Geger Dua Putra Rebutan Tahta Raja Solo, KGPH Mangkubumi vs KGPAA Hamengkunegoro, Raja Kembar Jilid II ?

Putra tertua mendiang Paku Buwono XIII, KGPH Mangkubumi, mengklaim diri dan dinobatkan sebagai raja Keraton Solo Paku Buwono XIV. Penobatan tersebut dilakukan saat pertemuan kerabat Keraton Solo di Sasana Handrawina Kamis kemarin.

Dua Putra Raja Berebut Tahta Ingin Kuasai Keraton Solo, KGPAA Hamankunegoro (Kiri) dan KGPH Mangkubumi (Kanan)

Jakarta, EDITOR.ID,- Perebutan tahta seolah menjadi dosa turunan perjalanan sejarah Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat atau Keraton Solo. Sejak masa Belanda hingga Indonesia merdeka, Keraton Solo tak pernah lepas dari konflik suksesi antar bangsawan pewaris raja.

Sejarah terus berulang. Rebutan tahta menjadi bagian dari dinamika dari generasi ke generasi. Konflik terbaru terjadi pada generasi ke-14 saat ini. Perebutan tahta kembali memanas di kerajaan ini.

Hanya beberapa hari usai Raja Paku Buwono XIII meninggal dunia, dua putra beda ibu dari almarhum, terlibat konflik “memanas”, saling berebut tahta demi menjadi penguasa Keraton Solo. Bertarung antara putra tertua KGPH Mangkubumi melawan putra termuda KGPAA Hamengkunegoro atau disapa Gusti Purbaya.

Rapat Keraton Solo, KGPH Mangkubumi Dinobatkan Jadi Pakubuwono XIV

Putra tertua mendiang Paku Buwono XIII, KGPH Mangkubumi, mengklaim diri dan dinobatkan sebagai raja Keraton Solo Paku Buwono XIV. Penobatan tersebut dilakukan saat pertemuan kerabat Keraton Solo di Sasana Handrawina Kamis kemarin.

Adik Paku Buwono XIII, GRAy Koes Murtiyah Wandansari, mengatakan bahwa dalam pertemuan dengan putra-putri Paku Buwono XII dan Paku Buwono XIII itu ada penobatan Mangkubumi sebagai Paku Buwono XIV.

“(Tadi sempat ada penobatan?) Iya, penobatan Paku Buwono XIV,” katanya ditemui di Keraton Solo, dilansir detikJateng, Kamis (13/11/2025).

Perempuan yang akrab disapa Gusti Moeng itu menambahkan pihaknya berpegang teguh pada hak dan kehendak Allah. Menurutnya, Mangkubumi yang ditunjuk sebagai Paku Buwono XIV tidak meminta dilahirkan terlebih dahulu dari adik laki-lakinya.


KGPH Hangabehi ditetapkan sebagai Paku Buwono (PB) XIV dalam Rembug Keluarga Keraton Solo, Kamis (13/11/2025). Foto/Ist

Paku Buwono XIII Tak Punya Permaisuri, Anak Laki Tertua Merasa Punya Hak

“Kami berpegang pada yang jenenge hak. Itu kan Gusti Allah sing maringi. Gusti Bei yang sekarang Paku Buwono XIV kan tidak minta kepada Allah untuk dilahirkan lebih tua daripada Purboyo, ya itu kehendak Allah dan sudah ditekankan, dijadikan paugeran bahwa kalau nggak punya permaisuri, ya sudah anak laki-laki tertua,” ungkapnya.

Pihaknya sendiri mengaku kaget dengan deklarasi yang dilakukan oleh KGPAA Hamangkunegoro sebagai Paku Buwono XIV sebelum mendiang Paku Buwono XIII diberangkatkan dari rumah duka.

“Kami sendiri sebetulnya juga kaget kejadian yang waktu mau nutup peti itu kok tiba-tiba melangkah seperti itu,” ucapnya.

KGPAA Hamengkunegoro Lebih Dulu Deklarasi Jadi Raja Saat Pemberangkatan Alm PB XIII

Pernyataan dan pengukuhan diri menjadi Paku Buwono (PB) XIV justru didahului oleh putra PB XIII, KGPAA Hamengkunegoro. Sebelumnya pangerang yang akrab disapa Gusti Purbaya lebih dulu mendeklarasikan diri sebagai Paku Buwono (PB) XIV sebelum KGPH Mangkubumi deklarasi.

