Jakarta, EDITOR.ID,- Wartawan senior yang juga pengurus Asosiasi Media Digital Indonesia (AMDI) Asri Hadi sangat berbangga hati. Ia mendapatkan buku dari sang penulisnya, Sri Suparni. Bukunya berjudul “Memahat Jejak Merajut Asa”. Buku ini sudah diluncurkan pada 18 Oktober 2024, namun hingga kini masih menarik untuk dibaca dan dipahami.
“Saya sangat berterima kasih menerima buku dari penulisnya langsung Ibu Sri Suparni. Beliau adalah istri dari Ketua Umum DPP Golkar dan Menteri ESDM Bahlil,” ujar Asri Hadi yang juga Ketua Dewan Redaksi EDITOR.ID saat bersama Sri Suparni dalam sebuah acara di Jakarta, Kamis (2/10/2025)
Buku yang ditulis Sri Suparni ini mengisahkan bagaimana perjuangan hidup penulis di Papua dan pengalaman pribadinya. bersama suaminya Bahlil Lahadalia di Papua. Judul buku “Memahat jejak” berarti membuat atau membentuk dan mengukir jejak-jejak pengalaman dan perjalanan hidup yang berkesan.
“Merajut asa” berarti menenun atau menyatukan harapan, impian, dan cita-cita untuk masa depan yang lebih baik.
Secara keseluruhan, frasa ini menyiratkan proses aktif dalam membangun kehidupan, melalui pengalaman yang terbentuk (memahat jejak), dan tetap memiliki semangat optimisme untuk mencapai tujuan (merajut asa).
“Pesan itulah yang ingin disampaikan sang penulisnya Sri Suparni, tentang kisah perjuangan beliau,” ujar Asri Hadi.
Buku ini mengisahkan perjalanan hidup perempuan Jawa yang kuliah dan meniti karir di Papua. Sri Suparni ingin berbagi pengalaman pribadinya sebagai sosok aktivis perempuan, wirausahawati, istri dari seorang menteri di Kabinet Indonesia Maju yang yang dipetik dari situasi sulit.
Buku yang dieditori oleh Ady Suriadi dan Rusman Madjulekka itu juga membahas kisah hidup seorang Sri Suparni yang berawal dari desa ditepi sungai Bengawan Solo, di pelosok kabupatan Sragen, Jawa Tengah.
Melalui buku ini, istri Bahlil Lahadalia ingin agar kaum perempuan menjadi pribadi yang tangguh dan bisa mengambil hikmah dari setiap iktiar dan langkah yang dijalaninya.
Buku ini membawa pesan dari sang penulisnya, agar tiap perempuan tak banyak mengeluh, gampang menyerah atau berpasrah diri, meski berada atau ditugaskan di tempat yang tak diinginkan.
Poin pesannya dimanapun kita berada di tempat yang menurut kita tidak enak, jauh misalnya di Papua, atau secara ekonomi tidak menguntungkan bagi kita, jangan kecewa dulu. Karena tidak ada proses yang sia-sia.
Dalam buku ini, turut membahas pengalaman organisasi, aksi-aksi sosial kemanusiaan, dan pemberdayaan UMKM. Buku ini ditujukan terutama untuk adik-adik perempuan dan generasi milenial yang baru meniti karir.
Berbagai kolaborasi ini membuktikan ketika hati dan pikiran bersatu, segala tantangan dapat diatasi. Kerja sama ini tidak hanya menghasilkan karya, tetapi juga memberi makna di setiap jejak yang kita tempuh.
Berbagai kolaborasi ini membuktikan ketika hati dan pikiran bersatu, segala tantangan dapat diatasi. Kerja sama ini tidak hanya menghasilkan karya, tetapi juga memberi makna di setiap jejak yang kita tempuh.
Sang penulis Sri Suparni berharap, sekelumit kisahnya yang dibukukan itu dapat menjadi pembelajaran hidup dan inspirasi bagi generasi muda mendatang. Terlebih untuk siapa saja yang memutuskan untuk menjadi pelaku UMKM yang bisa naik kelas.
“Ini bisa diambil ke seluruh aspek hidup, tetapi memang target utamanya adik-adik saya, kaum perempuan yang selama ini belum diberdayakan dan dioptimalkan potensi mereka,” ungkap Sri Suparni disela-sela meluncurkan bukunya Oktober 2024 silam.
Hasil penjualan buku ini akan disalurkan melalui Yayasan Hanida sebagai bentuk donasi. (*)












