Penemuan Sisa Kejayaan Kerajaan Galuh Purba di Hutan Igir Karem Purbalingga

Historiografi lokal dan arkeologi di Jawa Tengah bagian barat, mengenai penemuan Keberadaan Kerajaan Galuh Purba (abad ke-1 hingga ke-6 M) sering dianggap sebagai akar dari peradaban besar di tanah Jawa, mendahului Kerajaan Galuh di Jawa Barat dan Mataram Kuno.

Situs Igir Karem keberadaannya di punggung bukit pada ketinggian sekitar 791 mdpl, formasi batuan yang tak lazim ini mendadak mengusik nalar banyak pihak, dari geolog, arkeolog, sejarawan, hingga masyarakat awam yang oleh warga lokal disebut sebagai Igir Karem. Kawasan penemuan situs ini berada di area hutan yang dikelola oleh Perhutani, yang belakangan mulai memasang papan penanda sebagai bentuk pengenalan situs.

Situs Igir Karem keberadaannya di punggung bukit pada ketinggian sekitar 791 mdpl, formasi batuan yang tak lazim ini mendadak mengusik nalar banyak pihak, dari geolog, arkeolog, sejarawan, hingga masyarakat awam yang oleh warga lokal disebut sebagai Igir Karem. Kawasan penemuan situs ini berada di area hutan yang dikelola oleh Perhutani, yang belakangan mulai memasang papan penanda sebagai bentuk pengenalan situs.

Penemuan situs batuan unik di Hutan Igir Alas Karem, Desa Karangjambu, Purbalingga, telah menarik perhatian luas masyarakat sejak viral di media sosial pada pertengahan Desember 2025.
Penemuan situs ini mulai menarik perhatian publik secara luas setelah viral di media sosial pada pertengahan Desember 2025.

Keberadaannya berada di punggung bukit pada ketinggian sekitar 791 mdpl, formasi batuan yang tak lazim ini mendadak mengusik nalar banyak pihak, dari geolog, arkeolog, sejarawan, hingga masyarakat awam yang oleh warga lokal disebut sebagai Igir Karem.

Kawasan penemuan situs ini berada di area hutan yang dikelola oleh Perhutani, yang belakangan mulai memasang papan penanda sebagai bentuk pengenalan situs.

editor.id memperoleh informasi penemuan sejarah di wilayah ini melalui laman Museum Prof. Dr. R. Soegarda Poerbakawatja atau akun resmi pemerintah daerah setempat.

Susunan batu yang menyerupai punden berundak, bahkan kemiripannya dengan situs megalitik seperti Gunung Padang di Jawa Barat, memunculkan dugaan bahwa situs Igir Alas Karem di Desa Karangjambu menjadi tanda tanya masyarakat Purbalingga apakah benar pernah menjadi bagian dari aktivitas manusia purba.

Purbalingga bila kita perhatikan kedua kata tersebut. Purba = Purwa artinya pertama, Lingga batu berdiri. Jadi itu adalah Lingga peninggalan jaman purba, makanya daerah tersebut dinamai Purbalingga.

Sepertinya penemuan situs di Purbalingga baru-baru ini boleh jadi peninggalan Lingga purba jaman kerajaan Hindu Budha . Cikal bakal dari peradaban kerajaan kuno di Purbalingga, penemuan ini terbilang luar biasa peradaban nenek moyang Indonesia pada era megalitikum. artinya penemuan situs ini sangat perlu di ekplorasi lebih lanjut.

Bahkan ada netizen dari Bali mengatakan sangat mirip Meru di Bali walaupun yg di Bali terbuat dari bahan organik pada bagian atapnya.

Warga setempat menjelaskan: Batu-batu banyak tersusun yang di temukan di area gugusan bukit yg terbentang dari Desa Karangjambu, Sirau, Dusun Arca Tunjungmuli, Bojong Sana Panusupan, bahkan temuan yang di Sirau sudah sering di tinjau dari ahli sejarah dan arkeologi serta badan terkait situs yg terkenal dengan Pasar Tejanyana. Bentuk bebatuan memang kebanyakan seperti itu, fariasi yg beragam dan terkumpul si tempat tertentu.

Diketahui nama Galuh Purba, sebuah kerajaan legenda yang hidup dalam ingatan kolektif masyarakat Jawa, kembali mengemuka seiring berkembangnya narasi tersebut

Dengan diketemukan situs ini, yang dikenal warga lokal sebagai “Batu Purba Igir Alas Karem”, menampilkan formasi punden berundak-undak seperti candi batuan dengan bentuk simetris yang konsisten, memicu perdebatan mengenai asal-usulnya, apakah terbentuk secara alami atau merupakan artefak buatan manusia dari peradaban kuno, seperti diperkirakan tumpukan bebatuan itu memang Candi Galuh Purba.

Hal tersebut mengindikasikan cikal bakal peradaban megalitik. Tak sedikit yang membandingkannya dengan Situs Gunung Padang di Jawa Barat, sebuah situs yang hingga kini masih menyimpan kontroversi dan teka-teki panjang.

