EDITOR.ID – Jakarta, Dewasa ini, berita-berita bermuatan radikalisme dan intoleransi marak di berbagai media sosial. Hal ini dapat mempengaruhi pemikiran generasi muda. Sudah banyak contoh, anak-anak sekolah membully temannya lantaran ‘termakan’ ujaran kebencian.
Keprihatinan ini disampaikan Yuliana Zahara Mega Koordinator Gerakan Emak-Emak Pecinta Tanah Air (Gempita) di Jakarta, Jum’at (27/11/2020).
“Sebagai kaum perempuan dan ibu yang melahirkan generasi muda, kami sangat mengkhawatirkan anak-anak kami kehilangan jati diri bangsa ini yang dulu sangat terkenal dengan sopan santun dan keadaban dalam berperilaku,†ujarnya.
Menurutnya, lewat ujaran-ujaran yang bermuatan kebencian, radikalisme, dan intoleran di media-media sosial, telah mempengaruhi pemikiran generasi muda, sehingga bila ada temannya yang berbeda paham langsung dibully.
“Melalui Gempita, kami ingin mengajak ibu-ibu dan perempuan Indonesia untuk bisa melakukan pengawasan kepada anak-anaknya, terutama memberi nasihat agar tidak mudah termakan omongan-omongan yang tidak selayaknya,†kata Yuliana.
Tidak itu saja, Gempita juga mendukung pembubaran FPI yang telah lama meresahkan masyarakat serta mengancam persatuan dan kesatuan bangsa. “Kelompok ini, baik secara langsung maupun melalui media-media sosial selalu melontarkan hal-hal yang provokatif. Ini sangat tidak baik, terutama bagi generasi muda,†tukasnya.
Selain dibubarkan, Gempita sebagaimana dilansir Innews juga mendukung pihak kepolisian untuk memproses hukum kembali kasus-kasus yang selama ini tenggelam karena itu melukai rasa keadilan di masyarakat. Kasus-kasus yang dimaksud adalah Ceramah di Mega Mendung yang berisi ujaran kebencian, fitnah, menghasut, dengan kata-kata tidak pantas untuk diucapkan dalam forum pengajian.
Yuliana menegaskan, Gempita akan secara konsisten mendengungkan pentingnya peran ibu-ibu dalam mengawal generasi muda sehingga tidak terpapar paham-paham radikal dan ujaran-ujaran yang menghasut. “Kami tidak ingin generasi bangsa ‘dicuci otaknya’ dengan hal-hal yang membahayakan persatuan dan kesatuan bangsa,†pungkasnya. (Tim)












