Settia

Vaksin Covid Rusia Disoal Pakar Indonesia

EDITOR.ID, Jakarta,- Penemuan Vaksin anti Covid-19 yang diklaim Presiden Rusia Vladimir Putin sudah mampu menyembuhkan pasien Covid disoal oleh sejumlah ahli kesehatan. Tak terkecuali Profesor Mikrobiologi di Universitas Indonesia, Pratiwi Pujilestari Sudarmono.

Saat Rusia mengumumkan klaim bahwa vaksin temuannya adalah yang pertama di dunia. Namun Profesor Pratiwi mempertanyakan publikasi ilmiah vaksin COVID-19 buatan Rusia itu.

Karena Profesor Pratiwi telah mencoba mencari publikasi ilmiahnya, sama seperti saat China meperkenalkan vaksin COVID-19 Sinovac.

“Vaksin itu kan ada beberapa. Ada virus yang dilemahkan, ada juga virus rekombinan. Nah, vaksin ini pakai yang mana? Kita biasanya bisa membaca hasil publikasinya. Bahkan, Sinovac kemarin bisa kita baca, yang ini tidak,” kata Pratiwi sebagaimana dilansir Liputan6.com.

Publikasi ilmiah, kata Pratiwi, adalah hal yang sangat penting. Jika tidak ada, seluruh dunia bisa meragukannya, “Kalau mau pakai sendiri, dipakai oleh rakyat mereka sendiri, silakan saja. Kalau mereka berkenan dan memang mereka menganggap itu beres.”

Berhubung tidak ada niatan membeli vaksin Sputnik V, Indonesia tak perlu risau. “Kita cuma bisa melihat dan mungkin menunggu publikasinya.”

Publikasi klinis dari vaksin harus jelas, harus mencakup pra-klinis (bahan dasar yang digunakan dalam membuat vaksin), tahap uji klinis, bahkan setelah vaksin itu dipakai harus ada publikasi mengenai dampak dan efektivitas vaksin COVID-19 tersebut.

“Itu semua harus ada. Uji klinik sendiri ada fase I, II, III, IV. Kalau itu enggak ada, masyarakat dunia akan sama kayak kita saat melihat kasus Hadi Pranoto. Klaim ya klaim saja,” ujar Pratiwi.

Kepala Lembaga Biologi Molekuler Eijkman Profesor Amin Subandrio menjelaskan tiap fase harus dilewati untuk mengetahui efek Kejadian Ikutan Pasca-Imunisasi (KIPI). Efeknya bisa jangka pendek atau panjang.

“Masalah keamanan itu ada istilahnya Kejadian Ikutan Pasca-Imunisasi (KIPI). Jadi setiap kali seorang diberi imunisasi itu ada aja kemungkinan terjadinya KIPI, mulai dari yang ringan sampai berat, dan juga jangka pendek sampai jangka panjang. Itulah yang harus diikuti terus,” ujar Amin.

Pada Fase 3, uji vaksin biasanya memakan waktu lama. Inilah mengapa uji vaksin COVID-19 di berbagai negara memakan waktu. Peneliti harus melihat apakah ada efek jangka panjang karena bisa saja yang disuntik sakit.

Selain itu, Fase 3 bisa melibatkan lebih banyak orang ketimbang fase sebelumnya. Lokasi pengujiannya juga di berbagai negara, contohnya vaksin COVID-19 dari China dan Universitas Oxford diuji di beberapa negara.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *