Settia

Menguak Sosok “James Bond 007” Dibelakang Benny Moerdani

Salah satu putra terbaik bangsa dan tokoh dibalik kehebatan intelijen Indonesia telah berpulang ke Rahmatullah. Dia adalah Marsekal Muda TNI (Purn) Teddy Rusdi. Meninggal dalam usia 79 Tahun di Rumah Sakit Pondok Indah.

Pangab Jenderal LB Moerdani didampingi Marsda Teddy Rusdi dalam sebuah acara

Jabatan terakhir Marsda Teddy Rusdi sebelum pensiun dari dunia militer adalah Asrenum Kasum ABRI. Separuh lebih pengabdian Teddy berada di dunia intelijen yang di era Orde Baru dikenal sebagai salah satu intelijen terbaik di dunia untuk “mengawal” kekuasaan Soeharto.

Tak banyak yang tahu kiprah Teddy di dunia intelijen karena memang seorang intelijen yang profesional tidak akan pernah bercerita, apa yang dialaminya dan apa yang dikerjakannya. Namun di masa-masa pensiun, Teddy Rusdi banyak menulis buku tentang beberapa hal terkait pengalamannya mengabdi di militer dan intelijen.

Dunia intelijen bagi Teddy sudah tak asing lagi. Boleh dikatakan ia adalah sosok “James Bond 007” nya Indonesia yang sulit terlacak dan tersadap. BahkanTeddy menjadi salah satu intel tangan kanannya Panglima ABRI Jenderal LB Moerdani. Banyak penugasan super rahasia dipercayakan kepada Marsda Teddy Rusdi. Dan selalu berhasil dalam tugas.

Asri Hadi MA, pengamat militer Indonesia mengaku dirinya mengenal sosok dan kiprah Marsda Teddy Rusdi sebagai Jenderal yang pintar dan bekerja taktis.

Asri Hadi, MA Pengamat Militer
Asri Hadi, MA Pengamat Militer

Almarhum dikenal sebagai sosok perwira tinggi dari Angkatan Udara yang selalu berhasil dalam setiap penugasan yang diberikan kepadanya oleh Negara.

“Bersama Jenderal TNI Benny Moerdani, Teddy Rusdy berhasil membangun suatu sistem intelijen yang solid, terpusat, reliable, akurat, relevant dan timely untuk NKRI,” ujar Asri Hadi yang juga Dosen Sekolah Staf Komando Angkatan Laut (Sesko AL) ini.

Almarhum, menurut Asri Hadi, juga banyak ditugasi melakukan operasi intelijen sangat rahasia di era pemerintahan Soeharto.

“Diantara operasi yang pernah dilakukannya adalah operasi Alpha dan operasi Woyla sebuah operasi intelijen Indonesia yang diakui dunia tingkat keberhasilannya,” puji alumnus Monash University Australia ini.

Jenderal bintang dua ini lanjut Asri Hadi, menghabiskan duapertiga karir militernya di Intelijen ABRI. “Beliau dikenal memiliki konsep cemerlang terkait intelijen. Pada Sesko ABRI tahun 1974, Teddy membuat analisa yang cukup berani, karena mengandung politik tingkat tinggi,” kenang dosen Institut Ilmu Pemerintahan (IIP) ini.

Bagaimana tidak, Teddy yang ketika itu berpangkat Mayor Udara menyatakan bahwa “Peristiwa Malari 1974” merupakan klimaks dari pertarungan dua Jenderal di tubuh ABRI guna mencari pengaruh dari Presiden Soeharto.

Perang bintang antara Letjen TNI Ali Murtopo dengan Jenderal Sumitro. Ali Moertopo saat itu menjabat Aspri Presiden Soeharto, dan Sumitro menjabat Pangkopkamtib/ Wapangab (1971-1974).

Sikap tegas dan cerdas inilah yang pada akhirnya membuat Asisten Intelijen Hankam/Kopkamtib ketika itu, Benny Moerdani, menarik Teddy ke barisan Intelijen Hankam.

Pasca meletusnya “Malari”, Presiden Soeharto menugaskan langsung Mayjen Benny Moerdani untuk menata ulang intelijen RI.

