai oleh mesin sejarah yang manipulatif.
Dan buku ketiga berjudul “Nyanyian Bisu Dalam Orkestra Bayang-Bayang.”
Dalam bedah buku menampilkan pembahas penulis dan sejarawan senior Asvi Warman. Selain Asvi pembahas kedua dalam bedah buku adalah M Hilmi Faiq yang juga menjabat Kepala Desk Budaya Harian Kompas. Sebagai moderator adalah Innezdhe Ayang.

Profil Yusron Ihza
Mengutip dari Wikipedia, Yusron Ihza Mahendra, lahir 6 Februari 1958 adalah seorang politikus Indonesia. Dia juga terkenal sebagai seorang ilmuwan dan penulis. Tulisannya banyak berkisar pada masalah ekonomi, politik, dan pertahanan.
Yusron memulai kariernya sebagai peneliti di Tsukuba Advanced Research Alliance, Jepang, ketika ia melanjutkan pendidikan masternya. Di sana ia juga bertugas sebagai koresponden dan kepala perwakilan surat kabar Kompas serta pengamat ekonomi Asia Timur di stasiun televisi NHK. Setelah itu Yusron menjadi Konsultan Politik Departemen Kehakiman Jepang.
Sekembalinya dari Jepang, bersama abangnya Yusril Ihza Mahendra, ia mendirikan firma hukum Ihza & Ihza. Pada tahun 2002, ia ditunjuk pemerintah sebagai penasehat khusus Menteri Perindustrian dan Perdagangan Republik Indonesia Bidang Kerjasama Ekonomi dan Perdagangan Wilayah Asia Timur.
Mengikuti jejak abangnya, Yusron terjun sebagai politikus dan bergabung dengan Partai Bulan Bintang. Pada tahun 2004, ia terpilih sebagai anggota DPR-RI dari daerah pemilihan Bangka-Belitung. Di Partai Bulan Bintang, ia menjabat sebagai Ketua DPP pada periode 2005-2010 dan Wakil Ketua Umum untuk periode 2009-2014.
Selain di lingkungan partai, Yusron juga pernah menjabat beberapa jabatan penting. Antara lain sebagai Wakil Ketua Komisi I DPR RI Bidang Pertahanan (2004-2009) dan sebagai Ketua Liga Parlemen Indonesia-Jepang (2004-2009)
Pada tanggal 24 Desember 2013, Yusron dilantik presiden Susilo Bambang Yudhoyono menjadi Duta Besar RI untuk Jepang. (*)












