JAKARTA, EDITOR.ID — Di tengah hiruk-pikuk ibu kota yang makin didominasi layar gawai dan arus informasi serba cepat, pemandangan pada Jumat pagi (25/9/2026) di sudut Senen menyajikan nostalgia yang menyentuh hati. Pak Ade, seorang penjaja koran veteran, masih terlihat setia melakoni profesinya—pekerjaan yang telah menghidupi jalannya sejarah hidup keluarga beliau sejak tahun 1977.
Kisah Pak Ade bermula saat ia memutuskan merantau dari Garut, Jawa Barat, menuju kerasnya Jakarta. Kala itu, ia masih seorang pemuda yang belum menikah. Berbekal tekad, ia mulai mengarungi kawasan Lapangan Banteng untuk menjajakan koran hingga majalah. Selama hampir setengah abad, Pak Ade menjadi saksi bisu perjalanan dan transformasi Kota Jakarta. Area operasionalnya tak pernah bergeser jauh dari kawasan Lapangan Banteng, Pasar Senen, Tanah Tinggi, hingga Kramat Sentiong.
Sambil merapikan lembaran dagangannya, Pak Ade sempat mengenang masa-masa keemasan media cetak di Jakarta. Ia mengingat betul nama-nama agen koran dan majalah besar legendaris di sekitar Lapangan Banteng tempatnya biasa mengambil barang dagangan, seperti “Harianja”, “Artonang”, “Saragih”, hingga “Hasibuan”.
“Para agen besar itu kini sudah tiada, kembali ke pangkuan Yang Maha Kuasa. Sekarang usaha mereka diteruskan oleh anak-anaknya,” kenang Pak Ade.
Kini, Pak Ade menetap di kawasan Tanah Tinggi, tepatnya di RT 08/Gang Temper dekat Pasar Gaplok, Senen, Jakarta Pusat. Dari gang sempit itulah roda kehidupannya saban hari berputar. Di tengah cobaan hidup pascameninggalnya sang istri tercinta sekitar dua bulan lalu, ayah dari tiga orang anak ini tetap melangkah membawa sisa-sisa kejayaan media cetak.
Realitas lanskap media modern memang tak memungkiri penurunan drastis. Jika dahulu majalah dan koran laris manis, saat ini Pak Ade hanya mengantongi rata-rata 40 lembar koran per hari dengan penghasilan bersih sekitar Rp50.000.
Ketika ditanya mengenai masa depan usahanya, Pak Ade tak menampik adanya keinginan untuk beralih mencoba usaha lain. Namun, ada ikatan emosional mendalam yang sulit diurai. Rasanya terlampau berat untuk menanggalkan profesi yang telah berurat berakar dalam separuh perjalanan hidupnya.
Meski zaman terus berganti dari era kertas hingga era TikTok, semangat Pak Ade untuk menyusuri jalanan Jakarta tak pernah surut. Bagi warga setempat, Pak Ade bukan sekadar penjaja koran yang tersisa, melainkan simbol ketangguhan dan bukti hidup dari dedikasi seorang petarung kehidupan di jantung ibu kota. (*)












