Langit Indonesia Kian Perkasa, Prabowo Borong 48 Jet Siluman Buatan Turki

Jet tempur KAAN dikembangkan oleh Turkish Aerospace Industries (TAI atau TUSAS) ini melakukan uji terbang perdana pada 2024 dan akan diproduksi secara masal pada 2028.

Jet tempur KAAN dikembangkan oleh Turkish Aerospace Industries (TAI atau TUSAS) ini melakukan uji terbang perdana pada 2024 dan akan diproduksi secara masal pada 2028.

Jakarta, EDITOR.ID,- Angkatan Udara (AU) Indonesia bakal kian gahar dan ditakuti dunia. Pasalnya, Presiden Prabowo Subianto memborong 48 jet tempur siluman. Pesawat ini dipesan langsung dari pabriknya KAAN, negara Turki. Jet tempur KAAN dikenal sebagai pesawat tempur generasi lima dengan keunggulan sulit dideteksi radar dan bisa digunakan dalam peperangan elektronik.

Pengadaan 48 jet tempur siluman ini seharga Rp 160 triliun. Sebelumnya Prabowo juga memesan 48 jet tempur buatan Perancis, Rafale.

Kontrak pembelian 48 jet tempur KAAN dari Turkiye, resmi ditandatangani pemerintah Indonesia disela rangkaian pameran pertahanan internasional (IDEF) 2025 di Istanbul, Sabtu (26/7/2025).

Penandatanganan itu disebut Kemhan sebagai tindak lanjut dari kesepakatan yang telah ditandatangani oleh kedua negara pada 11 Juni 2025, dalam rangkaian acara Indo Defence di Jakarta, yang disaksikan langsung oleh Presiden Prabowo.

Lantas sejauhmana kedigdayaan Jet Tempur KAAN?

Sosok dan Spesifikasi Jet Tempur KAAN

Jet tempur KAAN dikembangkan oleh Turkish Aerospace Industries (TAI atau TUSAS) ini melakukan uji terbang perdana pada 2024 dan akan diproduksi secara masal pada 2028.

Dilansir dari media spesialis militer, Army Recognition, KAAN adalah pesawat tempur generasi kelima dengan kemampuan siluman yang dikembangkan Turkiye selama hampir satu dekade.

KAAN dirancang untuk misi superioritas udara, serangan jet ini dikenal cukup presisi, penaklukan pertahanan udara musuh (Suppression of Enemy Air Defenses/SEAD), hingga peperangan elektronik.

Untuk melaksanakan tugas itu, jet ini diklaim memiliki kemampuan siluman, supercruise, sensor fusion, dan operasi berbasis jaringan (network-enabled operation), yang memungkinkan pesawat ini beroperasi di udara tanpa mudah terdeteksi oleh musuh.

Kecepatan jet ini mencapai 2.200 km/jam dengan ketinggian hingga 55.000 kaki dan radius tempur hingga sekitar 1.100 km.

Indonesia Pembeli Pertama Jet Turki

Indonesia menjadi pembeli pertama jet tempur ini, yang mana negara lain seperti Azerbaijan, Arab Saudi, Pakistan, dan Malaysia telah menyatakan minat mereka juga.

Selain membeli pesawat KAAN, Kepala Biro Informasi Pertahanan Kementerian Pertahanan, Brigjen Frega Wenas Inkiriwang, sebelumnya pernah menyebut kontrak itu juga bagian dari strategi jangka panjang untuk memperkuat kapasitas industri pertahanan dalam negeri.

“Basis industri lokal yang akan dibentuk di Indonesia diharapkan menjadi bukti nyata dari kemitraan yang saling menguntungkan dan berlandaskan pada persahabatan,” ujar Frega.

Dua entitas industri pertahanan nasional, yaitu dari pihak swasta, PT Republik Aero Dirgantara (PT RAD) dan dari BUMN, PT Dirgantara Indonesia (PTDI), ditunjuk sebagai mitra utama dengan Turkish Aerospace Industries dalam pengadaan puluhan jet KAAN ini.

Sebagai anak perusahaan dari Republikorp, PT RAD akan bertanggung jawab dalam pembangunan fasilitas MRO (maintenance, repair, and overhaul) utama jet tempur KAAN di Indonesia.

Selain itu, PT RAD juga akan mengurus operasionalisasi pusat pelatihan dan simulator yang mendukung kesiapan personel TNI AU, serta peningkatan kapasitas dukungan domestik yang mandiri dan berkelanjutan.

“Ini adalah momentum strategis untuk membawa kemampuan manufaktur dan peningkatan kapasitas dukungan domestik yang mandiri,” ujar Norman Joesoef, pimpinan Republikorp.

Sedangkan PTDI, disebut berperan dalam proses perakitan akhir sebagian unit KAAN di Indonesia, kolaborasi rekayasa dan berbagi teknologi bersama TUSA?, serta kesiapan teknis dan pemeliharaan industri untuk memperkuat dukungan logistik nasional.

Selain jet KAAN, Republikorp juga bekerja sama dengan Roketsan Turkiye dalam memproduksi sistem rudal CAKIR ke Indonesia.

Perusahan ini juga bekerja sama dengan PAVO Group dari Turkiye dalam menyediakan sistem intelijen canggih untuk TNI di berbagai matra, mencakup data fusion, pengawasan, pengamanan komunikasi, dan infrastruktur pendukung pengambilan keputusan.

Kemudian, Republikorp juga bekerja sama dengan perusahaan Perancis SECAMIC dalam pengembanganan layanan Maintenance, Repair, and Overhaul (MRO) yang mencakup sejumlah pesawat sipil dan militer di Indonesia.

Menganalisa Kekuatan Udara Indonesia

Pengamat militer dari Badan Riset dan Inovasi Nasional, Muhamad Aripin mengungkapkan bahwa pembelian pesawat tempur KAAN memang dibutuhkan karena jumlah dan kekuatan armada udara Indonesia masih jauh dari ideal.

Hal itu, kata Aripin, bisa dilihat jika dilakukan simulasi operasi tempur. Misalnya, terjadi gangguan serentak di wilayah alur laut kepulauan Indonesia (ALKI).

“Idealnya kan AU dan AL kita bisa merespon serentak juga simultan saat ada ancaman. Tapi dalam kenyataannya itu tak demikian. Yang bisa dikerahkan itu, hanya yang ada di Jawa atau Sumatra. Sedangkan untuk ALKI lainnya tidak begitu. Jadi ada ketimpangan kekuatan di antara struktur yang kita bangun sendiri,” kata Aripin.

Selain ketersediaan dan keefektifan yang masih tidak ideal, kata Aripin, kekuatan dan teknologi jet tempur Indonesia pun masih terbatas.

Tulang punggung kekuatan udara Indonesia masih bertumpu pada jet-jet tempur generasi empat dan sebelumnya.

Pertama adalah jet tempur Sukhoi buatan Rusia. Indonesia memiliki 11 unit Suhkoi Su-30 MK2 Flanker yang bergabung ke TNI sejak 2013 dan lima unit Sukhoi Su-27 yang tiba 2009. Su-27 dan Su-30 yang ditempatkan di Lanud Makassar ini tergolong generasi empat pesawat tempur jet.

Kedua adalah jet tempur F-16 Falcon buatan AS. TNI AU mengoperasikan 33 unit jet tempur seri A, B, C dan D ini sejak 1988. Selama 32 tahun di TNI-AU, pengadaan F-16 Falcon ini dilakukan secara tambal sulam dan kini akan memasuki masa pensiun.

Ketiga adalah satu skadron jet tempur ringan Hawk-200 buatan British Aerospace, Inggris. Selain dioperasikan sebagai jet tempur taktis, BAE Hawk-200 ini juga menjadi ajang latihan sebelum para pilot TNI-AU “dipromosikan” ke skadron F-16 Falcon.

Indonesia 33 Pesawat Tempur

Sekjen Kementerian Pertahanan, Marsekal Madya TNI Donny Ermawan Taufanto, mengatakan mayoritas pesawat tempur yang dimiliki Indonesia sudah berusia lebih dari 20 tahun, sehingga perlu pengadaan untuk memperkuat armada udara.

Donny menjelaskan, Indonesia saat ini mengandalkan 33 pesawat F-16 AM, BM, C dan D, yang sudah berusia lebih dari 30 tahun. Kemudian 16 pesawat Sukhoi 27 dan 30 dengan usia hampir 20 tahun sebagai pesawat tempur utama.

“Keterbatasan beberapa suku cadang pesawat serta keterbatasan jenis dan jumlah peluru kendali juga menyebabkan kesiapan tempur pesawat F16 dan Sukhoi 27 dan 30 tidak maksimal,” ujar Donny pada tahun 2022.

TNI AU Targetkan Miliki 344 Unit

Padahal, untuk memenuhi alutsista MEF tahap III periode 2020-2024, TNI AU menargetkan bisa memiliki 344 unit pesawat, 32 unit radar, 72 rudal, dan 64 unit penangkis serangan udara.

Pembelian pesawat tempur ini bukan yang pertama kali di bawah komando Prabowo.

Saat menjabat sebagai Menteri Pertahanan, Prabowo juga memesan 42 jet tempur Rafale dari Perancis dengan nilai kontrak lebih dari Rp 130 triliun dan membeli sederet persenjataan lainnya.

Dari sisi pertahanan, pakar militer BRIN, Muhamad Haripin, menyebut pembelian pesawat jet tempur memang dibutuhkan dalam rangka modernisasi kekuatan pelindung langit Indonesia.

Namun, katanya, pemerintah harus secara seksama mempertimbangkan skema pembiayaan, kesiapan personel, dan pembaruan doktrin agar pesawat-pesawat itu dapat optimal dan berguna.

“Jadi sulit untuk memenuhi kebutuhan alutsista yang berteknologi tinggi, kalau anggaran militer habis buat belanja pegawai,” tambah Haripin.

Faktor selanjutnya yang perlu dipertimbangkan, kata Haripin, adalah kesiapan personel dan sistem pertahanan di Indonesia dalam menerima beragam alutsista yang dipesan dari beragam negara.

Terdapat beberapa komponen penting dalam militer, yang dikenal TEPIDOIL, yaitu pelatihan, peralatan, manusia, informasi, doktrin, organisasi, infrastruktur, dan logistik.

“Setiap alutsista dari negara lain itu punya sistem pengoperasian yang berbeda-beda. Nah ketika kita memiliki banyak supplier, itu menjadi satu tantangan tambahan bagi personel atau operator yang menjalankan alutsistanya.”

Jet Tempur KAAN, Tulang Punggung Masa Depan Udara Indonesia

Pengamat militer dari Institute for Security and Strategic Studies (ISESS) Khairul Fahmi berpandangan bahwa pembelian KAAN telah tepat dan rasional, karena dilakukan dengan skema kontrak jangka panjang.

“Artinya kita bisa tetap menjaga kesinambungan modernisasi tanpa harus mengorbankan stabilitas keuangan. Jadi menurut saya ini bukan belanja impulsif, tapi bagian dari strategi, ada pertimbangan geopolitiknya, efisiensi industrinya, dan juga kesinambungan kekuatan,” ujar Fahmi.

Fahmi melihat jet KAAN akan menjadi tulang punggung TNI AU pada 2030 mendatang. Sedangkan pembelian jet Rafale dari Perancis akan menjadi penjaga langit pada tahun depan.

“Jadi yang penting saya kira pengawasan dan pengelolaannya yang harus diawasi dengan baik. Jangan sampai kita bisa mengadakan tapi tidak bisa memelihara dan merawat,” tambah Khairul.

Belanja Jet Tempur dan Alusista di Era Prabowo

Sebelumnya, saat menjadi Menhan pada 2022, Prabowo juga menyepakati kontrak pembelian 42 unit jet tempur Rafale dari perusahaan Dassault Aviation senilai Rp 132 triliun.

Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal Mohamad Tonny Harjono menyatakan, enam unit pertama diperkirakan tiba pada awal 2026.

Dalam proses pembuatan Rafale, terjadi juga kerja sama alih teknologi (ToT) dan offset antara Dassault Aviation, PT Dirgantara Indonesia, dan PT Len Industri.

Rafale merupakan pesawat tempur canggih generasi 4.5 yang menjadi salah satu pesawat andalan negara–negara anggota NATO.

Rafale termasuk dalam kategori pesawat omnirole sehingga mampu melakukan berbagai jenis misi mulai dari superioritas udara, pertahanan udara, dukungan udara jarak dekat, serangan in-depth, pengintaian udara, dan serangan anti-kapal.

Prabowo juga membeli 12 unit Mirage 2000-5, pesawat tempur bekas Angkatan Udara Qatar, senilai Rp 11,8 triliun dan dua pesawat angkut Airbus A400M.

Selain pesawat, Prabowo juga membeli dua kapal selam Scorpene asal Perancis, kapal perang fregat, dan beragam alutsista lainnya. (tim)

Leave a Reply