JAKARTA, EDITOR.ID — Di era modern, logika sukses kita cukup sederhana: makin tinggi pendidikan dan jabatan seseorang, makin mentereng pula rumah, mobil, dan isi rekeningnya. Namun, seluruh standar keberhasilan materi itu hancur berantakan jika kita membaca rekam jejak Haji Agus Salim.
Sebuah adegan legendaris pernah disaksikan langsung oleh diplomat senior Mohammad Roem di sebuah rumah kontrakan kawasan Jatinegara. Kala itu, hujan deras mengguyur. Begitu melangkah masuk, Roem mendapati pemandangan absurd sekaligus mengiris hati: sang Mantan Menteri Luar Negeri Republik Indonesia sedang berdiri memegang payung yang mengembang di dalam dapur.
Bukan untuk gaya-gayaan, melainkan demi memayungi sang istri, Zainatun Nahar, yang sedang memasak di bawah atap bocor. Ironisnya, alih-alih meratapi nasib atau mengeluh, sosok berotak cemerlang itu justru tertawa renyah menikmati momen tersebut.
Bagaimana mungkin salah satu otak paling brilian di Nusantara—yang menguasai belasan bahasa asing hingga membuat diplomat Eropa minder—bisa hidup melarat hingga ke titik ekstrem?
Privilese yang Dibuang Demi Harga Diri
Lahir dengan nama Mashudul Haq (Pembela Kebenaran), Agus Salim sebenarnya memegang “kartu AS” kehidupan sejak lahir. Ayahnya seorang jaksa kolonial. Ia menempuh pendidikan di sekolah elite Belanda (HBS) dan lulus sebagai lulusan terbaik se-Hindia Belanda. Ia adalah anak emas sistem kolonial.
Namun, ego dan harga dirinya melampaui fasilitas yang ditawarkan zaman.
Saat beasiswa kedokterannya ke Belanda diganjal alasan rasial, R.A. Kartini sampai melobi pejabat kolonial agar dana beasiswanya (sebesar 4.800 gulden) dialihkan untuk Salim. Bukannya berterima kasih, Salim muda justru menolaknya mentah-mentah.
Ia menegaskan hanya ingin diterima karena kapasitas otaknya, bukan karena belas kasihan atau belas kasih pihak lain. Di usia 19 tahun, harga diri seorang Agus Salim terbukti tak bisa dibeli.
Troll Epik dan “Skakmat” Elegan di Volksraad
Prinsip dan kecerdasannya membuat Salim tumbuh menjadi sosok orator yang sangat ditakuti lawan politik. Ia dikenal memiliki gaya debat yang tajam, jenaka, sekaligus savage.
Cerita ikonik terjadi saat Salim berpidato di sidang Volksraad (dewan rakyat bentukan Belanda). Ketika ia sedang memaparkan argumennya, beberapa anggota dewan mencoba menginterupsi dengan mengeluarkan suara ejekan menyerupai kambing: “Mbeeeek… Mbeeeek…” untuk menyindir jenggot panjangnya.
Tanpa emosi sedikit pun, Salim menghentikan pidatonya, tersenyum renyah, lalu berucap tenang di depan mikrofon:
”Tunggu sebentar. Saya merasa sangat bahagia karena pidato saya tidak hanya dihadiri oleh manusia, tetapi juga oleh saudara-saudara dari kaum kambing. Sayangnya, saya tidak paham bahasa kambing. Saya mohon yang bersuara kambing untuk menunggu di luar ruangan sampai manusia selesai berbicara.”
Satu ruangan seketika hening. Ejekan politik itu dibalas dengan skakmat yang sangat elegan.
Sisi Pahil Leiden is Lijden: Memimpin Itu Menderita
Di balik segala reputasi besar dan kecerdasannya, ada realita pahit yang kerap tertutupi romantisme sejarah. Agus Salim adalah penganut teguh prinsip Leiden is Lijden—bahwa memimpin adalah jalan menuju penderitaan, bukan ajang menumpuk kekayaan.
Sebagai bentuk perlawanan penuh terhadap sistem kolonial, ia bahkan menolak memasukkan anak-anaknya ke sekolah formal Belanda dan memilih metode homeschooling yang ia ajarkan sendiri. Konsekuensinya, kenyamanan finansial dan kepastian administratif keluarganya menjadi taruhan.
Sepanjang hidupnya, Salim memboyong keluarganya berpindah dari satu kontrakan kumuh ke kontrakan lain, sering diusir karena nunggak sewa, memakai pakaian tambal-sulam, dan nyaris tidak meninggalkan harta benda apa pun saat tutup usia.
Pilihan hidup yang keras kepala ini beruntung didampingi oleh ketabahan luar biasa dari istrinya dan anak-anaknya yang mau menanggung beban kemelaratan tersebut tanpa sepatah kata keluhan.
Warisan yang Jauh Lebih Mahal dari Rumah Mewah
Membaca riwayat Haji Agus Salim memberi perspektif baru bahwa pahlawan bukanlah figur tanpa cela atau karakter dongeng. Jika seluruh gelar diplomatik dan posisi menterinya dilepas, yang tersisa adalah sosok pria dengan integritas yang utuh—seorang intelektual yang secara sadar menolak tunduk pada materi maupun kekuasaan.
Ia memang gagal membelikan rumah dengan atap yang utuh tanpa bocor bagi keluarganya. Namun dari bawah payung yang basah di kontrakan melarat itu, ia meninggalkan warisan yang jauh lebih bernilai: sebuah bukti sejarah bahwa di tanah ini, pernah berdiri seorang manusia Indonesia yang tidak bisa dibeli dengan nominal berapa pun. (*)












