Waspada! Jangan Terlalu Banyak Begadang, Ini Efek Buruknya Baca!

Namun rupanya sebuah penelitian mengemukakan gaya hidup begadang seperti ini kurang baik dan bisa menimbulkan dampak serius.

Jakarta, EDITOR.ID,- Bagi anda yang suka begadang, entah karena pekerjaan atau gaya hidup, maka mulai sekarang cobalah untuk dikurangi. Karena terlalu sering begadang akan berdampak serius.

Kita terkadang suka beraktivitas tengah malam. Karena menjadi golden time menjalankan pekerjaan yang membutuhkan konsentrasi penuh. Heningnya malam sangat meminimalisir adanya distraksi sehingga bisa fokus penuh bekerja.

Namun rupanya sebuah penelitian mengemukakan gaya hidup begadang seperti ini kurang baik dan bisa menimbulkan dampak serius.

Begadang sekali atau dua kali mungkin memang nggak akan berpengaruh banyak untuk kondisimu. Tapi waspadalah, karena keseringan begadang ternyata malah bahaya! Ini dia beberapa alasannya.

Pasalnya begadang atau masih terjaga saat sudah masuk jam tidur bisa mengurangi jatah atau kebutuhan tidur seseorang.

Berdasarkan sebuah penelitian, kondisi kurang tidur ini jika terjadi secara berkepanjangan bisa memicu beragam masalah kesehatan. Mulai dari penurunan gairah seksual, depresi, hingga hipertensi.

Satu hal yang mungkin jarang disadari, kurang tidur berkepanjangan juga dapat memicu terjadinya diabetes tipe 2. Diabetes secara umum terjadi ketika tubuh mengalami resistensi insulin.

Kondisi ini menyebabkan glukosa darah tidak bisa masuk ke dalam sel.

Beberapa studi terdahulu telah mengindikasikan bahwa kurang tidur berkepanjangan bisa menyebabkan terjadinya resistensi insulin. Namun, belum diketahui dengan jelas seperti apa mekanisme yang mendasarinya.

Studi terbaru berhasil menemukan benang merah antara kurang tidur dengan risiko diabetes.

Studi terbaru yang dikepalai oleh University of Bristol ini menganalisis data dari UK Biobank.

“Peneliti telah menemukan bahwa mereka yang berusia di bawah 40 tahun memiliki risiko mengalami diabetes bila mereka mengidap insomnia,” jelas ahli kesehatan tidur Steve Payne dari Sleep and Snooze, seperti dilansir dari laman Express, Minggu lalu.

Adapun studi terbaru ini berfokus pada penilaian lima kebiasaan tidur, termasuk gejala insomnia, durasi tidur, rasa kantuk di siang hari, dan tidur siang.

Hasil studi menunjukkan bahwa orang-orang yang kekurangan tidur memiliki kadar hemoglobin yang lebih tinggi dibandingkan orang-orang yang jarang mengalami kesulitan tidur.

“Apa yang menyebabkan keduanya berhubungan belum diketahui,” ujarnya.

Meski begitu, para ahli berspekulasi bahwa kurang tidur mungkin berkaitan dengan metabolisme glukosa dan menyebabkan ketidakseimbangan hormonal.

Keduanya lalu mempengaruhi kadar lapar dan nafsu makan. Salah satu hormon yang mungkin terpengaruh adalah hormon ghrelin atau hormon yang mengatur rasa lapar.

Hormon lain yang juga terdampak akibat kurang tidur adalah hormon leptin, atau hormon yang mengatur rasa kenyang.

Kurang tidur diyakini bisa menyebabkan hormon ghrelin menjadi lebih tinggi dan hormon leptin menjadi lebih rendah.

Kombinasi keduanya bisa memicu timbulnya kebiasaan makan tidak sehat yang berjuang pada kenaikan berat badan dan kegemukan.

Kegemukan atau memiliki berat badan berlebih merupakan salah satu faktor risiko utama dari diabetes tipe 2.

Kegemukan diketahui dapat meningkatkan risiko terjadinya diabetes tipe 2 hingga tujuh kali lipat. “Ada juga fakta sederhana di mana ketika kita lelah (karena kurang tidur) kebiasaan makan menjadi tidak teratur dan kurang sehat,” tukasnya.

Masalah bagi kebanyakan orang yang suka begadang adalah makan camilan untuk menemani malam-malam begadang. Padahal kita juga tahu betul kalau makan tengah malam itu bisa membuat lingkar pinggang makin gede.

Orang yang tidur telat cenderung makan lebih banyak kalori pada malam hari daripada mereka yang tidur teratur. Tahun 2005, Washington Post juga menyebutkan bahwa orang yang tidur kurang dari 7 jam di malam hari lebih cenderung mengalami obesitas. Studi ini diambil berdasarkan data dari 10 ribu orang dengan rentang usia antara 32 hingga 49.

Saat tidur, otak mengulang kembali apa yang kamu pelajari saat kamu bangun. Ini membantumu menyimpan segala informasi tersebut ke memori jangka panjang. Saat begadang, memori jangka panjang malah kehilangan segala inormasi yang berusaha kamu pelajari semalaman tersebut. (tim)