Ustadz Abdul Somad Ikut Sentil Heboh Tayangan Trans 7 Dinilai Lecehkan Kiai dan Pesantren

Tokoh yang akrab disapa UAS itu membuat puisi yang menggambarkan, bagaimana orang luar ranah pesantren sering gagal dalam memahami dunia kaum santri dan kiai.

Abdul Somad saat memberikan pengajian di acara tabligh akbar di Riau dengan tema "Panduan Beragama Masyarakat Muslim Melayu" sebagaimana dikutip EDITOR.ID dari kanal Dakwah Ustadz Abdul Somad di Youtube, Jumat (17/10/2025)

Jakarta, EDITOR.ID,- Pendakwah kondang Ustadz Abdul Somad ikut menyentil kontroversi program siaran televisi Trans 7 yang telah melecehkan kiai dan pesantren Lirboyo, Kediri. Dai dengan jutaan pengikut (followers) di media sosial ini tidak memberikan tanggapan dengan kecaman keras, melainkan sebuah puisi yang bernada kritis dan reflektif. Karya itu diberinya judul “Mazhab Cinta.”

“Mau masuk pesantren cari-cari di TV mau pondok mana, ehhh dibilang kyainya ngambil amplop, (dituduh) sesat, yang ditontonnya TV 7, yang bagus kebetulan chanelnya channel ini akhirnya dia terikut, inilah akhirnya yang terjadi sekarang ini,” ujar Abdul Somad saat memberikan pengajian di acara tabligh akbar di Riau dengan tema “Panduan Beragama Masyarakat Muslim Melayu” sebagaimana dikutip EDITOR.ID dari kanal Dakwah Ustadz Abdul Somad di Youtube, Jumat (17/10/2025)

Sebelumnya Ustaz Abdul Somad juga menanggapi polemik tayangan Trans 7 lecehkan kyai dengan cara yang cukup khas. Ia tidak memberikan tanggapan dengan kecaman keras, melainkan sebuah puisi yang bernada kritis dan reflektif. Karya itu diberinya judul “Mazhab Cinta.”

Tokoh yang akrab disapa UAS itu membuat puisi yang menggambarkan, bagaimana orang luar ranah pesantren sering gagal dalam memahami dunia kaum santri dan kiai.

Menurut UAS, tradisi pesantren tak sekadar rutinitas keagamaan, melainkan juga ikatan batin dan cinta. Itu menghubungkan antara para santri dengan kiai-kiai sebagai guru mereka.

“Cinta itu alam rasa Bukan alam kata Kata terlalu miskin untuk mewakili rasa Andai engkau coba untuk merangkai bahasa Rasa belum tentu sama Susah dilogikakan bagaimana rasa santri Ngasi mercy,” tulis UAS dalam puisinya yang diunggah di akun Instagramnya, Rabu (14/10/2025).

Puisi tersebut berangkat dari kisah klasik Qais dan Laila, dua tokoh legenda yang menggambarkan cinta yang tak mampu dijelaskan logika. Kisah itu kemudian ditarik oleh UAS untuk menyindir pihak yang mudah menilai, namun tak mampu memahami nilai spiritual pesantren.

“Orang menyebut Qais gila. Yang faham hanya yang pernah jatuh cinta,” tulis UAS, menegaskan bahwa hanya mereka yang pernah hidup sebagai santri yang memahami adab pesantren dan kecintaan kepada kiai.

UAS juga menyelipkan kritik sosial yang halus, tetapi tajam. Ia menyinggung dunia industri media cenderung mudah terjebak dalam pemburuan rating. Alhasil, nilai-nilai moral menjadi mudah diabaikan.

Sebuah tayangan program Xpose Uncensored yang disiarkan stasiun televisi Trans7 memicu polemik. Sebab, siaran itu dinilai berbagai kalangan telah melecehkan kiai dan tradisi pesantren.

Sejumlah pihak menyuarakan kecaman terhadap Trans7. Di antaranya adalah Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). PBNU bahkan sudah resmi melaporkan pihak stasiun televisi itu ke kepolisian dan mengadukannya ke Dewan Pers. ***

Leave a Reply