Kedepankan Gotong Royong, Begini Langkah BPBD Jawa Timur untuk Hadapi Bencana

  • Bagikan
BPBD Jatim
BPBD Jatim

Beberapa langkah telah disiapkan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Timur dalam menghadapi berbagai potensi bencana, utamanya di musim penghujan.

Hal itu disampaikan Sriyono Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Jawa Timur kepada Editor, Jumat (26/11).

Sebagai informasi, Jawa Timur memiliki empat belas potensi bencana.

“Sebelumnya ada dua belas, karena ada pandemi mulai tahun kemarin, dan mulai dilakukan penelitian fenomena likuifaksi saat gempa Palu, sehingga ditemukan potensi likuifaksi, sekarang potensi bencana ada empat belas,” ujarnya

Sriyono mengatakan jika pihaknya sejauh ini fokus untuk menangani bencana alam yang diakibatkan musim penghujan.

“November ini sudah mulai musim penghujan, sehingga sejauh ini bencana masih didominasi banjir, tanah longsor, dan ada angin puting beliung walau tak banyak,” katanya.

Mengenai kesiapan untuk menghadapi bencana, Sriyono mengatakan bahwa san masyarakat berlu diberikan penyadaran terhadap adanya berbagai potensi bencana di sekitarnya.

Mitigasi bencana, menurutnya, adalah salah satu hal yang penting untuk mengantisipasi terjadinya bencana.

“Kesiapan adanya bencana ini, pertama kita mengedepankan adanya penanganan kesiapan masyarakat terhadap adanya bencana, masyarakat kita sosialisasikan, kita lakukan penyadaran, bagaimana masyarakat bisa hidup berdampingan dengan bencana,” jelasnya.

Agar masyarakat memahami potensi bencana, Sriyono mengungkapkan sejauh ini pihaknya memaksimalkan program Desa Tangguh Bencana.

“Kami membentuk Desa Tangguh Bencana, ada edukasi juga misalnya Sekolah Aman Bencana, harapannya masyarakat nanti bisa tangguh, tangkas, dan tanggap dalam menghadapi bencana,” tuturnya.

Agar penanganan kebencanaan optimal, Sriyono mengatakan BPBD Jawa Timur terus koordinasi aktif dengan BPBD di tingkat kota/kabupaten.

“BPBD Jawa Timur memiliki Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops), yang sudah terhubung dengan kabupaten kota se-Jawa Timur, lalu kita aktif melaksanakan rapat koordinasi dengan kota kabupaten, terakhir itu di Malang sekitar satu minggu lalu,” jelasnya.

Selain itu, BPBD Jawa Timur juga mengkedepankan gotong royong dengan daerah.

Sebagai contoh banjir di Batu tidak membuat kabupaten/kota lain diam saja. BPBD Jawa Timur mendorong agar semua turun dengan personil dan peralatannya.

“Bahkan jika salah satu daerah yang logistiknya menipis karena sering terjadi bencana, daerah lain yang masih cukup logistiknya kami minta geser,” ujarnya.

Sriyono menekankan suatu bencana tidak bisa ditangani dengan adanya ego daerah.

“Bencana harus ditangani secara bersama, jadi tidak ada ego daerah, wilayahmu ya wilayahmu, wailayahku ya wilayahku,” tegasnya.

Sebagai bentuk keterbukaan dalam penanganan bencana, BPBD Jawa Timur melibatkan para stakeholder.

“Kami punya konsep Pentahelix, dengan harapan penanganan bencana bukan hanya tugas pemerintah saja, tapi juga masyarakat, dunia usaha, media massa, dan akademisi,” pungkasnya.

Settia
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan