Tangerang Selatan, EDITOR.ID,- Kota Tangerang Selatan (Tangsel) kini mendapat julukan baru sebagai kota sampah. Disetiap sudut jalan gunungan sampah berhari-hari tak diurusi. Menggunungnya sampah di Tangsel membuat warga terganggu. Bau busuk menyengat disana sini.
Berdasarkan pemantauan EDITOR.ID di pasar Ciputat, sampah menggunung telah ditutupi terpal. Namun bau dan ulat kecilnya tetap bertebaran di jalan. Warga mencium bau busuk dan menyengat.
Tumpukan sampah yang menjulang tinggi di sepanjang Jalan Dewi Sartika dan bawah Flyover Ciputat telah menjadi mimpi buruk bagi warga Tangerang Selatan selama seminggu terakhir.
Dominasi sampah rumah tangga dan pasar ini disebabkan oleh penghentian sementara pengangkutan ke TPA Cipeucang yang sedang direnovasi.
Sejumlah warga mengeluhkan lambannya tanggapan atau gerak dari Pemkot Tangsel terkait penanganan sampah. Persoalan sampah tak pernah benar-benar tuntas. Sebelumnya masalah sampah horor juga sudah sering dikeluhkan warga Tangsel, pun demikian dengan pekan ini yang sudah menggunung.
Gunawan (45), warga Ciputat menyampaikan keluhan dan kekecewaannya atas kondisi ini yang dimulai sejak Jumat, 5 Desember 2025. “Sampah menumpuk sudah dari hari Jumat, hampir satu minggu, tidak diangkut karena TPA tidak boleh dibuang, dan tempat sampah pasar ditutup,” katanya di Ciputat.
Penumpukan sampah tersebar di enam titik utama sepanjang jalan tersebut, dengan kondisi terburuk di kolong flyover. Bau menyengat semakin parah saat hujan turun, membuat lalu lintas dan aktivitas sehari-hari terganggu.
Sementara angin membawa aroma tidak sedap yang semakin menyiksa, terutama dari sampah pedagang dan pembuangan liar. “Pasti angin datang bau sekali, apalagi hujan begini semakin parah baunya, ini sudah mengganggu sekali,” tutur Saiman, salah satu pedagang.
Kondisi serupa juga melanda Pasar Jombang dan Pasar Serpong, di mana sampah tidak terangkut menyebabkan penurunan estetika dan kebersihan. Kawasan padat ini kini menjadi sarang potensi penyakit akibat akumulasi limbah organik.

Pemkot Tangsel Minta Warga Sabar ya
Kepala Dinas Lingkungan Hidup Tangsel, Bani Kosyatullah, menjelaskan bahwa penataan terasering di TPA Cipeucang menjadi penyebab utama. “Sedang dilakukan penataan terasering di TPA Cipeucang untuk meminimalisir longsoran tiap kali hujan yang berdampak pada warga sekitar,” ujarnya melalui Instagram resmi Humas Kota Tangsel.
Menurut Bani, ketinggian sampah sebelumnya mencapai 7 meter, dan kini telah diturunkan menjadi 3-4 meter melalui proses ini. “Sekarang ini tinggal 3-4 meter, kita lakukan penataan ini karena jika tidak, akan berdampak pada pencemaran, dari baunya, longsor,” tambahnya.
Meski demikian, Pemkot Tangsel hanya meminta warga bersabar sementara proses penataan berlangsung, tanpa solusi jangka pendek yang memadai. DLH berjanji mempercepat koordinasi untuk mengangkut sampah darurat guna mengembalikan kenyamanan lingkungan bagi masyarakat.
TPA Cipeucang Harus Ditutup
Sementara itu, Direktur Jenderal (Dirjen) Cipta Karya Kementerian PU Dewi Chomistriana menjelaskan, kapasitas TPA Cipeucang yang hanya mampu menampung 400 ton sampah per hari memang perlu ditutup.
“Sedangkan untuk Tangsel sendiri, produksi sampahnya minimal 800 ton per hari dan maksimalnya sudah melebihi 1.000 ton per hari. Ya memang, TPA Cipeucang ini sudah tidak bisa menampung sampah yang ada di Tangsel,” tambah Dewi dalam kesempatan yang sama.
Sebelumnya, Pemerintah Kota (Pemkot) Tangsel menutup sementara TPA Cipeucang karena mereka sedang merencanakan untuk pembangunan beberapa landfill (TPA) baru, menata terasering.
Tumpukan sampah ini memang seharusnya dialihkan ke TPS3R dan TPST di beberapa lokasi di Tangsel.
“Dan Tangsel sendiri sekarang sudah mengusulkan untuk masuk di dalam program waste to energy yang dikoordinasikan oleh Kemenko Pangan, dan saat ini sudah masuk ke dalam WTE (waste-to-energy) tahap 3,” imbuh Dewi.
“Yang tahap 1 sudah ada, yang ini akan segera proses tanda tangan kontrak di tahun depan. Sedangkan Tangsel ini masih di dalam tahap evaluasi, termasuk untuk menentukan titik lokasi untuk (proyek) waste to energy-nya,” tuntas Dewi. ****












