Bisnis  

Euforia Gowes Melandai, Harga Sepeda Lipat Terjun Bebas

folding bike

EDITOR.ID, Jakarta,- Harga sepeda lipat mengalami penurunan sejalan booming gowes yang mulai sepi alias menurun. Tak cuma harga unit sepeda yang mengalami penurunan namun spare part ternyata juga jatuh. Hal ini karena stok sudah berlimpah.

Kabarnya ternyata untuk sepeda lipat impor segmen atas seperti Brompton juga turun tapi penurunan harga tak signifikan.

Untuk segmen sepeda lipat dan MTB di bawah Rp 5 jutaan ke bawah mengalami terjun bebas. Harga rata-rata turun sampai 20-30%. Sedangkan harga spare part ada yang turun sampai 50%.

komunitas sepeda lipat
komunitas sepeda lipat

“Spare part MTB sebagian sudah turun sangat drastis. Di awal, Groupset Deore sempat melonjak. Bahkan saya perhatikan dulu tuh konsumen nggak memikirkan harga yang penting barang ada,” kata pemilik toko dan bengkel sepeda Ajo Bike yang berlokasi di Cisalak Depok, Harun Adi Saputra atau Kang Ajo sebagaimana dilansir dari CNBC Indonesia, Jumat (11/4/21).

Ia menjelaskan penurunan harga terjadi akibat minat gowes masyarakat yang mulai menurun, tapi stok dari distributor sudah melimpah. Amblesnya harga umumnya terjadi pada segmen sepeda lipat segmen bawah.

“Harga sebagian sepeda turun tapi nggak semua jenis turun. MTB atau sepeda gunung high class tetap stabil. Menengah ke bawah agak turun, terutama sepeda lipat, turunnya sangat signifikan, enam bulan lalu (Pacific) Noris yang harga Rp 4 juta karena barang kosong peminat banyak, harga barang bisa naik 2-3x lipat. Sekarang kebalikannya, stok distributor banyak, harga turun drastis,” kata Kang Ajo.

Penurunan harga umumnya terjadi pada sepeda dengan range rendah di bawah Rp 5 juta. Berbeda dengan sepeda lipat untuk segmen kelas menengah atas seperti Brompton. Sepeda jenis ini tetap dicari oleh sebagian masyarakat dari kalangan menengah ke atas dan penghobi.

Misalnya Brompton M6L Raw Lacquer beberapa bulan lalu mencapai Rp 41 juta, kini harganya turun landai sekitar Rp 37 juta. Model M6R BE Color dari semula Rp 43 juta menjadi Rp 39 juta, serta M6R BE Lacquer yang semula kisaran Rp 46 juta saat ini kembali ke angka Rp 42 juta.

“Harga nggak begitu anjlok kayak sepeda lipat lokal biasa. Turun tapi wajar, nggak drastis kaya sepeda lokal model Pacific, Troy, Element turun harga Rp 3 juta sampai Rp 4 juta. Mungkin karena peminat Brompton segmented menengah ke atas semua, beda sama lokal yang di bawah Rp 10 juta peminat banyak. Kalau orang beli Brompton tertentu saja,” kata Kang Ajo.

Stok mulai melimpah pada segmen menengah bawah, dan permintaan mulai melandai jadi pemicunya. Hal ini juga diakui oleh pedagang sepeda.

“Kondisi sekarang sudah sama saja seperti sebelum pandemi (tak booming), nggak kayak dulu awal pandemi, ramai banget tuh ketika awal pandemi,” kata Ian, Pemilik Toko Sepeda Harapan Kencana yang berlokasi di Jl. Surya kencana No.94 Bogor.

“Misalnya itu (sepeda lipat) Rubick Gyro sekarang harganya Rp 4 juta, dulu sampai Rp 4,5 juta,” katanya.

Ia bilang saat ini, harga sepeda lipat murah dari harga di atas juga mengalami penurunan harga. “Dibanding MTB, sepeda lipat paling dicari, mulai dari Rp 1,7 juta sampai Rp 1,8 juta itu tipe Evergreen. Yang anak dapat Rp 1,3 juta. Awal pandemi naik harganya, bisa di atas Rp 2 juta,” kata Ian.

Spare Part Juga Anjlok

Saat masa-masa awal pandemi Covid-19, konsumen lebih berani mengeluarkan uangnya demi kebutuhan sepeda. Namun, lama-kelamaan semakin banyak konsumen yang lebih rasional dalam mengeluarkan uang. Imbasnya penurunan harga juga merembet ke beberapa spare part sepeda.

“Misalnya rear dailer, crank hallowtech atau kayuhan, rim pelek, saddle handlebar, sampai shift hydraulic yang buat duduk modelnya naik turun bisa diatur,” kata Kang Ajo.

Penurunan harga sparte part di bengkelnya ada yang sampai hampir 50% dari harga sebelumnya saat booming sepeda melonjak.

“Contoh yang banyak peminat Brakeset Shimano Mt200. Pasarannya beberapa bulan lalu sempat di Rp 1,2 juta. Sekarang harga turun drastis, market di pasaran sekitar Rp 650 ribu sampai Rp 700 ribu, turunnya lumayan. Ketika itu sampai Rp 1,2 juta karena barang nggak ada 6 bulan lalu. Sebelum pandemi awalnya jual Rp. 600 ribuan hampir naik 2x lipat, itu pun barangnya sulit dicari,” jelasnya. (tim)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.

%d bloggers like this: