Mengurai Dua Dimensi Naskah Drama: Antara Nilai Sastra dan Realitas Pertunjukan Panggung

Apakah sebuah naskah drama baru sah dianggap karya sastra setelah dipentaskan di panggung, atau daya estetiknya sudah hidup sejak kata pertama dituliskan?

JAKARTA — EDITOR.ID Diskusi mendalam mengenai kedudukan naskah drama kembali mengemuka dalam Forum Diskusi Meja Panjang. Forum tersebut bedah secara kritis dualitas fungsi naskah drama, baik sebagai teks karya sastra mandiri maupun sebagai panduan dasar pertunjukan teater.

Pada awal paparan, moderator menekankan bahwa kekuatan naskah drama sebagai karya sastra tidak sekadar terletak pada fungsi praktis—seperti petunjuk teknis “lampu padam” atau “aktor berjalan ke tengah panggung”. Sebaliknya, kualitas sastra sebuah naskah diuji ketika bahasa mampu membangun imaji, suasana, dan kemungkinan makna.

Mengutip Shakespeare, naskah drama telah menjadi karya sastra sejak kata pertama ditulis, jauh sebelum panggung, pencahayaan, maupun aktor memberi tubuh pada tokoh-tokohnya.

Teks tersebut memiliki daya estetik yang memungkinkan untuk dibaca, ditafsirkan, dan dialami secara mandiri.

Narasumber, Edy Susanto, memaparkan secara eksplisit mengenai “dua dimensi” yang melekat pada naskah drama:

Dimensi Sastra: Naskah drama berdiri sejajar dengan bentuk karya sastra imajinatif lainnya seperti novel, puisi, dan cerpen. Dalam dimensi ini, naskah berfokus pada kekuatan bahasa konotatif, daya khayal (fictionality), serta nilai-nilai estetik (keutuhan, keselarasan, dan penekanan ide).

Dimensi Pertunjukan: Naskah drama berfungsi sebagai awal atau fondasi dari sebuah lakon fisik.

Lebih lanjut, Edy menjelaskan batas pembeda antara drama dan teater. Secara fundamental, drama yang diolah bersama sutradara, aktor, dan tata panggung akan berubah menjadi teater ketika kehadiran penonton terpenuhi. Tanpa adanya penonton, pertunjukan tersebut belum dapat dikatakan sebagai teater sepenuhnya.

Diskusi ini juga menyoroti fenomena keberadaan closet drama (drama kamar/drama tertutup)—yakni naskah-naskah drama yang lebih nyaman dinikmati dalam bentuk bacaan daripada dipentaskan. Hal ini sering kali lahir dari para sastrawan yang belum terbiasa dengan pembatasan realitas panggung fisik, seperti dalam beberapa bentuk karya berke gaya lelab (prose drama) karya Utuy Tatang Sontani. Kendati demikian, melalui proses alih wahana (adaptation), setiap naskah pada dasarnya tetap memiliki peluang untuk diangkat ke atas panggung.

Merunut sejarahnya, tradisi teks drama modern di Indonesia maupun dunia banyak yang berakar dari tradisi lisan (folklor). Contoh klasik terlihat pada naskah Oedipus Sang Raja karya Sophocles di Yunani Kuno, yang pada mulanya merupakan mitos lisan sebelum akhirnya dituliskan menjadi naskah drama monumental.

Sebagai penutup, diskusi menegaskan bahwa keunikan utama naskah drama terletak pada sifat kerjanya: penulisan naskah mungkin merupakan proses individu, namun perwujudannya di atas panggung adalah hasil kerja kolektif dan gotong royong yang mempertemukan berbagai disiplin seni. (*)

Leave a Reply