Utamanya mengendalikan seluruh wadan intelijen ABRI, Kopkamtib dan nasional, yakni Asisten Intelijen ABRI, Pusat Intelijen Strategis, Asisten Intelijen Kopkamtib, Satuan Tugas Screening Pusat, Satuan Tugas Intelijen Kopkamtib, di mana Mayjen Benny Moerdani sebagai pimpinannya, dan Wakil Kepala Bakin.

Almarhum Marsda Teddy Rusdi pernah dekat dengan pengamat militer Asri Hadi. Keduanya berfoto bersama di sebuah acara (Sumber Foto Instagram Asri Hadi)

Tentunya tidak mudah menata ulang intelijen NKRI, khususnya reabilitas dan soliditas produk-produk intelijen negara. Untuk menata organisasi intelijen Benny meminta waktu sepuluh tahun.

Dalam hal ini dapat diartikan Benny selama sepuluh tahun siap untuk tidak ganti jabatan yang juga sekaligus tidak naik pangkat.

Bersama Teddy Rusdy, Benny berhasil menyusun sebuah intelligence community dari tujuh badan intelijen yang dipimpin satu komandan. Ketika itu Benny juga menjabat sebagai Wakil Kepala Bakin.

Dengan intelijen yang solid dan terpusat, masa itu diibaratkan sebuah jarum jatuhpun, Benny “mendengar”. Intelijen menjadi sangat kuat, sangat sensitif dan powerfull.

Mengutip dari buku biografi berjudul : Think Ahead, 70 Tahun Teddy Rusdy yang ditulis Servas Pandur dan diterbitkan Herakles Indonesia, sosok Marsda Teddy Rusdi adalah figur yang silent dan sangat menarik dibaca pengalaman hidupnya. Banyak fakta-fakta baru yang selama ini belum diungkap.

Misalnya, bagaimana pola pikir intelijen kita; Operasi Pembebasan Woyla; Opsus L.B. Moedani – Teddy Rusdy Membantu Pejuang Mujahidin Afghanistan; Proyek Mercusuar Menristek B.J. Habibie; Pasukan Kontra Teror Pertama untuk Indonesia; De-Benny-sasi; dan masih banyak lagi.

Buku setebal 602 halaman yang layak menjadi dokumen sejarah militer Indonesia ini banyak menceritakan bagaimana kiprah Almarhum Marsda Purn Teddy Rusdy.

Pada masanya, Teddy Rusdi sendiri adalah sosok misteri layaknya orang intelijen dan beliau juga hidden figure yang cukup disegani. Selama tak kurang dari 20 tahun beliau mengabdikan dirinya sebagai intelijen “tangan kanan” Benny Moerdani.

Bahkan selama ini banyak yang menyebut dia lebih sebagai “sutradara” yang hanya ada di belakang layar. Dan inilah buku pertama tentang Teddy Rusdy.

 Dalam buku bertajuk “Think Ahead: 70 Tahun Teddy Rusdy” dicatat, bahwa bersama Benny Moerdani, Teddy Rusdy berhasil membangun suatu sistem intelijen yang solid, terpusat, reliable, akurat, relevant dan timely untuk NKRI.

Di mata Israel, Teddy adalah person of contact dan point of contact Israel ke RI baik ke level pemerintahan, pusat kekuasaan dan intelijen RI.

Tak salah jika dalam Operasi Alpha, Teddy bertanggungjawab atas pelaksanaan semua proyek, mulai dari hal-hal yang strategis hingga ke operasional. Bahkan, Teddy memimpin operasi membongkar empat pesawat A-4E Skyhawk sekaligus.

Datangkan 33 unit A-4 Skyhawk

Bukan itu saja sepak terjang Teddy dalam dunia intelijen. Perwira loyalis ini berhasil mendatangkan persenjataan canggih dari Israel berupa 33 unit pesawat A-4E/H Skyhawk lengkap dengan amunisi.

Pria inilah yang memimpin operasi pemindahan 32 pesawat A-4E Skyhawk dari Pelabuhan laut Elat di Israel ke Tanjung Priok di Jakarta tanpa bisa disadap dan dilacak.

Operasi yang tergolong incredibel operation ini menuai sukses. Hingga di penghujung 1980, 32 pesawat Skyhawk tiba di Indonesia, tanpa diketahui media massa dan masyarakat dari mana asalnya.

Itupun masih ditambah selusin unit Komob (Comunications Mobile), diboyong dari Eliat lewat laut dalam operasi bersandi Alpha di tahun 80an.

Dalam operasi ini juga dikirim bom canggih untuk Skyhawk yang dipandu laser, jenis senjata yang nanti terbukti ampuh saat perang teluk meletus 1990.

Keberhasilan operasi Alpha ini dipuji pejabat Mossad dengan sebutan “The Incredible Operations”,”Dubby”‘ Shiloah sebagai pembuka pintu dan contact person.

Sosok Teddy sangat disiplin sekali. Diruang dia terlihat pesawat pembom TU-16/KS buatan Uni Soviet. Tidak ketinggalan pula foto beliau bersama Pak Tri Sutrisno saat menunaikan ibadah haji.

Penampilan pertama A-4 Skyhawk di hadapan publik dilakukan pada HUT ABRI, 5 Oktober 1980 bersama dengan pesawat F5 Tiger II dari Skadron Udara 14.

Kendati tergolong operasi sangat rahasia, pada tahun 1982, Pemerintah RI mengakui secara terbuka bahwa wakil Pemerintah RI telah melakukan dealing dengan Israel melalui pihak ketiga. Ketika itu pemerintah juga menyatakan bahwa RI menentang aneksasi Israel atas Dataran Tinggi Golan dan intervensi militer Israel di Lebanon.

Sebagai insan intelijen sejati, Teddy Rusdy dikenal menjunjung tinggi profesionalisme. Tak salah jika Teddy dekat dengan semua kalangan. Kendati dekat dengan intelijen Israel, yang notabene musuh Islam, Teddy juga menjalin hubungan dekat dengan dunia Islam.

Membantu Pejuang Mujahidin

Salah satu kelompok yang dikenal dekat dengan Teddy adalah pejuang Mujahidin Afghanistan.

Pada 1981, Teddy Rusdy pernah bertugas mendampingi Pak Benny Moerdani ke Islamabad pertemuan rahasia dengan petinggi intelijen Pakistan yang membahas membantu logistik dan persenjataan Mujahidin Afghanistan.

Kata Teddy, saat itu, para mujahidin Afghanistan membutuhkan senjata yang sama dengan hasil rampasan yaitu buatan Uni Soviet. ?Kebetulan senjata buatan Uni Soviet banyak di miliki ABRI saat Trikora dan Dwikora,? ungkap Teddy.

Dengan persetujuan Presiden Soeharto terkumpul senjata-senjata buatan Uni Soviet. Senjata ini dikumpulkan di gudang khusus milik staf Hankam dan Gudang Pangkalan Udara Halim Perdana Kusuma.

Teddy terlibat langsung dalam operasi khusus bantuan pasokan senjata dari Indonesia untuk Mujahidin. Dalam pertemuan rahasia dengan Kepala Intelijen Pakistan, disepakati intelijen Indonesia akan memasok senjata buatan Uni Soviet yang ada di Indonesia kepada Mujahidin yang sedang berjuang melawan pasukan Uni Soviet.

Setelah mendapatkan persetujuan dari Presiden Soeharto, agen Intelijen Hankam ditugaskan untuk mengumpulkan senjata produk Uni Soviet di gudang-gudang senjata milik ABRI. Setidaknya terkumpul logistik dan persenjataan untuk kelengkapan dua batalion infantri.

Selanjutnya, senjata diangkut menggunakan Boing 707 Pelita Air Service menuju Rawalpindi, Pakistan Utara, melalui Diego Garcia, dengan cover bantuan kemanusiaan.

Operasi rahasia ini dikomando langsung oleh Teddy Rusdy. Juli 1981, senjata yang diselipkan di antara kotak obat-obatan itu, dibawa ke Attock, Nowshera, Peshawar, melalui Khyber Pass. Bantuan diterima pimpinan Mujahidin di Nagarhar.

