Kelompok Intoleran dan Radikal Manfaatkan Prabowo untuk Tumbangkan Jokowi

Katanya Jika belajar dari rekonsiliasi di atas, sudah tak perlu lagi dipertentangkan antara relasi agama dan negara, dan relasi Islam dan Pancasila.

“Prabowo-Sandi harus belajar dari sejarah bangsa Indonesia, dimana seorang pemimpin tidak mengedepankan egoisme kelompok. Semua harus berangkulan membangun bangsa Indonesia bersama-sama walau ada yang di luar pemerintahan,” pungkas Gus Din.

Achmad Baidowi Wakil Sekretaris Jenderal Partai Persatuan Pembangunan (PPP) menilai sebaiknya Partai Gerindra, PKS, PAN dan Partai Demokrat berada diluar pemerintahan.

Sebab katanya, Jokowi – KH Ma’ruf Amin perlu dikontrol secara kuat, agar ada check dan balancing (keseimbangan) antara pemerintah dan partai oposisi.

“Kalau semuanya menjadi bagian pemerintah dan bersatu dalam pemerintahan menjadi tidak efektif. Mungkin salah satu bergabung ke pemerintah tak masalah. Bisa PAN atau Partai Demokrat sudah cukup,” kata pria yang biasa disapa Baidowi.

Selain itu politisi asal Pamekasan ini menyayangkan sikap capres Prabowo Subianto yang belum mengucapkan selamat atas terpilihnya Joko Widodo dan Kiai Haji Ma’ruf Amin sebagai presiden dan wakil presiden periode 2019-2024.

Sandiaga Uno sebagai cawapres sudah mengucapkan walaupun dalam keadaan terpaksa, setelah diserang nitizen yang mengatakan ucapan selamat adalah budaya barat.

“Kami pihak Jokowi-Amin paslon 01 menunggu ucapan selamat dari pasangan Prabowo-Sandi secara resmi sebagai wujud kedewasaan berpolitik dan kematangan dalam demokrasi. Semoga dalam waktu dekat bisa dilakukan oleh Prabowo Subianto,” tandas Baidowi.

Selanjutnya, Indria Samego Peneliti LIPI mengatakan, generasi hari ini adalah generasi milenial yang tumbuh dan berproses dalam pendidikan politik yang berbeda dengan dulu. Dahulu media dan parpol dalam kendali kekuasaan, sementara hari ini kebebasan media dan kebebasan berpolitik sangatlah terbuka.

“Semua orang bisa menjadi wartawan, pemred dan pemilik dalam akun sosial medianya masing-masing. Sehingga dukungan secara fanatis dan militan bisa disampaikan lewat media sosial,” kata Indria.

Menurutnya, dahulu juga ada tradisi politik melanggengkan kepemimpinan kekuasaan elit.

Sehingga kata Indria, untuk melakukan rekonsiliasi di tingkat elit tidak mudah begitu saja.

“Indonesia tidak punya contoh model rekonsiliasi elit yang baik. Sebab di Indonesia tidak ada tokoh sekaliber Nelson Mandela Presiden Afrika Selatan. Dimana beliau bisa mempersatukan semua faksi politik, termasuk lawan politiknya yang pernah memenjarakan Nelson Mandela,” ujar Indria.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.

%d bloggers like this: