Pernyataan Chusnul Mariyah Dituding Cheryl Tanzil Sebar Hoaks

Seorang dosen FISIP Universitas Indonesia (UI) sekaligus pengamat politik bernama Chusnul Mariyah (CM) yang baru-baru ini tampil dalam program 'Perempuan Bicara startup TV bertajuk 'Dianggap Hina Jokowi, Rocky Terancam Masuk Bui?' yang tayang pada 4 Agustus 2023.

JakartaEDITOR.IDSeorang dosen FISIP Universitas Indonesia (UI) sekaligus pengamat politik  bernama Chusnul Mariyah (CM)  yang baru-baru ini tampil dalam program ‘Perempuan Bicara startup TV bertajuk ‘Dianggap Hina Jokowi, Rocky Terancam Masuk Bui?’ yang tayang pada 4 Agustus 2023. – https://youtu.be/7xnA5OtjjnU

CM menyebut-nyebut  Presiden Joko Widodo (Jokowi) pernah mengancam rakyatnya.

Dalam program TV itu, CM  mengatakan bahwa Jokowi pernah menyatakan kalimat kasar dalam pidato kenegaraannya.

Dalam pidato kenegaraan tersebut, menurut CM, Presiden Jokowi menyatakan dukungan untuk membunuh atau menembak seseorang.

Ucapan Chusnul Mariyah dalam sebuah program TV

Ucapan CM yang viral di media sosial (medsos) setelah CM mengatakan bahwa Jokowi pernah ucap kata ‘di dor’- ‘bunuh’ dalam pidatonya kata CM dalam sebuah program TV.

“Anda pernah mendengar presiden mengatakan ‘bunuh saja!’.

Pernah denger rakyatnya dibegitukan?

Pernah?” tanya CM — sebagaimana dilansir dari stasiun TV One pada Rabu (10/8/2023).

Kemudian dalam tayangan di video viral tersebut CM kembali menegaskan.

“Buka saja di dalam salah satu pidatonya presiden. Buka saja yang kemudian pidatonya presiden, ‘bunuh’, ‘didor saja’. Ada itu,” sambungnya menegaskan.

Sontak pernyataan  CM viral di medsos.

Sejumlah netizen melalui akun medsosnya masing-masing membagikan kembali potongan video ketika CM berbicara di program Perempuan Bicara di TV itu.

Pernyataan Chusnul Mariyah Dituding Sebar Hoaks

Pernyataan CM yang diduga hoaks dalam program TV tersebut disanggah oleh Cheryl Tanzil.

Cheryl Tanzil mempertanyakan kebenaran pernyataan yang disampaikan CM.

“Sebentar bu, ini jangan jadi hoaks nih bu, jangan jadi hoaks nih, ini bahaya nih,” sanggah Cheryl Tanzil.

“Tadi saya (bilang), bahasa saya bahwa ‘tolong cek di internet’. Karena saya pernah mendapatkan waktu itu videonya, jadi tolong dicek, ada kata ‘dor saja’,” balas CM.

Pernyataan CM pun kembali disanggah Cheryl Tanzil.

Dirinya menyatakan pernyataan CM bisa dianggap fitnah apabila tidak disertai dengan fakta.

“Kan profesor, seharusnya anda sudah men-check ketika menyatakan sesuatu di depan media nasional.” tambah Cheryl Tanzil.

Kritik itu wajib ya di era demokrasi supaya negara kita bertambah bagus.

“Tapi ingat, kita dalam mengkritik janganlah kita membuat penggalan-penggalan yang bernada fitnah dan jadinya Hoaks,” ungkap Cheryl Tanzil.

Fakta Sebenarnya

Sementara itu, pernyataan Chusnul Mariyah soal pidato Jokowi dibenarkan oleh seorang netizen bernama Hanum Salsabila Rais.

Lewat status twitternya @hanumrais pada Rabu (9/8/2023), Hanum mengunggah tangkapan layar pemberitaan serta siaran pers resmi soal pidato Jokowi tersebut.

Dalam tangkapan layar pemberitaan yang diunggahnya, pidato Jokowi yang berisi kalimat ‘Dor Saja!’ itu merupakan pidato resmi Jokowi dalam peringatan Hari Anti Narkoba Internasional (HANI) 2016 pada Minggu (26/6/2016) silam.

Pernyataan itu lantang disampaikan Jokowi di Lapangan Cengkeh, Kawasan Kota Tua, Pinangsia, Tamansari, Jakarta Barat.

Tak hanya lewat pemberitaan, Hanum membuktikan fakta pidato Jokowi berisi kalimat ‘dor saja!’ merujuk postingan YouTube resmi Sekretariat Negara.

Dalam postingan tersebut, pidato Jokowi bahkan dijadikan judul oleh Sekretariat Negara, yakni ‘Presiden Jokowi: Pengedar Narkoba! Tangkap! atau bahkan Didor Saja!’.

“Berikut pernyataan dr Pres ttg “Dor Saja” yang juga dipermasalahkan oleh Prof. Chusnul Mariyah dalam konteks kata-kata buruk yg terucap ketika seseorang sudah muak akan kebrengsekan. Jika ini bisa dimaklumi, tentu kita jg memaklumi Rocky saat bertutur kasar,” tulis Hanum.

Berikut sambutan resmi Presiden Joko Widodo pada Puncak Peringatan Hari Anti Narkotika Internasional (HANI) Tahun 2016, 26 Juni 2016, di Pinangsia Taman Sari, Jakarta Barat dikutip dari Setkab.go.id :

Bismillahirrahmanirrahim,
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Selamat pagi, salam sejahtera bagi kita semuanya.

Yang saya hormati Pimpinan dan Anggota Lembaga Negara, para Menteri Kabinet Kerja,
Yang saya hormati Kapolri beserta seluruh jajaran,

Yang saya hormati Kepala BNN beserta seluruh jajaran, Yang Mulia para Duta Besar, Yang saya hormati para Pegiat Anti Narkoba,
Hadirin dan Undangan yang berbahagia,

Hari ini masyarakat dunia memperingati Hari Anti Narkoba, hari di mana kita melakukan perlawanan terhadap kejahatan luar biasa yang masih menjadi tantangan negara-negara di dunia termasuk kita di Indonesia.

Di dalam negeri kita, jumlah pengguna narkoba terus meningkat.

Tahun 2015 diperkirakan angka prevalensi pengguna narkoba mencapai 5,1 juta orang dan angka kematian akibat penyalahgunaan narkoba, tadi Kepala BNN menyampaikan kepada saya, setiap hari 49-50 generasi muda kita mati karena narkoba.

Kerugian material diperkirakan kurang lebih Rp63 triliun yang mencakup kerugian akibat belanja narkoba, kerugian akibat biaya pengobatan, kerugian akibat barang-barang yang dicuri, dan kerugian akibat biaya rehabilitasi dan biaya-biaya yang lainnya.

Dan lebih mengkhawatirkan lagi, kejahatan luar biasa ini sudah merengkuh berbagai lapisan masyarakat.

Tadi juga disampaikan oleh Kepala BNN, anak di TK sudah ada yang terkena narkoba, anak di SD sudah juga ada yang terkena narkoba.

Dan tidak hanya di kota, di kampung, di desa. Tidak hanya orang dewasa, remaja, anak-anak, dan bahkan tadi saya sampaikan yang di TK pun sudah dimasuki narkoba.

Tidak hanya orang biasa tapi juga ada aparat, ada pejabat, dan ini yang seharusnya menjadi panutan juga terkena narkoba.

Para pengedar narkoba terus bergerak dan menemukan cara-cara baru untuk mengelabui kita, mengelabui aparat hukum dan keamanan.

Mereka sudah mulai memanfaatkan orang-orang yang tidak dicurigai– anak digunakan, wanita/perempuan digunakan– dimanfaatkan untuk menjadi kurir narkoba.

Dan adanya modus baru dalam penyelundupan narkoba ke dalam mainan anak, dalam kaki palsu, dan yang lain-lainnya.

Semua itu harus dihentikan, harus dilawan, dan tidak bisa dibiarkan lagi.

Kita tegaskan perang melawan narkoba di Indonesia. Saya ingin ingatkan kepada kita semuanya di kementerian, di lembaga, di aparat-aparat hukum kita.

Terutama di Polri, tegaskan sekali lagi kepada seluruh Kapolda, jajaran Polda, kepada seluruh Kapolres, jajaran Polres, Polsek semuanya, kejar mereka, tangkap mereka, hajar mereka, hantam mereka.

Kalau Undang-Undang memperbolehkan dor mereka.

Ingat Bapak/Ibu sekalian, 40-50 generasi muda kita mati karena narkoba, 5,1 juta.

Untungnya Undang-Undang tidak memperbolehkan itu, kalau memperbolehkan akan saya perintahkan langsung ke Kapolri dan Kepala BNN.

Hadirin sekalian yang saya muliakan, yang saya hormati,

Saya ingatkan semua kita harus bersinergi, pesantren, universitas, kementerian, lembaga, kota, kabupaten provinsi, semuanya.

Kita kadang-kadang terhanyut dalam rutinitas harian kita, padahal kalau ini dibiarkan, ini bisa kemana-mana, bisa melemahkan sendi-sendi kehidupan kita berbangsa dan bernegara kita.

Kalau sudah sampai desa, sudah sampai kampung, sudah sampai TK, sudah sampai SD, ini perlu kita mengingatkan betul betapa sangat bahayanya narkoba itu.

Dan kata-kata sudah tidak diperlukan lagi, kita memerlukan tindakan-tindakan yang konkrit, tindakan-tindakan yang nyata.

Saya perlu ingatkan, semua harus bersinergi mulai BNN, Polri, kementerian, lembaga, LSM, masyarakat, semua harus betul-betul melakukan langkah-langkah yang terpadu untuk melawan narkoba, langkah-langkah yang progresif, yang mengalahkan kelicikan para pengedar narkoba.

Dan tidak kalah penting, semua harus menghilangkan ego kita masing-masing, egosektoral.

Dengan kekuatan dan kecerdasan kita bersama, sekali lagi, kita kejar, kita tangkap, kita hajar para pengedar narkoba, baik yang besar, baik yang sedang, baik yang kecil.

Sambil kita kuatkan lagi jaringan sosial dan budaya yang bisa menjadi benteng mencegah menjamurnya narkoba.

Dimanapun ada narkoba di Indonesia, saya perintahkan seluruh sumberdaya pemerintah untuk hadir dan memberantasnya, di lapas, di sekolah, di perbatasan, di bandara, di pelabuhan, di kantor-kantor instansi pemerintah, dimanapun.

Sekali lagi, dimanapun ada narkoba kita harus berantas.

Negara kita Indonesia tidak boleh dijadikan tempat lalu lintas peredaran dan perdagangan narkoba lagi, apalagi menjadi tempat produksi barang-barang haram tersebut.

Sekali lagi, saya ingin tegaskan saatnya kita perang melawan narkoba.
.
Netizen menanggapi ucapan Chusnul Mariyah

“Jokowi diduga di F1tnah oleh Chusnul Mariyah Dosen UI — Bakal dipol1s1k4n tulis akun @omedia7 dalam keterangan komentarnya.

Akun @berpolitik.id juga ikut membagikan video Prof Chusnul tersebut.

“Prof Chusnul Mar’iyah bilang pidato Jokowi ucap bxxxh didor saja,” tulis @berpolitik.id dalam keterangan unggahannya.

Sosok Prof Chusnul Mariyah (CM)

Chusnul Mariyah aa lahir di Lamongan, Jawa Timur, pada 17 Oktober 1961.

Sebelum menjadi pengamat politik, ternyata Prof Chusnul pernah menjabat sebagai anggota KPU.

CM dikenal sebagai dosen FISIP Universitas Indonesia (UI) sekaligus pengamat politik,  kini mantan anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU).

CM menjabat sebagai anggota KPU periode 2002-2007.

CM juga dikenal sebagai salah seorang aktivis yang sangat gigih memperjuangkan hak perempuan. Khususnya perempuan Indonesia.

Ia piawai sebagai peneliti, aktivis perempuan, dosen, dan tokoh wanita Indonesia yang ahli di bidang akademis dan ilmu politik.

CM juga diketahui menjabat sebagai President Direktur Center of Election and Political Party (CEPP) FISIP, UI.

Wadah tersebut merupakan lembaga kampus dengan tujuan menegakkan demokrasi perwakilan di Indonesia.

CEPP juga bertujuan memperkuat kinerja lembaga demokrasi.

Jenjang Pendidikan Chusnul Mariyah

CM  merupakan seorang guru besar yang ahli di bidang politik.

Sebelum menempuh kuliah, ia menempuh pendidikan di Sekolah Pendidikan Guru Negeri Lamongan, lulus pada tahun 1979.

Kemudian mengambil gelar sarjana di jurusan ilmu politik, FISIP, UI. Lulus pada tahun 1987.

Setelah gelar sarjana, CM kemudian  melanjutkan pendidikannya di Sydney University dan meraih gelar doktoral pada tahun 1998.

Disertasinya berjudul Urban Political Conflicts: The Redevelopment of Inner Sydney.

Kiprahnya sebagai aktivis sudah digeluti sejak ia masih berstatus mahasiswa di UI.

Ia juga seorang penggagas berdirinya Koalisi Perempuan Indonesia untuk Keadilan dan Demokrasi yang dibentuk pada tahun 1998.

Riwayat Karir

Keterlibatan CM yang fokus dalam isu-isu perempuan dan fenomena demokrasi di Indonesia.

Ia merupakan seorang dosen senior Departemen Ilmu Politik, Universitas Indonesia yang sudah dipercayakan untuk mengemban  amanah tersebut sejak tahun 1982.

Selain itu, pada tahun 2000 beliau menjabat sebagai Ketua Pascasarjana Ilmu Politik dan Hubungan International FISIP UI selama dua tahun.

Pada tahun 2001 hingga 2007, ia menjadi salah satu anggota komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU).

Saat itu, untuk pertama kalinya pemilihan presiden dilakukan secara langsung oleh rakyat, dengan presiden terpilih adalah Susilo Bambang Yudhoyono.

Kemudian, mulai tahun 2006 CM diangkat sebagai Kepala Institute for Democracy Defense and Strategic Studies (IDDSS) di Jakarta sampai tahun 2012.

Pada tahun 2008, ia sempat menjadi peneliti di Victoria University, Melbourne.

Selang tiga tahun kemudian, pada tahun 2011 hingga saat ini, CM menjabat sebagai Dewan Pesan Papua Center di FISIP UI.

Ia juga pegiat aktif di Pimpinan Pusat A’isyiyah, salah satu cabang dari organisasi besar islam Muhammadiyah.***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.

%d bloggers like this: