Pontianak, EDITOR.ID – Misteri “Ruai” tempat di mana garis dunia nyata dan gaib menipis. Di bawah naungan atap Rumah Betang yang megah menembus batas dunia. Ketika roh leluhur bertamu ke Rumah Panjang. Ritual ini bukan sekadar pesta melainkan tabir rahasia di balik ritual ‘Miring‘ suku Dayak.
Terdengar alunan dentuman Gong mengiringi awal prosesi, suara instrumen yang dipercaya sebagai bahasa yang dimengerti oleh para roh, tradisi lisan Dayak di Kalimantan dalam sejarah tidak hanya ditulis tetapi di LISAN kan melalui mantra dan gerak ritmik yang melampaui zaman.
Kemegahan ritual suku Dayak Kalimantan di jumpai variasi ritual dari berbagai suku adat lainnya seperti Pesta Menuai (Harvest Festival), khususnya yang umum dilakukan oleh sub-suku Dayak Iban, Bidayuh, atau Kenyah di wilayah Kalimantan (Borneo).
Ritual ini bukan sekadar pesta, melainkan sebuah bentuk komunikasi sakral antara dunia manusia dan dunia roh biasanya berlangsung di rumah Panjang (Rumah Betang) sebagai Pusat Semesta.
Bagi suku Dayak, Rumah Panjang bukan sekadar tempat tinggal. Ia adalah simbol pemersatu dan pusat kehidupan spiritual. Ritual dilakukan di Ruai (serambi umum), di mana seluruh penghuni rumah dan tamu berkumpul. Di sinilah garis batas antara dunia fisik dan dunia gaib dianggap menipis selama upacara berlangsung.
Ritual diawali dengan pidato penyambutan sang pemimpin berupa mantra-mantra nasihat merupakan bagian dari Tradisi Lisan sambutan yang anggun dan diplomatis. Ini menunjukkan keramah-tamahan suku Dayak.
Darah Penyuci dan Tuak Persaudaraan: Sisi Sakral Kehidupan Dayak
Adegan upacara adat tradisional melibatkan penghormatan kepada roh, seorang pria yang bertindak sebagai kepala rumah tangga sedang memelintir leher Ayam dalam sebuah ritual ditengah-tengah perkumpulan orang.
Darah ayam dianggap sebagai alat penyucian untuk membersihkan diri dari sial atau pengaruh negatif.
Ritual ini bertujuan untuk memohon kebaikan dari dunia roh didahulukan menyampaikan mantra-mantra yang anggun kepada para tamu.
Mantra/Sampi
Setelah sambutan, pemimpin ritual (sering disebut Tuai Rumah atau Penyampat) akan melafalkan mantra dalam bentuk tradisi lisan yang puitis.
Tujuan mantra ini berfungsi untuk memanggil roh leluhur (Petara atau Sangiang) dan meminta perlindungan agar roh-roh jahat tidak mengganggu jalannya acara.
Kemudian dilanjutkan dengan ritual korban berupa Ayam. Elemen memelintir leher ayam atau menyembelih ayam (sering disebut ritual Miring dalam tradisi Iban) memiliki makna yang sangat dalam
Di hadapan para hadirin, tersaji berbagai hidangan makanan dan minuman yang digunakan sebagai persembahan formal dalam upacara tersebut.
Bagi masyarakat Dayak di jantung Pulau Borneo kini Kalimantan, perayaan seperti Pesta Menuai (Harvest Festival) bukanlah sekadar seremoni musiman atau ajang pesta pora. Ritual ini adalah sebuah fragmen kosmis di mana dimensi fisik dan metafisik melebur menjadi satu. Baik itu dalam tradisi lisan suku Dayak Iban, tradisi lisan suku Dayak Bidayuh, maupun tradisi lisan suku Dayak Kenyah, ritual ini berdiri sebagai jembatan komunikasi sakral antara manusia dengan para penjaga alam.
Di pusat semesta mereka masyarakat Dayak berkumpul di Rumah Panjang sebagai wujud garis batas antara yang nyata dan yang gaib menipis. Mereka memulai sebuah perjalanan spiritual untuk menghormati tanah yang memberi kehidupan dan roh yang memberi restu.
Sesaji dan hidangan formal setelah ritual penyembelihan, dilakukan penyajian sesaji yang disebut Piring. Isinya biasanya meliputi: Nasi Ketan yang dimasak dalam berbagai warna.
Sirih Pinang, Telur, dan Penganan Tradisional: Disusun rapi sebagai jamuan untuk para roh.