Memang merinding mendengar cerita Teddy, saat Indonesia membantu pejuang Mujahidin Taliban di Afghanistan dengan seperangkat persenjataan setara dengan 2 batalion infanteri.

Kirim Kopassus ke Jerman

Almarhum Teddy juga yang mengirim dua putra terbaik bangsa dari Kopassus: Mayor Inf Luhut B Panjaitan dan Kapten Inf Prabowo Subianto untuk belajar anti teror di markas polisi khusus anti teror Jerman Barat GSG 9.

Operasi Pembebasan Woyla

Di antara fakta sejarah, operasi “Pembebasan Woyla” mungkin menjadi puncak dari eksistensi intelijen Indonesia era Teddy Rusdy. Operasi Woyla merupakan operasi pembebasan pesawat DC-9 Woyla, Garuda Indonesia dengan nomor penerbangan 206, tujuan Jakarta-Medan yang dibajak pada 28 Maret 1981.

Kala itu, pembajak memaksa pilot untuk menerbangkan pesawat ke Kolombo, Sri Lanka. Namun, dengan keterbatasan bahan bakar, pesawat diarahkan ke Malaysia untuk selanjutnya ke Bandara Don Muang, Thailand.

Sebagai Paban VIII Staf Intel Hankam ketika itu, Teddy Rusdy sempat diminta Benny Moerdani untuk menghubungi Menteri Dalam Negeri Malaysia Datuk Ghazali Syafei.

Hanya saja upaya Teddy meminta Ghazali Syafei, agar menghentikan “Woyla”, tidak bisa dipenuhi Malaysia. Tidak ada pilihan lain, diputuskan operasi pembebasan digelar di Don Muang. Untuk operasi pembebasan, disiapkan 35 anggota Kopassandha (Kopassus) yang dipimpin Letkol Sintong Panjaitan.

Untuk mempermudah operasi, Teddy meminta Garuda Indonesia menyediakan satu jenis DC-9 sebagai simulasi operasi Pembebasan Woyla. Perwira Navigator AU ini harus mempelajari sistem elektronik, elektrik dan optik di kokpit “Woyla”.

Sekitar pukul 02.45 WIB, 31 Maret 1981, 30 anggota Kopassandha berhasil mendobrak dan masuk ke dalam pesawat. Lima pembajak berhasil dilumpuhkan. Hanya saja, Letnan Ahmad Kirang dan Pilot Herman Rante gugur. Dalam operasi fenomenal ini, Teddy Rusdy dan Benny Moerdani ikut menerobos masuk pesawat.

Teddy sempat mengoperasikan panel elektrik dan elektronik Woyla untuk mempermudah operasi. Pelaku pembajakan “Woyla” sejatinya sudah terendus sejak intelijen yang disusupkan Teddy ditemukan tewas pada jam tiga pagi menjelang pembajakan Woyla.

Dalam analisa intelijen, Teddy sudah mencurigai kelompok Komando Jihad Kelompok Imron yang sebelumnya menyerang pos polisi di Cicendo, Bandung, Jawa Barat.

Dengan intelijen yang solid dan terpusat, masa itu diibaratkan sebuah jarum jatuhpun bisa terdengar.

De-Benny-sasi

Sepak terjang Teddy Rusdy bersama Benny Moerdani dalam membangun intelijen RI yang tangguh memang pada akhirnya terhenti. Benny Moerdani dituding akan mendongkel kekuasaan Presiden Soeharto.

“Pada saat intelijen RI sangat kuat, Benny Moerdani diganti. Soeharto tidak rela ada ‘rumput lain yang tumbuh’. Soeharto tidak ingin ada orang lain yang bersaing dengannya. Benny Moerdani sadar sebagai seorang Indo, berdarah Jerman/Belanda dari ibu, dan beragama Katolik, berulang kali bicara, bahwa dirinya tidak mungkin menjadi Presiden RI,” kenang Teddy Rusdy.

Teddy Rusdy menyadari, bahwa apa saja yang powerfull akan memunculkan iri hati.

“Benny Moerdani sudah mengadakan assesment intelijen, jika pada saatnya Kopkamtib harus bubar. Karena Kopkamtib adalah ekstra struktural. Hanya saja, meskipun Kopkamtib bubar, tetapi fungsi-fungsinya jangan sampai bubar. Akibatnya intelijen yang sudah dibangun dihancurkan sendiri,” tegas Teddy Rusdy.

Pada 24 Februari 1988, Benny Moerdani harus meletakkan jabatan Pangab, dan sebagai pengganti dipilih Jenderal TNI Try Sutrisno. Ketika terjadi berbagai pergeseran di lingkungan ABRI itulah muncul isu “de-Benny-sasi”, yakni dipangkasnya “networking” Benny Moerdani di Mabes ABRI.

Sasaran dari isu itu tentu saja orang-orang terdekat Benny Moerdani. Siapa lagi kalau bukan Asrenum Pangab Mersekal Muda Teddy Rusdy, yang menjadi orang kepercayaan Benny sejak 1974.

Dalam buku “Teddy Rusdy: ‘Mengundurkan Diri” diungkapkan bahwa Try Sutrisno sampai tiga kali diminta Presiden Soeharto untuk menggantikan Asrenum Pangab. Namun, Try Sutrisno menolak permintaan Soeharto menggantikan Asrenum Pangab Marsekal Muda Teddy Rusdy.

Setelah mencermati berbagai peristiwa di Indonesia awal abad 21, Teddy Rusdy menyimpulkan bahwa “de-Benny-sasi” adalah upaya melumpuhkan suatu sistem yang telah dibangun bertahun-tahun sejak tahun 1974.

De-Benny-sasi adalah upaya menghancurkan kehandalan sistem intelijen RI yang seksama, terpusat, menyeluruh, akurat, relavan dan tepat waktu dalam rangka mendukung pembuatan keputusan pemerintah dan ketetata-negaraan yang legal, tepat, benar dan jauh ke depan.

Salah satu perusahaannya, sempat membeli saham majalah MATRA cetak, dari majalah Tempo. Belakangan, sahamnya pun dilepas. (berbagai sumber)

Berikut beberapa tanda jasa dan karier Almarhum semasa hidup.

Nama:

Marsekal Muda TNI (Purn) Teddy Rusdy

Tempat/Tanggal Lahir:

Jakarta, 11 Mei 1939

Agama:

Islam

Pendidikan:

– SMA B Boedi Oetomo (1959)

– Air Force Flying College, India (1961)

– Sekkau Angkatan 11 (1971)

– Sesko ABRI Bagian Laut Angkatan ke-1 (1975)

– Sesregkt Seskogab Angkatan ke-1 (1978)

Karir:

– Pav Skad 42 Wops Iwy (1963)

– Pa. Ops. Lanu Iwy (1969)

– Dan Lanu Rembiga (1969)

– Dan Denma Makodau VI (1970)

– Karo Paban VI/Milhan Sintel Hankam (1974)

– Patun Seskogab, Bandung (1979)

– Paban VIII Staf Intel Hankam (1980)

– Direktur “E”/Renlitbang BAIS (1983)

– Asrenum Pangab (1986)

– Asrenum Pangab (1987-1992)

– Anggota MPR Utusan Golkar ABRI (1987-1992)

Organisasi:

– Ketua DPD Golkar Lombok Barat (1972)

– Sekretaris DPD Golkar Prov Nusa Tenggara Barat (1973)

Tanda Jasa/Penghargaan:

– Bintang Shakti

– Bintang Dharma

– Bintang Yudha Dharma

– Bintang Swa Bhuwana Paksa Pratama

– Bintang Swa Bhuwana Paksa Nararya

– Satyalencana Kesetiaan VIII

– Satyalencana Kesetiaan XVI

– Satyalencana Kesetiaan XXIV

– Satyalencana Stya Dharma

– Satyalencana Wira Dharma

– Satyalencana Dwidya Sistha

– Satyalencana Penegak

– Meritorius Services Medal (Military) Republic of Singapore

– Meritorius Services Medal (Military) Republic of Korea. (berbagai sumber)

Leave a Reply