Indonesia Impor Ikan dari China Rp 1 Triliun

  • Bagikan
Indonesia,Impor ikan

EDITOR.ID, Jakarta,- Ini sungguh miris sekali. Diam-diam untuk memenuhi kebutuhan, Indonesia ternyata mencatatkan impor ikan laut sangat besar dari China. Kondisi ini sangat kontradiksi dengan kasus pencurian ikan oleh Nelayan China di laut Natuna dan memanasnya hubungan Indonesia-China gara-gara nelayan negeri tirai bambu itu menggaruk jutaan ton ikan Indonesia secara ilegal.

Data Trademap menunjukkan bahwa impor berbagai macam jenis komoditas perikanan RI dari China nilainya mencapai US$ 71,6 juta atau setara dengan Rp 1 triliun dengan asumsi kurs Rp 14.000/US$. Jumlah tersebut setara dengan 25% dari total nilai impor sektor perikanan RI 2018 yang mencapai US$ 290,8 juta (Rp 4,07 triliun).

Pada periode 2014-2019 impor hasil perikanan RI terus mengalami pertumbuhan. Pada periode tersebut impor Indonesia telah naik 38 persen. Sementara pada periode yang sama total impor perikanan RI dari China mengalami fluktuasi dan cenderung naik 2 persen secara point-to-point.

Indonesia mengimpor berbagai macam hasil perikanan dari China mulai dari ikan hidup, ikan beku, ikan segar, crustacean, moluska, hingga ikan yang sudah diolah.

Impor terbesar hasil perikanan Indonesia dari China adalah ikan yang dibekukan. Nilainya mencapai US$ 61,9 juta pada 2018. Bahkan pada 2017 jumlahnya lebih tinggi dari itu, mencapai US$ 77,3 juta.

Proporsi ikan beku yang diimpor dari China mencapai 41% dari total impor ikan beku Indonesia pada 2018. Tercatat impor ikan beku Indonesia dari China periode 2014-2018 telah tumbuh 11%.

RI juga mengimpor crustacean dan moluska dari China. Walau nilainya tak sebesar ikan beku, tetapi dua komoditas ini menjadi dua hasil perikanan yang nilai impornya masuk tiga terbesar.

Pada 2018 saja data Trademap menunjukkan impor crustacean RI dari China mencapai US$ 4,6 juta sementara untuk moluska mencapai US$ 4,8 juta.

Indonesia tercatat mengalami kontraksi nilai impor untuk komoditas crustacean dari China sebesar 19% sepanjang 2014-2018. Namun pada periode yang sama impor moluska seperti cumi-cumi justru mengalami lonjakan yang tajam hingga 37% secara point to point, walau sempat anjlok di tahun 2015-2016.

Secara keseluruhan, proporsi impor ikan beku dan moluska dari China memiliki kontribusi yang signifikan jika dibandingkan dengan total nilai impor dua komoditas tersebut. Sebagai catatan China memasok 41% kebutuhan ikan beku dan 49% kebutuhan moluska impor ke Indonesia.

Besarnya angka impor itu disebut-sebut memang harus dilakukan. Menurut Wakil Ketua Umum Kelautan dan Perikanan Kamar Dagang Industri (Kadin) Indonesia Yugi Prayanto, keputusan impor ikan disebabkan kebutuhan yang mendesak. Jika tidak memilih impor, maka kerugian yang dirasa bisa menjadi lebih besar bagi industri olahan ikan.

“Kita impor saya pernah dengar dari India, mungkin ada dari China. Keperluan itu adalah untuk industri pengolahan dalam negeri karena mereka (industri pengolahan), dari 660 unit pengolahan ikan itu kekurangan pasok, karena ikan di negeri kita (terbatas),” kata Yugi sebagaimana dilansir dari CNBC Indonesia, Kamis (9/1/2020).

Kapal besar jenis Pukat Harimau milik nekayan China sangat rajin menyisiri wilayah perairan di Indonesia. Tak terkecuali laut Natuna. Wilayah perairan ini memang punya potensi sumber daya ikan yang besar, sehingga wajar jadi incaran para pencuri ikan dari kapal-kapal asing.

Deputi I Kemenko Kemaritiman dan Investasi Purbaya Yudhi Sadewa menyebut, perairan Natuna menyimpan potensi 1 juta ton ikan per tahun di wilayah pengelolaan perikanan Indonesia (WPP-RI) 711.

“Di kawasan Natuna yang direbut, 500 ribu ton per tahun, ini hanya ikan” katanya di Jakarta, Selasa (7/1/2020).

Sayangnya dari potensi yang besar itu, Indonesia masih bergantung dengan ikan impor, terutama dari China. Setidaknya hingga 2018 China termasuk salah satu pemasok komoditas sektor perikanan di Indonesia. (tim)

 26 Total Pengunjung,  1 Pembaca Hari ini

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan