Settia

Mengapa Mbak Puti Harus Jadi Walikota Surabaya

Oleh : Aldian Dwi Pamungkas

Ketua GMNI Surabaya/ Mahasiswa ITS Surabaya

Pemilihan Calon Walikota Surabaya menjadi perbincangan hangat bagi warga Surabaya. Semua masih penasaran, siapakah tokoh yang layak dan pantas. Karena tidak mudah untuk mencari pengganti Ibu Risma yang sudah terlanjur dicintai dan menjadi aset milik warga Kota Pahlawan.

Melalui artikel ini penulis ingin membedah peta politik yang ada di kota Surabaya. Pemilihan Walikota kali ini adalah kontentasi politik secara langsung dan terbuka yang ke empat kalinya bagi warga Surabaya dan PDI Perjuangan.

Dalam sejarah pemilihan Walikota tiga kali sebelumnya, PDI Perjuangan mampu menempatkan jagonya memenangkan Pilwali dengan mudah melawan para pesaingnya.

Mudah karena pada Pilwali 2005 PDI Perjuangan sudah memiliki tokoh yang layak dijual yakni Bambang DH yang walaupun hanya dalam dua tahun melanjutkan kepemimpinan Walikota Soenarto Soemoprawiro.

Mantan Guru matematika itu telah melakukan banyak langkah strategis yang merubah wajah kota dan pelayanan birokrasi menjadi lebih baik. Sehingga pasangan calon duet antara Bambang DH dengan Arif Afandi mampu meraih suara 51,3 persen padahal Pilwali diikuti oleh 4 pasangan calon.

Tahun 2010 dengan popularitas dan elektabilitas yang cukup besar, Bambang DH ibarat sendal jepit dipasangkan dengan Bambang-pun pasti akan menang.

Sayangnya karena Undang-Undang Pemilihan Kepala Daerah tidak mengizinkan seorang kepala daerah menjabat lebih dari dua periode, sementara Bambang DH sudah dua periode menjabat Walikota Surabaya, maka DPP PDI Perjuangan menduetkan Bambang DH dengan Risma.

Dimana Bambang DH dipasang hanya sebagai Wakil Walikota yang justru dipasang untuk mendulang suara dan memang pasangan ini akhirnya menang mudah ketika itu.

Selama 2010 sampai dengan 2015 Tri Rismaharini sang suksesor Bambang DH hanya meneruskan program yang sudah dikerjakan Bambang-Arif terutama dalam memelihara dan merawat taman kota Surabaya.

Dan dalam perjalanan waktu elektabilitas perempuan asal Kediri itu terus meningkat bahkan jauh diatas Bambang DH.

Sehingga ketika Tri Rismaharini maju kembali sebagai calon walikota tahun 2015 berpasangan dengan Wisnu Sakti Buana (Ketua DPC PDI Perjuangan Surabaya), pasangan ini menang mudah melawan pasangan Rasiyo-Lucy Kurniasari yang didukung Demokrat, PAN dan beberapa Parpol lain.

Dan kini ketika membedah dan berbicara soal Pilwali tahun 2020 PDI Perjuangan justru jauh lebih baik dari tiga Pilwali sebelumnya. Tapi entah karena Wisnu tidak diberi peran selama menjabat wakil Walikota atau karena faktor apa, mantan Ketua DPC PDI Perjuangan Surabaya ini bukanlah sosok yang kuat sebagaimana pendahulunya Bambang DH dan Risma.

Apalagi rival kali ini adalah Machfud Arifin mantan Kapolda Jatim yang sudah didukung oleh dana yang cukup. Berikut dukungan dari sejumlah Partai Politik yang memiliki kinerja bagus.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *