Settia

Pawai Anak TK Bercadar dan ‘Bersenjata’ Viral

Video pawai pelajar TK yang bercadar dan ‘bersenjata’ di Probolinggo. (sumber foto:detikcom)

EDITOR.ID, Probolinggo,- Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy turun langsung ke Kota Probolinggo menanggapi viralnya pawai budaya pelajar TK bercadar dan menenteng replika senjata laras panjang baru-baru ini.

Mendikbud tiba di Kota Probolinggo sekitar pukul 15.45 WIB. Ia pun langsung merapat ke Mapolresta Probolinggo.

Kedatangan Mendikbud langsung disambut oleh Kapolresta Probolinggo, AKBP Alfian Nurrizal, Dandim 0820 Letkol Depro Rio Saransi serta jajaran Dinas Pendidikan Kota Probolinggo.

Di hadapan Mendikbud, Kapolresta Probolinggo kemudian memberikan paparan kronologi tentang barisan pawai siswa TK Kartika V-69 yang mengenakan jubah, cadar dan ‘bersenjata’.

Dari hasil penelusuran polisi, foto barisan pawai TK Kartika V-69 yang viral di media sosial adalah foto yang tidak utuh, sebab itu hanyalah foto di barisan belakang. Secara kebetulan di sini digambarkan barisan tersebut mengenakan jubah, bercadar hitam dan membawa replika senjata.

“Ini foto yang terpotong. Jika dilihat secara utuh, menampilkan barisan yang menunjukkan simbol-simbol Islam dan kerajaan Arab Saudi,” terangnya kepada Mendikbud, Minggu (19/8/2018).

Hal senada juga diutarakan Dandim 0820 Probolinggo yang menaungi TK Kartika V-69. Dandim lebih merinci keterangan tentang kostum yang dipakai para siswa TK Kartika V-69 saat menjadi peserta pawai kemerdekaan RI yang menuai kontroversi.

“Kostum yang digunakan untuk pawai kali ini sebetulnya pernah dipakai saat lomba drum band lalu. Jadi kostum tersebut sudah dua kali diketahui publik,” ujar Letkol Depri Rio Saransi.

Setelah mendengarkan penjelasan Kapolresta dan Dandim 0820 Probolinggo, Mendikbud pun sepakat jika foto tersebut tidak memperlihatkan adanya unsur penyebaran paham radikalisme ataupun terorisme.

“Jadi kalo dilihat dari video barisan siswa TK Kartika saat pawai, tak ada menunjukkan sesuatu hal yang membahayakan,” tandas Mendikbud.

Meski demikian Mendikbud tetap mengimbau semua pihak, utamanya para guru dan kepala sekolah, agar selektif memilih sesuatu untuk anak-anak atau siswanya.

“Tentunya kita harus cermat memberikan sesuatu kepada anak ataupun siswa. Dan yang pasti ini menjadi pembelajaran bagi kita semua,” tegasnya sebagaimana dilansir dari detikcom.

Dalam kesempatan yang sama, Dandim 0820 kembali menyampaikan permintaan maaf lantaran kostum yang dikenakan sekolah binaannya menjadi kontroversi di tengah masyarakat.

“Sekali lagi saya sebagai pembina TK Kartika minta maaf sebesar-besarnya kepada masyarakat luas atas terjadinya keteledoran tersebut,” pungkasnya.

Aksi anak TK bercadar dan ‘bersenjata’ di pawai budaya peringatan HUT Kemerdekaan RI ke-73 di Kota Probolinggo menuai kekecewaan dari sejumlah pihak.

Salah satunya dari Ketua Majelis Ulama Indonesia cabang Kota Probolinggo, Nizar Irsyad. Menurutnya, pemilihan kostum dan atribut tersebut dirasa kurang tepat dikenakan saat mengikuti pawai memperingati hari kemerdekaan.

“Kami menyayangkan atas keteledoran TK Kartika V-69 yang sampai mengenakan kostum kurang tepat saat mengikuti pawai kemerdekaan,” tuturnya saat dihubungi detikcom, Minggu (19/8/2018).

Hal senada juga disampaikan organisasi kepemudaan di Kota Probolinggo seperti Gusdurian. Lukman Effendi, Koordinator Gusdurian Kota Probolinggo mengaku kaget dan kecewa atas terjadinya insiden tersebut.

Dijelaskan Lukman, seharusnya pihak sekolah memahami pakaian apa yang pantas dikenakan oleh muridnya saat mengikuti pawai kemerdekaan HUT RI yang seharusnya sesuai dengan tema Kebhinekaan dan budaya santun adat istiadat di Indonesia.

“Tentunya kami sebagai pemuda yang cinta tanah air kecewa atas kejadian tersebut. Tak sepantasnya anak sekecil itu mengikuti pawai dengan jubah bercadar sambil memegang replika senjata,” tegas Lukman.

MUI pun meminta agar polisi terus mengusut masalah tersebut dan bertindak tegas bila ditemukan unsur kesengajaan dalam insiden tersebut.

“Kita minta polisi bertindak tegas agar masalah semacam ini tidak terulang kembali, apalagi ini menyangkut masalah pendidikan anak-anak. Tentunya sangat rentan untuk perkembangan masa depan mereka,” jelas Nizar.

Namun di sisi lain, MUI mengapresiasi gerak cepat kepolisian untuk menjembatani persoalan ini.

“Saya pun berterima kasih kepada pihak kepolisian karena secara cepat menjembatani masalah itu hingga akhirnya ada klarifikasi dari pihak sekolah TK Kartika V-69,” katanya. (tim)

Leave a Reply