AU Indonesia Diisukan Bakal Datangkan Jet Tempur J-10? Seperti Apa Kedigdayaannya

Wakil Menteri Pertahanan (Wamenhan) Donny Ermawan menyatakan pembelian pesawat tempur J-10 dari China masih sebatas rumor. Hingga kini masih dalam penawaran dan belum ada tim yang dikirim ke negara tersebut.

Sosok Jet Tempur Chengdu J-10 C Buatan China

Jakarta, EDITOR.ID,- Militer Indonesia terus meremajakan dan meningkatkan kekuatan alat pertahanannya. Usai mendatangkan puluhan jet tempur Rafale buatan Perancis. Konon kabarnya Angkatan Udara RI akan menambah lagi kekuatan udaranya dengan mempertimbangkan untuk mengakuisisi 42 unit pesawat tempur Chengdu J-10 Vigorous Dragon dari Tiongkok.

Kabar ini mengemuka setelah muncul laporan dari Intelligence Online pada 26 Mei 2025. Dalam laporan tersebut menyebutkan bahwa pemerintah Indonesia berencana membeli jet tempur bekas milik Angkatan Udara Tentara Pembebasan Rakyat Tiongkok (PLAAF).

Dalam proposal tersebut, disebutkan bahwa sejumlah pilot TNI AU akan menjalani pelatihan langsung di Tiongkok guna mempelajari sistem dan operasional jet tempur J-10.

Jet-10 yang ditawarkan merupakan unit aktif dari skuadron PLAAF, sehingga proses pengiriman dapat dilakukan dalam waktu relatif singkat tanpa perlu menunggu produksi baru.

Namun, sejauh mana kedigdayaaan burung besi ini yang membuat begitu menarik bagi Indonesia?

Mengutip Global Times, seorang pakar militer Tiongkok menyebut bahwa kehadiran J-10 mencerminkan kemajuan signifikan dalam teknologi pertahanan Negeri Tirai Bambu. Jet tempur ini bukan hanya simbol kemampuan produksi dalam negeri, tetapi juga menjadi representasi dari meningkatnya pengaruh global industri militer Tiongkok.

Zhang Xuefeng, pengamat militer Tiongkok, menekankan bahwa makna J-10 jauh melampaui sekadar status sebagai pesawat buatan sendiri. Ia merepresentasikan keberhasilan Tiongkok dalam mengembangkan sistem tempur yang modern dan mandiri, sekaligus memperkuat posisi strategis negaranya di tengah persaingan global.

Jet tempur J-10 asal China tersebut sempat mencuri perhatian dunia. Sejak mulai dioperasikan pada 2006, J-10 dengan cepat menjadi tulang punggung kekuatan udara Tiongkok. Bahkan, varian J-10C telah mencatat keberhasilan dalam operasi militer nyata, memberikan validasi penting terhadap performanya. Hal ini menjadikannya sebagai salah satu dari sedikit jet tempur Tiongkok yang memiliki rekam jejak tempur di dunia nyata.

Dampak Strategis di Kawasan Asia

Keberhasilan operasional J-10C tak hanya penting bagi Tiongkok, tetapi juga mempengaruhi keseimbangan militer di Asia Selatan. Pakistan, yang juga mengoperasikan J-10C, memanfaatkan jet ini sebagai penyeimbang terhadap kekuatan udara India yang mengandalkan jet Rafale dan Su-30MKI.

Dalam beberapa tahun terakhir, seri J-10 juga tampil dominan di berbagai pameran pertahanan global, termasuk di ajang LIMA 2025 di Malaysia. Di sana, varian ekspor J-10CE menarik banyak perhatian pengunjung. Fakta bahwa jet ini telah mencetak keberhasilan tempur di medan sesungguhnya membuat banyak pihak mengubah pandangan skeptis sebelumnya.

Teknologi Sensor dan Sistem Tempur Terintegrasi

Keunggulan J-10C tidak hanya terletak pada kemampuannya di udara, tetapi juga pada integrasi sistem tempur modern yang dimilikinya. Jet ini mampu beroperasi dalam jaringan tempur terintegrasi (combat networking), di mana unit udara, darat, dan laut dapat saling berbagi informasi secara real-time-suatu keunggulan penting dalam peperangan modern.

Tiongkok juga berhasil mengembangkan sistem kendali terbang digital fly-by-wire dengan empat tingkat redundansi, konfigurasi aerodinamika canggih, serta mesin turbofan berperforma tinggi. Semua elemen ini dirancang dalam sistem produksi berbasis digital dan material canggih seperti komposit dan titanium.

Siap Integrasi dengan Senjata Modern

J-10C dirancang untuk kompatibel dengan berbagai persenjataan mutakhir, termasuk rudal udara-ke-udara PL-10 dan PL-15. Kedua rudal ini terkenal dengan jangkauan panjang dan sistem pemandu canggih, memungkinkan serangan dari luar jangkauan visual lawan (beyond visual range).

Mampu Menjalankan Perang Elektronik

Satu lagi keunggulan signifikan adalah kapabilitas perang elektronik J-10C. Jet ini mampu mengganggu radar lawan serta meminimalkan kemungkinan deteksi. Dalam konteks pertempuran modern, kemampuan ini sangat krusial dalam memastikan dominasi udara dan keselamatan misi.

Platform Fleksibel dan Terus Ditingkatkan

J-10C bukan pesawat tempur yang stagnan. Tiongkok secara aktif melakukan peningkatan perangkat lunak dan perangkat keras, termasuk radar AESA terbaru, sistem data link, dan antarmuka kokpit yang terus diperbarui agar relevan dengan kebutuhan tempur masa depan.

Kekuatan Sistem, Bukan Sekadar Jet

Menurut Justin Bronk, peneliti senior di Royal United Services Institute (RUSI), efektivitas tempur modern tak lagi hanya bergantung pada kecanggihan pesawat, tetapi juga pada keseluruhan ekosistem pendukung: mulai dari pelatihan pilot, taktik, senjata, hingga sistem komando dan peperangan elektronik. Dalam hal ini, J-10C dinilai telah memenuhi semua aspek sistemik tersebut.

Efektivitas Biaya yang Kompetitif

Salah satu alasan utama J-10 menarik minat banyak negara adalah harganya yang kompetitif. Sebagai ilustrasi, India harus merogoh kocek hampir US$200 juta per unit untuk jet Rafale, termasuk suku cadang dan pelatihan.

Sebaliknya, J-10 menawarkan kinerja setara dengan harga yang jauh lebih terjangkau. Tiongkok juga fleksibel dalam menyediakan berbagai varian sesuai kebutuhan dan anggaran pembeli.

Wamenhan Sebut Pembelian Jet Tempur J-10 dari China Masih Rumor

Wakil Menteri Pertahanan (Wamenhan) Donny Ermawan menyatakan pembelian pesawat tempur J-10 dari China masih sebatas rumor. Hingga kini masih dalam penawaran dan belum ada tim yang dikirim ke negara tersebut.

“Itu masih rumor lah ya,” kata Donny, Rabu (4/6/2025).

Donny mengungkapkan, rumor tersebut mencuat usai kepala staf angkatan mengunjungi China untuk menyaksikan air show yang kemudian didapati adanya tawaran untuk pembelian pesawat yang dimaksud.

“Termasuk evaluasi kita juga lah untuk apakah bisa kita menggunakan Jet tersebut ya untuk alutsista kita,” ujarnya.

Donny menyebutkan, Indonesia merupakan negara netral yang tidak memiliki batasan bekerja sama dengan negara mana pun terkait pengadaan alutsista.

“Sehingga kalau memang kita evaluasi, ini pesawat ini bagus, ya memenuhi kriteria yang kita tetapkan, apalagi harganya murah, ya kenapa tidak,” ucapnya.

Donny melanjutkan, Indonesia memiliki kriteria dalam pembelian jet tempur, mulai dari integrasi sistem dengan yang dimiliki, kemampuan pesawat, jarak terbang, hingga kelengkapan senjata.

“Nah itu juga harus kita lihat nanti ya. Dan itu belum, kita belum ke arah sana. Ini kan baru penawaran, lalu kemudian kita melihat kemungkinannya. Belum, kita belum kirim tim untuk mendalami itu juga,” ujarnya. (tim)

Leave a Reply