Polisi Ungkap Hubungan Gelap AKBP Basuki dengan Dosen Cantik yang Tewas Tanpa Busana di Hotel

Kematian Dwinanda Linchia Levi dalam keadaan telanjang di kamar hotel mulai menemukan titik terang

AKBP Basuki (kiri) dan Dwinanda Linchia Levi (Kanan)

Semarang, Jawa Tengah, EDITOR.ID,- Misteri kematian Dwinanda Linchia Levi (35), dosen Pidana Fakultas Hukum Universitas 17 Agustus (Untag) Semarang semakin mulai menemukan titik terang. Kabar terbaru, diduga ada hubungan asmara tanpa ikatan perkawinan yang sah atau hubunan gelap antara dosen cantik ini dengan perwira Polri AKBP Basuki.

Kabid Humas Polda Jawa Tengah (Jateng) Kombes Artanto menjelaskan AKBP Basuki yang telah beristri dan berkeluarga itu disebut sudah menjalin hubungan terlarang dengan korban sejak 2020.

“Sudah (berkeluarga, red). Kalau inisial D itu masih gadis,” kata Artanto kepada wartawan, Kamis (20/10/2025) sebagaimana dikutip dari jpnn.com.

Menurut Kombes Artanto, hubungan asmara keduanya berujung dengan tinggal bersama di sebuah kos hotel (kostel) yang menjadi lokasi ditemukannya jasad korban.

“Yang jelas mereka ada komunikasi intens. Dan hubungan asmara itu memang benar, menurut pengakuan yang bersangkutan sejak 2020,” ujarnya.

Dwinanda Linchia Levi (35) ditemukan tewas tanpa busana, tergeletak di lantai kamar hotel Guest House & Kost Exclusive Mimpi Inn, di daerah Jalan Telaga Bodas Raya No.11, Kelurahan Karangrejo, Kecamatan Gajahmungkur pada Senin (17/11/2025) pagi.

Fakta-fakta pun terungkap setelah seorang perwira menengah Polri AKBP Basuki (56) menjadi saksi kunci kematian perempuan asal Purwokerto itu. Berikut fakta-fakta di balik hubungan gelap AKBP Basuki dengan dosen cantik tersebut.

AKBP Basuki dan Dwinanda Linchia Satu Kartu Keluarga

Menariknya, antara AKBP Basuki dengan korban ternyata satu Kartu Keluarga. Keduanya beralamat kependudukan tercatat sama, yakni di Perumahan Semawis Blok D.10, Kedungmundu, Kecamatan Tembalang, Kota Semarang.

Kombes Artanto menyebut bahwa perbuatan AKBP Basuki melanggar kode etik profesi Polri karena tinggal bersama perempuan tanpa ikatan perkawinan yang sah.

“Yang bersangkutan telah melakukan pelanggaran berupa tinggal bersama seorang perempuan berinisial D tanpa ikatan perkawinan yang sah. Itu merupakan pelanggaran berat karena berkaitan dengan kesusilaan dan perilaku di mata masyarakat,” ujarnya.

Sebelum Meninggal, Korban Melakukan Aktivitas Berlebih

Pihaknya belum bisa menjelaskan penyebab kematian dosen Untag dan juga hasil autopsi. Sebab, penyelidikan masih berjalan dan belum dilalukan gelar perkara.

“Nanti bisa dijelaskan kalau gelar perkara sudah dilaksanakan. Kalau sekarang disampaikan, nanti parsial dan penyidik belum menuntaskan pekerjaan,” katanya.

Sementara hasil autopsi terhadap jenazah korban menunjukkan adanya indikasi aktivitas berlebihan sebelum korban meninggal dunia. Autopsi dilakukan di RSUP Dr Kariadi Semarang.

Korban Konon Alami Pecah Pembuluh Darah Jantung

Perwakilan mahasiswa Untag Semarang, Antonius Fransiskus Polu menyampaikan bahwa telah memperoleh informasi mengenai adanya aktivitas fisik berlebih yang diduga menyebabkan pecahnya pembuluh darah jantung korban.

“Siang hari beliau sempat periksa. Beliau punya riwayat darah tinggi. Ketika kembali ke kos, ada aktivitas berlebih yang menyebabkan jantungnya pecah. Yang menjadi kejanggalan, posisi beliau ditemukan tergeletak tanpa busana,” ujar Frans di Mapolda Jawa Tengah, Rabu (19/11/2025).

Korban telah tinggal di kamar kos-hotel tersebut sejak sekitar dua tahun lalu. Belakangan korban mengalami sakit dan sempat dirawat di rumah sakit.

Korban tercatat berobat ke rumah sakit dua hari berturut-turut pada 15 dan 16 November 2025, dengan keluhan darah tinggi hingga tensi mencapai 190 serta gula darah mencapai 600.

Setelah kondisinya membaik, korban kembali ke kos-hotel. Malam harinya, dia sempat meminta tubuhnya dibaluri minyak kayu putih. Namun, pada keesokan harinya, korban ditemukan sudah tidak bernyawa.

AKBP Basuki Sempat Kirim Foto ke Keluarga Korban, tetapi Dihapus

Kakak korban, Perdana Cahya mengatakan komunikasi terakhir dengan adiknya terjadi pada Jumat (14/11/2025). Sementara kabar kematian adiknya baru diterima dari pihak kampus pada Selasa (18/11/2025).

“Kami ingin peristiwa ini terungkap secara transparan dan jelas,” kata Perdana yang akrab disapa Fian di kompleks Gubernur Jawa Tengah, Kamis (20/11/2025).

Fian menuturkan adiknya dikenal sebagai sosok tertutup mengenai urusan pribadi.

Oleh karena itu, Fian tidak mengetahui adiknya memiliki penyakit tertentu atau hubungan asmara dengan AKBP Basuki, yang disebut menjadi saksi kunci dalam kasus ini.

“Kurang begitu paham (apakah sakit, red), karena tak pernah cerita, termasuk terkait AKBP B itu,” ujarnya.

Setelah Dwinanda meninggal, AKBP Basuki sempat mengirimkan foto kepada kerabat lain di Purwokerto. Namun, foto tersebut mendadak ditarik atau dihapus sebelum sempat disimpan.

“Ini jadi kecurigaan. Sekilas fotonya ada darah di perut dan paha. Jadi, autopsi diharapkan bisa mengungkap kejanggalan penyebab kematian adik saya,” kata Fian.

AKBP Basuki Mendapat Sanksi Patsus 20 Hari

Perbuatan perwira menengah Pengendali Massa (Dalmas) Direktorat Samapta Polda Jawa Tengah dikategorikan telah melanggar kode etik profesi Polri karena diduga tinggal bersama seorang wanita tanpa ikatan perkawinan yang sah.

AKBP Basuki akan menjalani patsus di Rumah Tahanan (Rutan) Polda Jateng selama 20 hari, terhitung sejak 19 November hingga 8 Desember 2025.

Sanksi tersebut dijatuhkan setelah Bidang Profesi dan Pengamanan (Bid Propam) Polda Jawa Tengah menggelar pemeriksaan intensif dan gelar perkara kasus kematian dosen Untag itu.

AKBP Basuki Bantah Punya Hubungan Asmara dengan Dosen Cantik

Nama AKBP Basuki, Kasubdit Dalmas Ditsamapta Polda Jateng, seketika menjadi nama yang menghiasi pemberitaan setelah keberadaannya di lokasi memunculkan banyak tanda tanya.

Kondisi Levi yang ditemukan tanpa busana membuat spekulasi publik semakin liar, dan semua mata tertuju pada perwira berusia 56 tahun tersebut.

AKBP Basuki sebelumnya membantah keras jika dirinya punya hubungan asmara dengan korban. Perwira Polri Polda Jateng itu mengaku sudah tua. Hubungannya dengan Dwinanda hanya karena kasihan ditinggal meninggal orang tuanya. Makanya ia membantu Dwinanda dengan membiayai kuliahnya.

Basuki juga mengaku ia datang untuk menolong Levi yang disebutnya mengalami penurunan kondisi kesehatan sejak sehari sebelumnya.

Levi, menurutnya, telah lama berjuang dengan penyakit gula darah dan tekanan darah tinggi.

Ia juga menegaskan bahwa kondisi Levi yang tak mengenakan pakaian bukanlah hal yang berkaitan dengannya, melainkan efek tubuh korban yang disebut “kepanasan” menjelang ajalnya.

Tudingan adanya hubungan asmara pun dibantah keras. Basuki bersikeras bahwa kedekatan mereka tak lebih dari pertemanan.

Ia bahkan menyebut sering membantu Levi, termasuk soal biaya pendidikan S3-nya—pernyataan yang justru semakin menimbulkan rasa penasaran publik.

Jejak Digital Basuki dan Reaksi Netizen

Seiring namanya makin ramai diperbincangkan, netizen mulai menelusuri jejak digital sang perwira.

Salah satunya di unggahan akun Instagram @polrespemalang tertanggal 16 Juni 2025, yang memperlihatkan Basuki memimpin kegiatan asistensi dari Polda Jateng.

Keterangan dalam video tersebut menuliskan:

“Polres Pemalang Menerima Asistensi Dari Polda Jateng Yang Dipimpin Oleh AKBP Basuki S.pd, S.H, M.A.P Kasubdit Dalmas Polda Jawa Tengah. Senin, (16/06/2025). Kegiatan asistensi dalam rangka kesiapan lomba satuan Bidang Samapta di Wilayah Hukum Polda Jateng.”

Kolom komentar pun kini dipenuhi respons netizen yang juga menduka bahwa ia adalah sosok yang kini tengah ramai diperbincangkan.

“Owh bapak ini yang sedang viral,” komentar seorang netizen.

“Nitip sendal,” sahut yang netizen lain. ***

Leave a Reply