Jakarta, EDITOR.ID,- Penggiat media sosial yang juga stand up Comedy Pandji Pragiwaksono mengibaratkan mantan Menteri BUMN Erick Thohir sebagai Andrea Pirlo dalam hal kemampuan “membagi-bagikan”. Ia analogikan pesepakbola Italia Andrea Pirlo.
Jika Pirlo dikenal piawai mendistribusikan bola ke seluruh penjuru lapangan, namun bagi Erick menurut Pandji, Erick dianggap “piawai” mendistribusikan jabatan di lingkungan BUMN.
Rupanya Pandji sengaja mengkritisi penempatan posisi strategis/jabatan di perusahaan-perusahaan plat merah yang sering muncul menjadi fenomena pengangkatan sejumlah influencer maupun para timses Pilpres atau pendukung politik ke posisi jabatan di BUMN maupun lembaga terkait yang dianggap tidak sesuai dengan kompetensi profesional meskipun kompetensi mereka dipertanyakan alias tak sesuai dengan bidangnya.
Hal ini tak terlepas dari apa yang namanya kepentingan aliansi analogi ini digunakan untuk menyindir bahwa pembagian kursi jabatan tersebut dilakukan demi menjaga aliansi politik atau kepentingan tertentu, ketimbang berdasarkan profesionalisme murni.
Kritik ini sering dikaitkan dengan narasi bahwa jabatan-jabatan tersebut diberikan sebagai bentuk balas budi politik atau upaya meredam kritik di media sosial.
Nama-nama seperti Abu Janda (Permadi Arya) sering disebut oleh warganet dalam konteks ini, meskipun penempatan spesifiknya sering menjadi perdebatan publik mengenai kualifikasi dan urgensinya.
Pandji menggunakan analogi sepak bola ini untuk menyentil kebijakan Erick Thohir yang dinilai lebih mengedepankan aspek komunikasi/citra melalui influencer dibandingkan murni profesionalisme.
Hingga tahun 2026, isu mengenai tata kelola BUMN dan efektivitas pengangkatan direksi/komisaris dari jalur non-karir masih menjadi bahan diskusi publik.
Erick Thohir sendiri dalam berbagai kesempatan membela peran influencer BUMN sebagai potensi “juru bicara informal” untuk menjembatani komunikasi perusahaan dengan masyarakat.
Konteks mengenai julukan “Pirlo” yang diberikan Pandji Pragiwaksono kepada Erick Thohir berkaitan dengan gaya kepemimpinan dan penempatan orang-orang di posisi strategis.
Sedangkan makna julukan “Pirlo” menurut Pandji menyamakan Erick Thohir dengan Andrea Pirlo (legenda sepak bola Italia) karena perannya yang dianggap sebagai “Playmaker”. Dalam pandangan Pandji, Erick memiliki kemampuan untuk membagi-bagikan posisi, peran, atau “bola” kepada berbagai pihak demi menjaga aliansi atau kepentingan tertentu.
Seperti halnya Andrea Pirlo yang mengatur tempo permainan dan mendistribusikan bola dari lini tengah, Erick Thohir dianggap terampil dalam mengelola sumber daya, jabatan, dan pengaruh.
Dalam pandangan Pandji, Erick memiliki kemampuan untuk membagi-bagikan “bola” (posisi atau proyek) kepada berbagai pihak guna menjaga stabilitas koalisi atau aliansi politik.
Analogi ini menekankan pada kemampuannya menjaga hubungan baik dengan banyak pihak (termasuk lintas partai atau kelompok) agar semua merasa “mendapat bagian” dalam permainan besar pemerintahan atau organisasi.
Analogi ini sering dibahas dalam konteks penunjukan berbagai tokoh di posisi strategis BUMN atau organisasi olahraga seperti PSSI, di mana Erick Thohir memegang kendali utama dalam menentukan arah kebijakan.
Andrea Pirlo adalah legenda sepak bola Italia, dijuluki “Maestro” atau “Arsitek”, dikenal sebagai salah satu gelandang deep-lying playmaker terbaik sepanjang masa karena visi, umpan akurat, dan eksekusi bola mati kelas dunia, sukses besar bersama AC Milan dan Juventus, serta memenangkan Piala Dunia 2006 bersama Italia, sebelum pensiun dan beralih menjadi pelatih.
Posisi Pirlo selalu di gelandang tengah, karena keahliannya dalam mengatur tempo permainan dari lini tengah (deep-lying playmaker).
Umpan lambungnya sangat dikenal mematikan, tendangan bebasnya pun terbilang akurat (spesialis bola mati), begitu juga mendribble nya bola dengan kontrol bola yang sangat luar biasa.
Karier Pirlo dalam memenangkan dua Liga Champions (2003, 2007), dua Serie A, Piala Dunia Antarklub, dan lainnya. Pirlo disebut-sebut memimpin kebangkitan klub dengan empat gelar Serie A beruntun (2012-2015) setelah direkrut gratis dari Milan.
Pirlo dari memulai kariernya bisa dikatakan tak mengubah memposisikan diri menjadi playmaker sesuai keinginan pelatih Carlo Mazzone yang intensif melatihnya.
Pirlo akhirnya menutup karier bermainnya di MLS. Meskipun demikian prestasinya gemilang di timnas, juara Piala Dunia FIFA 2006 bersama Italia.
Sudah sepantasnya Pirlo dijadikan sebagai pemain penting dalam skuad Italia di berbagai turnamen besar, karena permainannya yang tenang, elegan, dan cerdas secara taktis, meninggalkan jejak mendalam di sepak bola dunia.
Setelah pensiun, menjadi pelatih kepala Juventus dan mencatatkan kemenangan awal sebelum akhirnya dipecat. (*)










