Jakarta, EDITOR.ID – Nafas baru Lengger Banjarwaru tampil di jantung Jakarta, mempertontonkan sisi eksklusivitas dan kehadiran sang Maestro (Riyanto) sebagai “Lengger Lanang” saat seni pertunjukkan tadisi lisan melintasi batas maskulin-feminin, simfoni tubuh Banjarwaru mengawali transmisi Maestro Lengger di Bentara Budaya.
Pertunjukan Lengger Tradisional Banjarwaru dan Lengger Lanang ini terbuka untuk umum dalam rangka memperingati Hari Tari Dunia 2026, diselingi diskusi dengan narasumber: Joned Suryatmoko, Riyanto (generasi penerus Lengger), Purnawan Andra, Selasa 05 Mei 2026. Acara berlangsung 14.00-17.30 WIB di Bentara Budaya Jakarta, Jl. Pal Merah Selatan No: 17. Jakarta.
Diskusi dan pertunjukan ini berfokus pada pelestarian serta re-interpretasi tari Lengger, sebuah warisan budaya tak benda yang kaya akan nilai sejarah dan filosofi gender.
Diskusi ini menghadirkan tiga sudut pandang berbeda (akademis, praktisi, dan birokrasi budaya) untuk membedah eksistensi Lengger di era modern.
Joned Suryatmoko dikenal sebagai peneliti teater dan praktisi seni. Ia kemungkinan besar akan membedah Lengger dari sisi “Tafsir” dan bagaimana tubuh penari menjadi ruang negosiasi identitas di atas panggung.
Riyanto yang merupakan maestro dan generasi penerus Lengger Lanang. Kehadirannya sangat krusial untuk bicara soal “Tubuh” dan pengalaman langsung (embodied knowledge) dalam menjaga tradisi lintas gender yang selama ini melekat pada Lengger Lanang.
Purnawan Andra mewakili perspektif dari Kemendikbudristek/pengamat budaya. Ia biasanya fokus pada bagaimana “Tradisi” dikelola, dilestarikan, dan diposisikan dalam kebijakan kebudayaan nasional.
Selain diskusi intelektual, pengunjung disuguhi pengalaman visual melalui dua bentuk penampilan Lengger Tradisional Banjarwaru, menampilkan pakem klasik Lengger.
Banjarwaru (Cilacap/Banyumas) memiliki karakteristik gerakan dan musik yang sangat spesifik, mewakili akar tradisi yang masih murni.
Lengger Lanang: Saat Tradisi Melintasi Batas Maskulin-Feminin
Lengger Lanang di pertunjukan oleh Maestro penari laki-laki (Riyanto) yang membawakan karakter perempuan. Ini adalah poin sentral dalam membicarakan dualitas (maskulin-feminin) dan spiritualitas dalam budaya Jawa.
Acara bertepatan dengan Hari Tari Dunia ini bukan sekadar hiburan, melainkan upaya memposisikan tari tradisional sebagai subjek dialog yang dinamis, bukan benda museum yang statis sekaligus mengedukasi masalah gender agar masyarakat memahami bahwa “Lengger Lanang” memiliki akar sejarah yang sangat mendalam, jauh sebelum isu gender menjadi perdebatan modern.
Selain dalam rangka memperingati Hari Tari Dunia, bertujuan pula untuk melestarikan secara aktif dalam mempertemukan maestro dengan publik urban di Jakarta, dan diharapkan memastikan transmisi pengetahuan tetap berjalan, sebagaimana tradisi Lengger ini bertahan di tengah gempuran budaya pop?
Penampilan Lengger Lanang Maestro Riyanto menghapus sekat gender lewat tubuh dan tradisi lisan. Pengunjung nampak puas disuguhi pertunjukan langka untuk melihat bagaimana sebuah tradisi “tubuh” dibedah secara intelektual sekaligus dirayakan secara artistik di salah satu kantong budaya paling prestisius di Jakarta tentunya berlangsung di Bentara Budaya. (*)












