Usai Ditunjuk Pimpin BGN, Deyang Bakal Stop Pendirian Dapur MBG, Ada Apa

Dampak dari keputusan itu adalah BGN tidak akan lagi berambisi mengejar target 82 juta penerima manfaat MBG pada tahun ini. Lebih dari itu, BGN justru lebih fokus memperbaiki tata kelola agar dapur MBG bisa benar-benar menyediakan makanan berkualitas bagi para penerima manfaat.

Kepala BGN Nanik S Deyang

Jakarta, EDITOR.ID,- Usai dipercaya Presiden Prabowo Subianto memimpin Badan Gizi Nasional (BGN) Nanik S. Deyang langsung gerak cepat. Program pertamanya menghentikan pendirian dapur baru Makan Bergizi Gratis (MBG). Program BGN dibawah komando Deyang akan lebih fokus untuk meningkatkan kualitas dapur MBG yang sudah berdiri.

Program lainnya yang akan digarap, BGN akan lebih fokus mengejar target sasaran penerima manfaat MBG ke sekolah yang melayani rakyat kecil. MBG tidak lagi ambisius mengejar 82,9 juta penerima manfaat sehingga anggaran MBG akan lebih efisien.

Kepala BGN Nanik S Deyang mengatakan, pihaknya tidak akan lagi fokus dalam mengejar target mendirikan dapur baru atau menaikkan jumlah penerima manfaat dalam melaksanakan program MBG. Tapi lebih fokus mengejar kualitas layanan Dapur MBG.

Deyang mengaku telah mendapatkan restu dari Presiden Prabowo Subianto untuk fokus memperbaiki kualitas program unggulan tersebut.

“Kemarin kami bertiga dipanggil Presiden dan kami sudah menyampaikan ke beliau, tahun 2026 ini mohon Bapak kami tidak mengejar kuantitas. Kami akan perbaiki kualitas,” ujar Nanik S Deyang kepada awak media saat konferensi pers pertamanya saat diangkat sebagai Kepala BGN di Kantor BGN, Kamis (4/6/2026).

Dampak dari keputusan itu adalah BGN tidak akan lagi berambisi mengejar target 82 juta penerima manfaat MBG pada tahun ini. Lebih dari itu, BGN justru lebih fokus memperbaiki tata kelola agar dapur MBG bisa benar-benar menyediakan makanan berkualitas bagi para penerima manfaat.

“Bisa jadi kami tidak akan mengejar ke 82 juta (penerima manfaat), tapi bagaimana dapur-dapur ini sehat, memberikan makan yang bergizi,” ujar Nanik.

Mantan wartawati sejumlah media ini mengungkapkan, saat ini masih ditemukan program MBG yang tidak tepat sasaran. Salah satu contohnya adalah ketika MBG disalurkan ke sekolah swasta yang dengan biaya pendidikan mahal.

Karena itu, BGN akan melakukan peninjauan ulang atau refocusing penerima manfaat program tersebut. Penyaluran MBG yang belum tepat sasaran nantinya akan dialihkan ke masyarakat yang lebih membutuhkan.

“Misalnya nanti akan kita juga kalau ada sekolah-sekolah yang mahal gitu kan kita tanya apakah masih perlu MBG? Nah ini yang kita alihkan ke 3T, jadi bisa aja sebetulnya penerima manfaatnya bertambah tapi tambahannya ini sebetulnya mengurangi dari yang tidak fokus mungkin selama ini,” kata Deyang.

Tak hanya itu, Deyang mengatakan, pihaknya juga akan fokus memberikan MBG untuk kelompok 3B, yaitu bumil (ibu hamil), busui (ibu menyusui), dan balita. Pasalnya, berdasarkan hasil diskusi dengan para pakar, intervensi gizi buruk pada anak efektif dilakukan mulai dari dalam kandungan hingga usia balita.

“Nah, kita yang kejar ke sana,” paparnya.

Diketahui, program MBG sebelumnya ditargetkan menjangkau hingga 82,9 juta penerima manfaat di seluruh Indonesia pada 2026. Skala besar program ini menegaskan komitmen pemerintah dalam memperluas intervensi gizi nasional sebagai bagian dari strategi pembangunan sumber daya manusia jangka panjang.

Ketentuan mengenai cakupan dan sasaran penerima manfaat MBG tersebut diatur dalam Keputusan Kepala BGN RI No. 401.1 Tahun 2025 tentang Petunjuk Teknis Tata Kelola Penyelenggaraan Program MBG Tahun Anggaran 2026, yang menegaskan MBG sebagai program strategis nasional lintas sektor. ****

Leave a Reply