Deklarasi ini dilakukan Gusti Purbaya saat pemberangkatan jenazah Raja Paku Buwono XIII dari Keraton ke Makam Raja-raja Mataram di Imogiri, Yogyakarta, Rabu (5/11/2025).


KGPAA Hamengkunegoro (Gusti Purbaya) mendeklarasikan diri sebagai Paku Buwono (PB) XIV menjelang prosesi pemberangkatan jenazah PB XIII di Keraton Solo, Rabu (5/11/2025). Foto/Ist

Berikut pernyataan deklarasi dan klaim Gusti Purbaya bahwa dirinya akan dinobatkan jadi Raja Keraton Solo, Paku Buwono XIV:

“Mundhi dhawuh Sabda Dalem Sampéyandalem Ingkang Sinuhun Kangjeng Susuhunan Pakoe Boewono Tigawelas lumantar Kintaka Rukma Kekeraning Sri Nata Kasunanan Surakarta Hadiningrat, INGSUN Kanjeng Gusti Pangéran Adipati Anom Hamangkunegoro Sudibya Rajaputra Naréndra Mataram, ing dina iki, Rebo Legi, patbelas Jumadilawal tahun Dal sèwu sangangatus sèket sanga, utawa kaping lima Nopèmber rong èwu selawé, hanglintir kaprabon Dalem minangka SRI SUSUHUNAN Karaton Surakarta Hadiningrat, kanthi sesebutan SAMPÉYANDALEM INGKANG SINUHUN KANGJENG SUSUHUNAN PAKOE BOEWONO PATBELAS,” kata Gusti Purbaya dalam Bahasa Jawa.

Langkah Gusti Purbaya mengumumkan dirinya sebagai Sinuhun PB XIV mendapat dukungan dari kakak tertuanya, GKR Timoer Rumbai Kusuma Dewayani.

Ia menegaskan bahwa langkah sang adik untuk mengambil sumpah di hadapan jenazah ayahnya adalah bentuk penghormatan dan pelestarian adat yang sudah berjalan sejak zaman leluhur.

“Apa yang dilakukan Adipati Anom, Kanjeng Gusti Pangéran Adipati Anom Hamangkunegoro adalah sesuai adat Kasunanan. Dulu juga pernah terjadi di era para leluhur raja sebelumnya. Sumpah di hadapan jenazah ayahanda adalah simbol kesetiaan, bukan pelanggaran adat. Justru inilah cara kita menjaga kontinuitas kepemimpinan di Keraton,” ujar GKR Timoer.

Dia menegaskan, dengan dengan diucapkannya sumpah tersebut maka Keraton Solo tidak mengalami kekosongan kekuasaan. Segala prosesi adat dan tanggung jawab pemerintahan Keraton Solo tetap berjalan di bawah pimpinan raja baru, PB XIV.

Dua Putra Berebut Takhta, Raja Kembar Jilid II di Depan Mata

Klaim kubu dari Gusti Purbaya membuat kubu dari putra tertua KGPH Mangkubumi meradang. Suasana Keraton Solo pun kian memanas pasca-mangkatnya Raja.

Maha Menteri Keraton Solo, KGPA Tedjowulan menyatakan bahwa telah terjadi kekosongan kekuasaan Keraton Solo sejak PB XIII mangkat pada Minggu 2 November 2025. Namun, menurutnya terlalu dini untuk menyatakan siapa pemegang tahta berikutnya.

“Walaupun ada yang sudah menyebutkan nama-nama, kami belum menetapkan siapa yang akan menjadi Raja Keraton Surakarta berikutnya,” kata Tedjowulan.

Dia menegaskan, untuk sementara Maha Menteri (dirinya) akan menjalankan fungsi ad interim hingga penerus Paku Buwono XIII dinobatkan. Ini sesuai amanat SK Menteri Dalam Negeri nomor 430-2933 Tahun 2017 tentang Penetapan Status dan Pengelolaan Keraton Kasunanan Surakarta.

Khususnya pada klausul kelima, yaitu Kasunanan Surakarta dipimpin oleh ISKS Paku Buwono XIII dan didampingi Maha Menteri Kangjeng Gusti Panembahan Agung Tedjowulan dalam melaksanakan pengelolaan Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat berkoordinasi dengan Pemerintah, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, dan Pemerintah Kota Surakarta.

