Dedi Mulyadi Minta Polda Bongkar Siapa Aktor Intelektual yang Tewaskan 11 Gurandil di Gunung Pongkor

Gubernur Dedi Mulyadi meminta aparat kepolisian menangkap pihak-pihak yang menyuruh atau memfasilitasi aktivitas tambang ilegal tersebut, bukan hanya menyasar para pekerja di lapangan.

Kawasan Bukit Pongkor Banyak Penambangan Ilegal Emas

Bogor, EDITOR.ID – Perhatian serius dari Gubernur Jawa Barat (Jabar), Dedi Mulyadi secara tegas mendesak kepolisian untuk mengusut tuntas terhadap tragedi yang merenggut 11 nyawa penambang ilegal (gurandil) akibat aktivitas tambang ilegal di kawasan Gunung Pongkor di wilayah Nanggung, Kabupaten Bogor.

Gubernur Jabar meminta pihak kepolisian untuk melalukan investigasi secara menyeluruh, tidak hanya pada pekerja lapangan, tetapi juga para aktor intelektual atau pemodal di balik penambangan emas ilegal (PETI) tersebut.

Gubernur Dedi Mulyadi meminta aparat kepolisian menangkap pihak-pihak yang menyuruh atau memfasilitasi aktivitas tambang ilegal tersebut, bukan hanya menyasar para pekerja di lapangan.

Penambangan ilegal di kawasan PT Antam seringkali menggunakan metode yang tidak aman dan merusak ekosistem, sehingga sangat berisiko menyebabkan longsor dan korban jiwa.

Pemerintah Provinsi Jabar berupaya memperkuat koordinasi dengan PT Antam dan aparat penegak hukum untuk memperketat pengawasan di area konsesi agar akses bagi penambang ilegal dapat ditutup secara permanen.

Dedi Mulyadi menekankan bahwa meskipun pengawasan tambang bukan wewenang langsung provinsi, ia memiliki tanggung jawab moral untuk menyelesaikan masalah lingkungan dan melakukan mitigasi bencana guna mencegah kejadian serupa.

Tragedi yang menewaskan 11 warga ini menjadi momentum bagi Pemerintah Provinsi untuk mengevaluasi pengawasan aktivitas pertambangan di Jawa Barat guna mencegah kejadian serupa terulang kembali di masa depan.

Kapolda Jawa Barat, Irjen Pol. Rudi Setiawan, menyatakan bahwa 11 korban tewas terpapar gas beracun di dalam lubang tambang emas Gunung Pongkor, merupakan penambang yang berasal dari tiga kecamatan berbeda di Bogor Barat, yaitu Cigudeg (6 orang), Sukajaya (3 orang), dan Nanggung (2 orang).

“Alhamdulillah untuk nanggung sudah 3 orang yang kami selamatkan, dan beberapa desa lagi sudah kita selamatkan itu kurang lebih berjumlah 11 orang dari semuanya,” ujar Irjen Rudi ditemui di Polsek Nanggung, Kamis (22/1/2026).

Berdasarkan kompilasi data kepolisian dan pemerintah desa, para korban yang diduga merupakan penambang emas tanpa izin (gurandil) ini berasal dari tiga kecamatan berbeda, yakni Cigudeg, Sukajaya, dan Nanggung.
Mereka diduga tewas akibat paparan gas beracun yang merembes ke lubang-lubang tikus yang saling terhubung di perut bumi.

Pihak kepolisian mengklaim telah menyerahkan seluruh jenazah kepada keluarganya masing-masing untuk dimakamkan tanpa proses autopsi menyeluruh atas permintaan keluarga.

Terkait proses identifikasi medis, Irjen Rudi menjelaskan bahwa para korban tidak menjalani autopsi menyeluruh karena permintaan keluarga untuk segera dimakamkan.

“Kita sementara ini keluarga langsung dikebumikan, nanti apabila ada proses lain ditemukan lain akan kita lakukan,” jelas Rudi.

Tragedi ini memukul telak warga Bogor Barat. Sebagai bentuk belasungkawa, Kapolda tidak hanya datang untuk mendata, tetapi juga memberikan santunan sebagai bentuk empati terhadap keluarga yang ditinggalkan.

“Yaitu dan sudah diserahkan kembali kepada keluarganya untuk dilakukan pemakaman. Ya itu meninggal dunia,” tegas Rudi.

“Dan hari ini kami berempati kepada keluarga korban dengan memberikan sedikit bantuan untuk meringankan kebutuhan sehari-hari,” tutur Rudi. (*)

Leave a Reply