Meski bagi orang awam ritual ini terlihat mistis, bagi masyarakat Dayak, ini adalah cara mereka menjaga harmoni atau keseimbangan alam (ekosistem spiritual).
Upacara ini bertujuan untuk memastikan bahwa hubungan antara manusia, alam, dan pencipta tetap terjaga dengan baik.
Beberapa fakta yang jarang diketahui orang awam diantaranya mengenai filosofi “Piring” (Sesaji) yang maknanya sangat mendalam.
Dalam ritual Piring, jumlah piring sesaji tidaklah sembarang. Biasanya menggunakan hitungan ganjil (3, 5, 7, hingga 9) tergantung pada tingkat kepentingan upacara. Angka 7 sering dianggap yang paling sakral untuk memanggil roh leluhur tingkat tinggi.
Makna di Balik Warna Nasi Ketan
Nasi ketan berbagai warna. Secara tradisional, ada tiga warna utama (Tritunggal) yang melambangkan alam semesta. Warna “Putih‘ melambangkan kesucian dan alam atas. Warna “Merah” melambangkan kehidupan, darah, dan keberanian (alam manusia). Dan warna “Hitam/Kuning‘ melambangkan perlindungan dari kekuatan gelap atau simbol kemakmuran bumi.
“Kotek” Bulu Ayam sebagai Antena Spiritual sebagai Medium Komunikasi
Bulu ayam yang dicelupkan ke darah sering digunakan untuk memercikkan berkat kepada para hadirin.
Persembahan ini adalah bentuk pengorbanan kecil untuk menyenangkan para penghuni dunia roh agar mereka memberikan kebaikan, kesehatan, dan panen yang melimpah.
Bulu ayam bukan sekadar alat pemercik. Dalam keyakinan tertentu, bulu ayam yang ditegakkan di atas sesaji berfungsi sebagai “antena” untuk menangkap getaran doa agar sampai ke langit, sekaligus sebagai tanda bagi roh bahwa persembahan telah siap.
Etika Tuak (Adat Minum)
Minuman fermentasi beras yang wajib ada sebagai simbol persaudaraan. Jika menolak minuman tuak saat ritual dianggap kurang sopan atau “tulah” (sial). Namun, ada cara diplomatis untuk menolaknya, yaitu dengan menyentuh gelas tersebut dengan jari (disebut Colek) sebagai tanda menghormati pemberian tanpa harus meminumnya.
Konsep “Dingin” (Cooling Down)
Tujuan akhir dari semua ritual Dayak adalah menciptakan kondisi “Dingin” (Singkap/Mendingin). Dalam filosofi Dayak, konflik, penyakit, dan gagal panen dianggap sebagai kondisi “Panas”. Ritual penyembelihan dan pembersihan bertujuan mendinginkan kembali jagad raya agar kehidupan berjalan harmonis
Perbedaan Nama Berdasarkan Wilayah
Tergantung pada lokasi spesifiknya di Kalimantan, upacara dengan ciri-ciri tersebut memiliki nama berbeda:
Sarawak/Kalbar (Iban): Disebut ritual Miring dalam perayaan Gawai.
Kalteng (Ngaju): Sering dikaitkan dengan ritual Memapas Sakit atau bagian dari upacara Tiwah (meski Tiwah lebih fokus ke kematian).
Kaltim (Kenyah/Bahau): Sering disebut sebagai bagian dari ritual Lali atau Hudoq.
Saat mantra terakhir selesai dilantunkan dan darah penyucian telah dipersembahkan, suasana tidak lantas sunyi.
Keheningan itu segera pecah oleh dentuman agung suara Gong yang menggetarkan lantai kayu Rumah Betang, disusul oleh lentingan dawai Sape yang menyayat sekaligus menenangkan. Bagi telinga awam, itu mungkin sekadar musik tradisional, namun bagi suku Dayak, instrumen-instrumen ini adalah “bahasa langit”.
Getaran dawai Sape dipercaya sebagai frekuensi suci yang mampu menembus awan, menjadi pemandu jalan bagi para Petara dan roh leluhur untuk turun dan hadir di tengah-tengah manusia.
Suara-suara inilah yang memastikan bahwa setiap doa tidak hanya terhenti di bibir, tetapi sampai ke telinga sang pencipta, menjaga harmoni abadi antara manusia, alam, dan ekosistem spiritual yang menjaga nafas Kalimantan tetap hidup. Alunan musik tersebut adalah “penghubung” terakhir yang mengunci seluruh rangkaian ritual. (*)












