Pesta Rizieq Shihab Bawa Korban, Dua Kapolda dan Dua Kapolres Dicopot

  • Bagikan
Massa Pendukung Rizieq Shihab. Sumber Foto Voi
Massa Pendukung Rizieq Shihab. Sumber Foto Voi

EDITOR.ID, Jakarta,- Pesta penyambutan Rizieq Shihab oleh massa pengikutnya di tanah air dengan kerumunan massa dan mengindahkan Protokol Kesehatan, mulai berimbas membawa korban. Dua Kapolda dan Dua Kapolres dicopot dari jabatannya oleh Kapolri Jenderal Idham Azis.

Kesombongan Rizieq Shihab yang baru saja tiba dari Arab Saudi dengan “menginjak-nginjak” hukum dan terkesan “kebal hukum” dengan mempertontonkan ribuan massa pendukungnya membawa korban dua Jenderal dan Dua Kombes harus kehilangan masa depan karirnya di Kepolisian.

Tabiat dan perilaku Rizieq Shihab dan para pengikutnya yang mengabaikan aturan Protokol Kesehatan mengejutkan publik. Sebagian besar publik memprotes kebijakan pemerintah terkait pencegahan Covid-19 yang “tak berdaya” saat menghadapi Rizieq. Yang akibatnya massa Rizieq sesuka hatinya melanggar Protokol Kesehatan.

Kapolri Jenderal Polisi Idham Azis yang selama ini dikenal sebagai sosok polisi yang tegas tak memberi ampun kepada anak buahnya yang melakukan pembiaran terhadap ulah Rizieq yang terus melanggar aturan Protokol Kesehatan.

Jenderal Idham Azis langsung mencopot Kapolda Metro Jaya Irjen Nana Sudjana dan Kapolda Jawa Barat Irjen Rudy Sufahriadi. Keduanya dicopot karena tidak menegakkan aturan protokol kesehatan.

Irjen Nana bertanggung jawab atas adanya kerumunan massa di markas FPI di Jalan Petamburan, Tanah Abang Jakarta Pusat yang menjadi wilayah tanggung jawabnya sebagai Kapolda Metro.

Sedangkan Irjen Polisi Rudy Sufahriadi bertanggung jawab atas adanya kerumunan massa di kawasan Gadog, Puncak, Jawa Barat yang tidak terkendali hingga membuat jalan lumpuh tak bisa dilintasi.

Kadiv Humas Polri Irjen Argo Yuwono menyampaikan pencopotan Kapolda Metro Jaya Irjen Nana Sudjana dan Kapolda Jabar Irjen Rudy Sufahriadi disebabkan kedua jenderal ini tidak melaksanakan perintah dalam penegakan protokol kesehatan COVID-19.

“Ada dua Kapolda yang tidak melaksanakan perintah dalam menegakkan protokol kesehatan maka diberikan sanksi berupa pencopotan Kapolda Metro Jaya. Kemudian Kedua Kapolda Jawa barat,” ujar Kadiv Humas Polri Irjen Argo Yuwono dalam konferensi pers kepada wartawan, Senin (16/11/2020).

Irjen Pol Argo Yuwono
Irjen Pol Argo Yuwono

Pencopotan kedua jenderal itu tertuang dalam Telegram Rahasia (TR) Kapolri nomor ST 3222/XI/Kep/2020, tanggal 16 November 2020.

Kemudian untuk pemindahan tugas, Irjen Nana dipindahkan sebagai staf Kapolri. Sedangkan, Irjen Rudy Sufahriadi dipindah ke Lembaga Pendidikan dan Pelatihan (Lemdiklat Polri) di Lembang, Bandung.

“Kemudian Irjen Muhammad Fadil Imran Kapolda Jawa Timur diangkat jabatan baru sebagai Kapolda Metro Jaya,” kata dia.

“Irjen Rudi Sufahriadi Kapolda Jawa Barat diangkat dalam jabatan baru sebagai Widekswara tingkat 1 Lemdiklat Polri. kemudian penggantinya Irjen Ahmad Dofiri sebagai Kapolda Jawa Barat,” tegas Argo Yuwono.

Tidak hanya Kapolda Metro Jaya Irjen Nana Sudjana yang dicopot dari jabatannya, Kapolres Metro Jakarta Pusat Kombes Heru Novianto juga dicopot.

Dalam Surat Telegram bernomor ST/3222/XI/KEP/2020 tanggal 16 November 2020, Kombes Heru Novianto digantikan oleh Kombes Hengki Haryadi. Hengki sebelumnya menjabat Analis Kebijakan Madya Bidang Pidana Ekonomi Khusus Bareskrim Polri.

Selain itu, Kapolres Bogor Roland Rolandy dicopot. Posisinya diisi AKBP Harun, yang sebelumnya menjabat Kapolres Lamongan Polda Jatim.

Adapun AKBP Roland Rolandi dimutasi sebagai Wadir Krimsus Polda Jawa Barat.

Posisi AKBP Harun di Polres Lamongan diisi AKBP Miko Indrayana. Miko sebelumnya menjabat Kapolres Kediri.

Sedangkan jabatan Kapolres Kediri dipegang AKBP Eko Prasetyo. Sebelumnya, Eko menjabat Koorspripim Polda Jatim.

Menko Polhukam Mahfud Md menyampaikan pemerintah akan memberi sanksi pada aparat yang tak tegas menegakkan protokol kesehatan. Saat menyampaikan pesan pemerintah ini, Mahfud memberi penekanan.

“Kepada aparat keamanan, kepada aparat keamanan, kepada aparat keamanan,” kata Mahfud Md, mengulang tiga kali objek yang ditujunya dalam jumpa pers soal kerumunan di tengah pandemi COVID-19 ini, di kantornya, Jl Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, siang tadi.

Pencopotan kedua jenderal dan dua Kapolres ini diduga berkaitan dengan pernikahan anak perempuan Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Rizieq Shihab, Najwa Shihab yang digelar dalam rangkaian acara peringatan Maulid Nabi yang digelar pada Sabtu malam, 14 November menjadi sorotan publik.

Selain karena acara ini menimbulkan kerumunan, belakangan Pemprov DKI Jakarta memberikan teguran hingga sanksi yang telah dibayarkan oleh Rizieq sebesar Rp50 juta.

Meski ada sejumlah masyarakat, tanpa kecuali Rizieq Shihab menggunakan masker dan pelindung wajah atau faceshield, namun tetap saja kerumunan yang ditimbulkan dalam acara ini menjadi perhatian masyarakat lainnya.

Saat acara berlangsung, tak ada jaga jarak minimal satu meter sesuai protokol kesehatan pencegah COVID-19. Selain itu, panitia juga tak memberikan penanda, mana tempat yang bisa diduduki dan mana yang tidak.

Di atas panggung pun tidak jauh berbeda situasinya dengan keadaan di bawah panggung tempat jemaah duduk. Para habib dan ulama saling duduk berdekatan tanpa menjaga jarak dan tampak tidak menggunakan masker meski panitia terus meminta agar semua yang hadir menggunakan masker.

Kerumunan yang disebabkan oleh pendukung Rizieq ini bukan hanya sekali itu terjadi. Saat dia baru tiba dari Arab Saudi, para pendukungnya tersebut berkerumun di Bandara Soekarno-Hatta dan di sekitaran rumahnya di kawasan Petamburan untuk menjemput dan melihat dirinya dari dekat.

Selain itu, saat dirinya mengadakan kegiatan di daerah Jawa Barat, kerumunan tanpa mengindahkan protokol kesehatan pencegahan COVID-19 juga terjadi. (tim)

 

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *