Oalaahh Roy Suryo Ternyata Peneliti Palsu, Jejaknya Dibongkar Wanita ini, Siapa Dia Mengejutkan!

Roy Suryo bukan melakukan penelitian demi ilmu pengetahuan, tetapi hanya ingin menciptakan kegaduhan. "Saya melihat beliau ini bukan ahli telematika asli, tapi palsu. Patut diduga beliau ini cuma mau bikin kacau," kata Irma.

Irma Suryani Chaniago Politisi Partai Nasdem (Kiri) dan Roy Suryo (Kanan)

Jakarta, EDITOR.ID,- Sosok politisi perempuan Partai Nasdem sedang mencuri perhatian publik. Pasalnya, ia berhasil membongkar dan menyebut jika Roy Suryo itu ternyata peneliti palsu. Politisi itu adalah Irma Chaniago. Pernyataannya membuat publik terkejut dan baru tahu jika Roy Suryo ternyata hanya seorang abal-abal yang mengaku sebagai peneliti.

Lantas siapakah sosok Irma Chaniago politisi Nasdem yang mengungkap jika Roy Suryo itu ternyata peneliti palsu yang disiapkan untuk meramaikan dan mengumbar isu bahwa Ijazah Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) palsu.

Selama ini Irma Suryani dikenal sebagai sosok yang berani bersuara lantang. Ia adalah sosok yang kritis dan selalu tajam dalam analisanya. Baru-baru ini, Irma mempertanyakan kompetensi dan keahlian Roy Suryo yang mengaku sebagai peneliti dan mengklaim meneliti ijazah Presiden Jokowi.

Irma Suryani Chaniago mengungkapkan kecurigaannya terhadap klaim keahlian Roy Suryo. Apakah betul Roy Suryo itu seorang peneliti atau hanya ingin mencari panggung di publik dengan mengumbar isu ijazah Jokowi.

“Saya malah curiga Roy Suryo bukan peneliti asli, peneliti palsu dia,” katanya tanpa ragu.

Irma Suryani meragukan keabsahan keahlian Roy di bidang telematika. Selama ini, telematika sering diklaim Roy sebagai bidang keahliannya.

Menurut Irma, Roy tidak pernah secara formal mengenyam pendidikan di ranah telematika seperti yang ia akui kepada publik.

Selama ini Roy selalu menyebut dirinya sebagai pakar telematika kepada publik.

Namun Irma mengklaim bahwa latar belakang pendidikan Roy tidak menunjukkan kaitan dengan telematika.

“Mengaku sebagai peneliti telematika sementara ijazah dia gak sesuai. Pendidikan dia bukan telematika. Siapa yang menobatkan dia sebagai ahli telematika?” kata Irma penuh tanda tanya.

Menurut Irma, justru ijazah Roy Suryo yang perlu diverifikasi lebih lanjut oleh pihak berwenang.

“Patut juga kita minta Puslabfor dan UGM meneliti Roy Suryo juga,” ucap Irma.

Diketahui bahwa Roy Suryo pernah menempuh pendidikan di Fakultas Ilmu Komunikasi UGM. Ia juga mengambil program S2 di bidang Ilmu Kesehatan Masyarakat di universitas yang sama. Roy bahkan mengaku telah menyelesaikan studi S3 di Universitas Negeri Jakarta (UNJ).

Namun Irma tetap pada pendiriannya bahwa Roy adalah ahli telematika palsu.

“Saya menuduh dia ahli telematika palsu,” ujar Irma menegaskan kembali.

Irma juga tak segan mengungkit kembali kasus lama Roy Suryo yang terkait dengan dugaan korupsi.

“Jadi ga usah juga terlalu banyak cerita. Panci mana panci. Mau bicara moral lho panci aja gak punya moral, mau bicara moral yang lain-lain,” ucap Irma dengan nada menyindir.

Menurut Irma, Roy Suryo bukan melakukan penelitian demi ilmu pengetahuan, tetapi hanya ingin menciptakan kegaduhan.

“Saya melihat beliau ini bukan ahli telematika asli, tapi palsu. Patut diduga beliau ini cuma mau bikin kacau,” kata Irma.

Roy Suryo Ngaku Meneliti Ijazah Jokowi

Dalam kasus tuduhan ijazah palsu Presiden Jokowi, Roy mengaku melakukan penelitian secara mandiri.

Roy mengatakan, dirinya terlibat sebagai peneliti independent dalam kasus tersebut atas permintaan pihak tertentu.

“Saya adalah peneliti independent yang sempat diminta untuk meneliti ini,” ujar Roy menegaskan.

Hasil dari penelitiannya menunjukkan, skripsi milik Presiden Jokowi diduga palsu. Karena skripsinya dianggap tidak asli, Roy pun meragukan keaslian ijazah Jokowi secara keseluruhan.