Wilayah Purbalingga, khususnya lereng tenggara Gunung Slamet, memang kaya akan situs megalitik dan prasejarah, seperti situs perbengkelan neolitik dan persebaran punden berundak lainnya.

Saat ini belum ada pernyataan resmi dari lembaga arkeologi nasional yang mengonfirmasi bahwa Situs Igir Alas Karem yang baru saja diketemukan warga sekitar adalah situs megalitik buatan manusia?

Sebagian besar informasi saat ini masih bersifat spekulasi budaya dan pengamatan permukaan yang memerlukan ekskavasi lebih lanjut.

Melalui situs resmi Museum Prof. Dr. R. Soegarda Poerbakawatja yang mengelola temuan sejarah di Purbalingga, hingga akhir Desember 2025, status situs tersebut masih menjadi subjek penelitian intensif oleh para ahli arkeologi dan pemerintah daerah. Kepastian mengenai asal-usulnya belum dapat dipastikan secara resmi.

Pejabat yang berwewenang dari Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Purbalingga (Dindikbud Purbalingga), yang mengawasi urusan kebudayaan dan situs sejarah lokal melalui website resmi Pemerintah Kabupaten Purbalingga, untuk pengumuman resmi dari pemerintah daerah, ditunggu-tunggu warga disekitar bahkan para pemerhati budaya.

Museum Prof. Dr. R. Soegarda Poerbakawatja merupakan museum lokal yang kemungkinan akan menjadi pusat informasi jika situs tersebut terbukti memiliki nilai arkeologis.

Meskipun baru mulai dikenal luas pada tahun 2025, situs ini dianggap memiliki potensi sebagai destinasi wisata sejarah dan budaya di wilayah lereng tenggara Gunung Slamet, yang memang dikenal kaya akan persebaran situs megalitik.

Historiografi lokal dan arkeologi di Jawa Tengah bagian barat, mengenai penemuan Keberadaan Kerajaan Galuh Purba (abad ke-1 hingga ke-6 M) sering dianggap sebagai akar dari peradaban besar di tanah Jawa, mendahului Kerajaan Galuh di Jawa Barat dan Mataram Kuno.

Informasi Prasasti maupun temuan artefak terbuat dari emas untuk melihat visualisasi atau data ilmiah terkait temuan di Bukateja, merujuk pada katalog Prasasti Bukateja berupa lempengan emas bertuliskan mantra Buddha, ini dapat dipelajari melalui jurnal arkeologi yang dipublikasikan oleh Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Pusarlar).

Temuan ini menjadi bukti kuat pengaruh Buddhisme di wilayah aliran Sungai Serayu pada masa itu.

Kemudian Situs Bengkel Purba Ponjen seperti yang diungkapkan dari hasil penelitian Prof. Harry Truman Simanjuntak, bahwa di Situs Tipar, Desa Ponjen, menunjukkan bahwa Purbalingga adalah pusat teknologi metalurgi purba.

Temuan Prof. Harry Truman Simanjuntak ini terletak di Kecamatan Karanganyar, Purbalingga. Lalu temuan alat batu dan sisa peleburan logam membuktikan bahwa masyarakat di lereng Gunung Slamet sudah memiliki spesialisasi pekerjaan (pengrajin), yang merupakan ciri khas struktur masyarakat kerajaan yang mapan pada era itu.

Adapun temuan situs di Hutan Irgi Alas Karem dicurigai sebagai Arsitektur Megalitikum (Menhir & Punden). Hal tersebut dikarenakan struktur di Desa Dagan dan Situs Bandingan menunjukkan kesinambungan budaya dari masa megalitikum ke masa sejarah (Hindu-Budha).

Dokumentasi visual dan panduan lokasi sering diperbarui oleh Dinas Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata (Dinporapar) Purbalingga melalui program pelestarian cagar budaya.

Relevansi dengan Desa Onje. Keberadaan Desa Onje di Kecamatan Mrebet, ditenggarai memegang peranan kunci dalam transisi sejarah Purbalingga. Selain temuan fosil Stegodon, Onje dianggap sebagai pusat pemerintahan kuno sebelum masa Kadipaten Purbalingga di bawah Mataram Islam. Hal ini memperkuat teori bahwa wilayah ini merupakan “tanah tua” yang secara konsisten menjadi pusat pemukiman sejak masa Galuh Purba.

Bagi siapapun peneliti atau peminat sejarah Purbalingga era masa lalu, disarankan mengunjungi Museum Prof. Dr. R. Soegarda Poerbakawatja di pusat kota Purbalingga, karena di Museum inilah satu-satunya menyimpan replika dan beberapa artefak asli dari situs-situs yang disebutkan di atas sebagai representasi fisik dari kejayaan Kerajaan Galuh Purba di wilayah tersebut.

Pihak berwenang telah mengimbau masyarakat sekitar penemuan situs purbakala tersebut untuk menunggu hasil penelitian resmi guna menghindari spekulasi yang tidak berdasar. (*)

Leave a Reply