EDITOR.ID, Jakarta,- Saat beroperasi sebagai perusahaan penerbangan kelas atas, Thai Airways justru merugi terus. Pemerintah sebagai pemilik terpaksa tekor membayari direksi dan manajemen jutaan rupiah. Namun maskapai ini tetap saja mengalami kesulitan keuangan hingga akhirnya dibangkrutkan saja daripada membebani keuangan.
Tapi setelah bangkrut dan pemilik memutuskan banting stir jualan gorengan di pinggir jalan. Usaha baru perusahaan penerbangan itu justru telah menghasilkan keuntungan hingga 10 juta Baht (Rp 4,7 miliar) perbulan. Sangat luar biasa.
Semua kru diajari berdagang gorengan. Daripada merugi terus. Bahkan maskapai ini dinyatakan bangkrut dengan total utang 332,2 miliar baht (Rp 157 triliun).

Maskapai penerbangan Thai Airways itu kini jualan gorengan bernama patong-go. Gorengan yang diberi nama Patong Go ini hasil olahan sendiri para mantan kru pesawat. Gorengan ini sejenis roti goreng atau cakwe yang per bulannya bisa menghasilkan omzet sekitar 10 juta baht (Rp 4,7 miliar).
Untungnya, peralihan bisnis ini cukup menjanjikan. Pejabat presiden Thai Airways, Chansin Treenuchagron mengatakan bahwa gorengan Patong Go sangat populer sampai orang-orang rela antre panjang membelinya tiap pagi.
“Orang-orang antre panjang untuk membelinya setiap pagi di lima gerai makanan milik kami di Bangkok,” kata dia dikutip dari Bangkok Post Jumat (2/10/2020).
Setiap kotak seharga 50 baht (Rp 23.600). Setiap kotak berisi tiga gorengan dan sebungkus saus celup yang terbuat dari ubi ungu dan telur custard.
Karenanya, mereka pun berencana mewaralabakan usaha penjualan sejenis gorengan itu dengan mitra.
Patong go adalah sejenis gorengan yang terbuat dari adonan tepung. Bentuknya mirip cakwe di Indonesia. Setiap kotak 50 baht (Rp 23 ribu) berisi tiga batang adonan goreng dan secangkir saus celup yang terbuat dari ubi ungu dan telur custard.
Ada lima gerai makanan produksi Thai Airways itu di Bangkok. Ke depannya mereka berencana membuat franchise. Kelima gerai itu berlokasi di toko roti Puff & Pie di pasar Or Tor Kor, di kantor pusatnya di distrik Chatuchak, gedung Rak Khun Tao Fa, gedung Thai Catering di distrik Don Muang, serta kantor cabang Thai Airways di Silom.
Mereka juga menjual paket kotak di provinsi Chiang Mai, tapi beberapa outlet tidak setiap hari menjualnya.
Thai Airways bangkrut setelah bertahun-tahun mismanajemen keuangan dan diperparah oleh pandemi virus corona. Maskapai Thai Airways mengajukan kebangkrutan pada Juni lalu. Maskapai ini dinyatakan bangkrut dengan total kewajiban utang 332,2 miliar Baht (Rp 157 triliun).