“Selain itu, saya akan mengumpulkan para putra dalem ISKS Paku Buwono XII, yaitu saudara-saudara kandung ISKS Paku Buwono XIII, dan merangkul Putra dalem ISKS Paku Buwono XIII untuk menyatukan pandangan tentang masa depan Keraton Surakarta,” kata Tedjowulan.

KGPAA Hamengkunegoro Akan Menobatkan Diri Jadi Raja pada 15 Nopember Besok

Internal di lingkungan Keraton Solo semakin memanas ketika kubu Gusti Purbaya akan menggelar kegiatan penobatan Raja atau Jumeneng Dalem Nata Binayangkare SISKS Pakoe Boewono XIV, Sabtu pagi 15 November 2025.

“Menanggapi berbagai pertanyaan dan konfirmasi yang masuk, kami menyampaikan bahwa surat resmi mengenai pelaksanaan Hajad Dalem Jumenengan Dalem Nata Binayangkare SISKS. Pakoe Boewono XIV yang beredar adalah benar dan sah dikeluarkan oleh Panitia Jumengeng Dalem Nata Binayangkare Karaton Kasunanan Surakarta Hadiningrat,” ujar GKR Timoer Rumbaikusuma Dewayani, putri tertua PB XIII sekaligus ketua panitia acara.

“Kami memohon doa restu dan dukungan seluruh masyarakat Surakarta serta rakyat Nusantara agar prosesi adat ini berjalan lancar, khidmat, dan penuh berkah. Mari kita sambut raja baru dengan suasana damai, rukun, adem ayem, dan penuh rasa hormat sebagaimana nilai-nilai luhur warisan Karaton Surakarta,” ucapnya.

Rembug Keluarga Tetap Ngotot KGPH Mangkubumi yang Jadi Raja

Di sisi lain, digelar Rembug Keluarga Keraton Solo pada Kamis (13/11/2025). Rembug keluarga digelar di Sasana Handrawina kompleks Keraton Solo dipimpin Maha Menteri KGPA Tedjowulan dan dihadiri sekitar 90 undangan yang terdiri atas putra-putri almarhum PB XII, para sentono dalem, abdi dalem, serta perwakilan pokoso.

Adik mendiang Raja PB XIII, GRAy Koes Murtiyah Wandansari (Gusti Moeng) menegaskan bahwa pertemuan bertujuan menyatukan keluarga besar dan menjaga kelestarian Keraton Solo.

Dalam pertemuan, juga menetapkan Kanjeng Gusti Pangeran Haryo (KGPH) Hangabehi sebagai raja penerus tahta Solo bergelar Paku Buwono (PB) XIV.

“Agar keributan yang dahulu-dahulu menjadi satu dan kita bersama-sama memiliki niat menyatukan keluarga serta melestarikan keraton. Tadi juga sepakat untuk menobatkan KGPH Hangabehi sebagai PB XIV,” ujar Gusti Moeng.

Keputusan mengangkat KGPH Hangabehi sebagai PB XIV, lanjutnya, didasarkan pada paugeran keraton, yakni karena ia merupakan putra laki-laki tertua mendiang PB XIII.

“Kami berpegang pada hak bahwa Gusti Behi (KGPH Hangabehi) dilahirkan lebih tua dari KGPH Purboyo. Sesuai paugeran, jika tidak ada permaisuri, maka anak laki-laki tertua yang berhak naik takhta,” jelasnya.

Terkait status permaisuri mendiang PB XIII dan pengangkatan KGPH Purboyo sebagai Putra Mahkota KGPAA Hamangkunegoro, Gusti Moeng menegaskan pihaknya sejak awal tidak mengakui hal tersebut. Hasil rembug keluarga ini telah dibawa KGPA Tedjowulan untuk disampaikan kepada pemerintah.

“Ini bukan berarti pemerintah cawe-cawe, tetapi kami yang meminta agar negara hadir demi kelestarian keraton,” tegasnya.

Kisruh kepemimpinan di Keraton Solo saat ini, kembali mengingatkan peristiwa serupa saat suksesi Raja PB XIII pada tahun 2004 silam yang saat itu memunculkan raja kembar. ***

Leave a Reply