Praja IPDN Meninggal Mendadak, Apa Penyebabnya, Ini Penjelasan Wakil Rektor

Wakil Rektor Bidang Administrasi Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN), Arief M. Edie membenarkan hal tersebut. Arief pun mengungkap kronologi terkait penyebab meninggalnya calon praja asal Maluku Utara, Maulana Izzat (20).

Wakil Rektor Bidang Admistrasi IPDN, Arief M Edie ;tengah) saat memberikan keterangan di Kampus IPDN, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, Jumat (10/10/2025). ANTARA/Rubby Jovan

Bandung, Jabar, EDITOR.ID,- Calon praja asal Ternate, Maluku Utara, angkatan XXXVI Maulana Izzat Nurhadi (20) dikabarkan meninggal dunia secara mendadak di kampus Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN). Kabar ini ramai diberitakan di media sosial pada Jumat (9/10/2025) malam.

Maulana meninggal dunia diduga karena jatuh pingsan usai mengikuti apel pada Rabu malam hari. Lantas apa yang menyebabkan calon Praja tersebut meninggal?

Wakil Rektor Bidang Administrasi Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN), Arief M. Edie membenarkan hal tersebut. Arief pun mengungkap kronologi terkait penyebab meninggalnya calon praja asal Maluku Utara, Maulana Izzat (20).

“Iya betul meninggal dunia. Jatuh pingsan kemarin malam saat apel malam,” kata Arief di Bandung, Jumat (10/9/2025).

Arief mengatakan saat ini pihaknya masih fokus untuk memulangkan jenazah Maulana ke pihak keluarga menuju rumah duka di Ternate, Maluku Utara.

“Ini masih memantau almarhum ke rumah duka untuk diantar ke orang tuanya,” katanya.

Arief mengatakan Izzat meninggal dunia pada Rabu (8/10/2025) pukul 23.50 WIB. Menurutnya, tidak ada unsur kekerasan dalam meninggalnya Izzat. Almarhum meninggal dunia karena serangan jantung usai mengikuti apel pendidikan dasar pada Rabu (8/10) malam.

“Peristiwa terjadi Rabu malam sekitar pukul 23.00, setelah apel malam rutin yang dimulai pukul 22.00,” ujar Arief.

Arief M Edie mengungkapkan Maulana sempat mengeluh lemas usai mengikuti apel dan langsung ditangani oleh petugas ke klinik di dalam kampus.

“Pada saat lemas masih kita tangani. Kemudian ketika tidak membaik segera kita kirim ke Rumah Sakit Unpad dan dinyatakan meninggal pada Rabu pukul 23.00 WIB,” kata Arief.

Arief menjelaskan hasil pemeriksaan dari pihak rumah sakit diketahui Maulana meninggal karena disebabkan henti jantung dan tidak ditemukan luka di tubuh almarhum.

Ia menambahkan pihak kampus juga telah menawarkan proses autopsi maupun visum untuk memastikan transparansi atas meninggalnya Maulana, namun pihak keluarga menolak proses tersebut.

Arief menyebut apel malam merupakan kegiatan wajib calon praja dalam masa pendidikan dasar (diksar) yang dipimpin oleh pihak kepolisian.

Menurut Arief, setelah apel selesai Izzat mengeluh lemas. Petugas yang berjaga langsung memberikan pertolongan pertama dan membawa almarhum ke Klinik Kesehatan untuk pemeriksaan awal.

“Kami cek tensinya, kami beri minum. Setelah itu, dibawa ke RS Unpad. (Setelah dinyatakan meninggal) dari sana, kemudian dirujuk ke RSHS untuk pemulasaraan,” ujarnya.

Arief mengatakan bahwa dokter menyatakan Maulana meninggal akibat henti detak jantung. Menurutnya, hasil pemeriksaan medis menunjukkan tidak ada tanda-tanda kelelahan ekstrem maupun penyakit bawaan.

“Saturasi oksigen masih 70, detak jantung juga 70. Jadi tidak ada indikasi kelelahan. Dan kalau punya riwayat jantung, sejak awal pasti tidak akan diterima sebagai calon praja,” ujarnya.

Maulana dinyatakan meninggal dunia sekitar pukul 23.50 di RS Unpad. Jenazahnya telah dipulangkan ke Maluku Utara dan dimakamkan pada keesokan paginya.

“Sejak almarhum sakit, kami sudah berkoordinasi dengan orang tua. Keluarga menerima dengan ikhlas,” ujar Arief.

Arief mengatakan kegiatan diksar IPDN hanya berfokus pada latihan Peraturan Baris Berbaris (PBB) dan berlangsung selama dua minggu.

Diksar dimulai pada 30 September sampai dengan 14 Oktober 2025. Seluruh kegiatan dilakukan di dalam area kampus.

“Kami semua tinggal di mes. Tidak ada kegiatan di luar, tidak ada aktivitas lari-lari berlebihan, hanya lari pagi dan sore seperti biasa,” katanya.

Terkait evaluasi program diksar, Arief menyebut kegiatan akan tetap berjalan. Ia menegaskan, tidak ada permintaan visum maupun autopsi dari pihak keluarga meski IPDN telah menawarkan.

“Kami tawarkan untuk visum atau autopsi, tapi keluarga menolak,” katanya.

IPDN, lanjut Arief, juga memberikan santunan kepada keluarga Maulana sebagai bentuk tanggung jawab sosial lembaga.

“Jenazah diantar langsung ke rumah duka sesuai permintaan orang tua. Saat ini proses pemakaman sudah selesai,” tambahnya.

Arief membantah keras tudingan kekerasan dalam kegiatan diksar IPDN. Menurutnya, calon praja belum memiliki interaksi sama sekali dengan senior, sehingga tidak mungkin ada kontak fisik.

“IPDN sudah zero kekerasan. Untuk calon praja pun belum bertemu dengan senior karena masih dalam tahap diksar yang ditangani tim khusus. Hasil pemeriksaan juga menunjukkan tidak ada tanda-tanda kekerasan di tubuh korban,” kata Arief.

Arief pun mewakili semua civitas IPDN menyampaikan duka cita mendalam kepada keluarga Izzat.

“Kami sangat berduka. Semoga almarhum husnul khatimah. Ia adalah anak yang semangat dan tekun. Ini menjadi pengingat bagi semua calon praja agar selalu menjaga kesehatan dan tidak memaksakan diri,” ujarnya.

Diketahui, Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) tengah melakukan kegiatan bagi 1.509 calon Praja yaitu Pendidikan Dasar Mental dan Disiplin Calon Praja Pratama (Diksarmendispra) yang berlangsung dari 30 September hingga 14 Oktober 2025.

Program tersebut bertujuan untuk membentuk karakter dan disiplin calon praja IPDN melalui pelatihan fisik, mental, wawasan kebangsaan, dan bela negara sebagai langkah awal untuk menempuh pendidikan di IPDN. (*)

Leave a Reply