“Ibarat ayam dan telur,” katanya, mengibaratkan keterkaitan antara skripsi dan ijazah.

Namun demikian, hasil penelitian Roy tersebut ternyata sangat berbeda dengan hasil penyelidikan yang dilakukan oleh pihak berwenang.

Tim Laboratorium Forensik (Labfor) melakukan pemeriksaan menyeluruh atas dokumen akademik Presiden Jokowi.

Bareskrim Polri secara resmi menyatakan bahwa Jokowi benar-benar kuliah di Fakultas Kehutanan UGM. Jokowi tercatat kuliah di UGM sejak tahun 1980 hingga lulus pada 1985.

Pihak kepolisian juga menemukan dokumen pendukung seperti data KKN, skripsi, hingga bukti wisuda. Semua dokumen tersebut kemudian diuji oleh Labfor dan dinyatakan asli tanpa keraguan.

Dengan bukti-bukti yang kuat tersebut, Bareskrim memutuskan untuk tidak melanjutkan laporan TPUA. Laporan terkait tuduhan ijazah palsu akhirnya dihentikan karena tidak memiliki dasar hukum yang kuat.

Irma Suryani Chaniago menyatakan, memang tidak perlu proses hukum dilanjutkan.

“Tidak perlu,” tegas Irma saat diwawancara oleh TvOne.

Profil Irma Chaniago

Memiliki nama lengkap Irma Suryani Chaniago. Ia lahir di Metro, Bandar Lampung 6 November 1965.

Mengutip dari Wikipedia, Irma adalah politikus Partai NasDem yang menjabat sebagai anggota DPR-RI sejak 7 Desember 2021. Ia menggantikan Percha Leanpuri yang telah meninggal dunia pada 19 Agustus 2021.

Semasa mudannya, Irma Suryani Chaniago aktif di berbagai organisasi.

Melansir dari Tribunnews, ia pernah aktif di Sekretaris Jenderal (Sekjen) Serikat Buruh Maritim & Nelayan Indonesia (SBMNI) dan Ketua MPO Serikat Buruh Perkebunan Indonesia (SBPI).

Saat bergabung dengan Partai NasDem, Irma pernah menjabat sebagai Wakil Ketua DPP di tahun 2012. Saat ini, ia menjabat Ketua Bidang Kesehatan, Perempuan & Anak DPP Partai NasDem.

Jauh sebelum itu, Irma pernah menjadi ketua umum Serikat Buruh dan Nelayan Indonesia di tahun 2000. Lalu di tahun 2014 lalu, ia terpilih jadi anggota DPR RI untuk periode 2014 – 2019 dalam Pileg 2014 melalui Dapil Sumsel II.

Pendidikan dan Awal Karier

Irma menempuh pendidikan dasar di SD Tauladan Metro (1972–1979), lalu melanjutkan ke SMP Negeri III Palembang (1979–1982) dan SMA Negeri III Samarinda (1982–1985).

Ia kemudian menyelesaikan pendidikan diploma di bidang Manajemen di AMP/YKPN (1986–1990), serta memperoleh gelar S1 Manajemen dari STIE (1999–2001).

Karier profesionalnya dimulai di PT Pelindo sebagai Senior Staff (1992–1998).

Ia kemudian dipercaya menjadi Sekretaris Direktur Utama PT Pelindo 2 (1993–2000), serta menjabat sebagai Manajer di PT Jakarta International Container Terminal (JICT) Tanjung Priok (1998–2014).

Setelah itu, Irma menjabat sebagai Komisaris Independen di PT Pelindo 1 (2020–2021) dan kini menjabat sebagai Komisaris di PT Pelindo Holding.

Irma dikenal sebagai sosok yang aktif di berbagai organisasi.

Ia menjadi pendiri MPI sejak 2016, serta menjabat Ketua Umum di Garda Wanita NasDem dan Gemuruh NasDem (2014–2020).

Ia juga pernah menjadi Sekretaris Jenderal Kaukus Perempuan Parlemen RI (2014–2019), dan menjabat Wakil Sekjen di Ormas Nasional Demokrat serta Wakil Ketua DPP Partai NasDem sejak 2012.

Selain itu, ia memimpin berbagai organisasi perempuan seperti Indonesia Satu Women Club sejak 2005, dan pernah menjabat sebagai Sekjen Solidaritas Buruh Maritim dan Nelayan Indonesia (2004).

Irma juga aktif dalam pergerakan buruh dan nelayan, seperti menjadi Ketua Umum Serikat Buruh dan Nelayan Indonesia serta Sekjen Forum Komunikasi SP JICT pada periode 2000–2004.

Ia juga merupakan Dewan Pembina di SBPI.

Atas kiprahnya, Irma Suryani Chaniago telah menerima sejumlah penghargaan, termasuk sebagai Anggota DPR Terbaik dan Kader Terbaik Partai PNBK. (tim)

Leave a Reply