Settia

Kisah Perjalanan Doktor Urbanisasi Menjemput Rejeki dari Allah

Dr Urbanisasi, SH, MH, CLA, CLI adalah pribadi yang santun, ulet dan cerdas. Dalam kamus hidupnya, penyandang gelar Doktor dari Universitas Hasanudin Makassar ini tak mengenal kata menyerah. Namun, dalam mengarungi perjalanan karir, sosok yang satu ini dikenal sebagai orang yang tawadhu artinya menyerahkan segala nasibnya hanya kepada Allah SWT.

Keberhasilannya berprofesi sebagai pengacara di Jakarta tak lantas membuat dirinya jumawa dan cepat berpuas diri. Ia justru ingin menangkap “atsmosfer” lain dari rutinitasnya membela hukum dan keadilan sejumlah orang penting di negeri ini.

Ya, disela-sela kegiatan padatnya sebagai lawyer dan dosen sebuah Perguruan Tinggi ternama di Jakarta, Urbanisasi mendadak menceburkan diri di dunia baru. Ia merambah menekuni bisnis sarang burung walet. Sebuah bisnis prestisius yang penuh resiko gagal dan keberhasilannya bergantung dari Allah SWT.

“Tentu saya sadari betul bahwa bisnis sarang burung walet ini tidak mudah, tapi itu sudah menjadi adrenalin saya, karena saya memang tipe yang suka tantangan,” ujarnya kepada Editor.id dalam sebuah percakapan rileks di hari Minggu (20/5/2018).

Urbanisasi memberikan “rahasia dapurnya”. Sebuah kunci sukses jika kita ingin memulai usaha. “Kuncinya kita harus berusaha keras dengan belajar pada ahlinya dulu, sebelum memulai bisnis kemudian mengembangkan dengan prinsip berbagi,” katanya.

Karena dalam pandangan dan keyakinan Urbanisasi, burung walet adalah milik Allah yang hinggap menjadi rejeki kita. “Dan Allah dalam Al Quran memerintahkan kita terus berbagi, bersedekah dengan sesama, terutama kaum miskin,” kata pengacara top yang dikenal dermawan ini.

Ada pelajaran yang sangat penting didapat Urbanisasi dalam menekuni bisnis barunya di bidang budidaya sarang burung walet. Ia merasakan harta yang tak ternilai adalah ilmu dan kepandaian manusia. Hal ini juga sudah di Firman kan oleh Allah dalam Al Qur’an bahwa ilmu lebih berharga ketimbang harta yang kita miliki.

“Namun ada hal yang akhirnya terungkap bahwa emas lebih banyak ditambang dari pikiran manusia daripada emas yang ada dari perut bumi,” kata Urban dalam sebuah ungkapan peribahasa.

Jadi dibutuhkan kreativitas yang tinggi agar kita bisa menekuni dan berhasil dalam menjalani budidaya walet. “Kuncinya menekuni bisnis walet adalah kreativitas memadukan teknik dan strategi di dalamnya membutuhkan kesabaran dan keberanian untuk berinvestasi,” katanya.

Keuntungan yang didapat dari bisnis sarang burung Walet memang sangat menjanjikan. Pasalnya, harga jual sarang burung Walet selalu meningkat tajam dari tahun ke tahun. Namun dari ratusan orang yang ingin mencoba dan menekuni bisnis ini tak banyak yang berhasil meraup keuntungan besar. Disanalah Urbanisasi merasa tertantang dalam hidupnya untuk menerjuni bisnis sarang burung walet.

Pengusaha muda ini mulai menggeluti usaha budidaya sarang burung waletnya di daerah Mamuju, Sulawesi Barat di sebuah desa kecil. Ia ingin masyarakat setempat merasakan dampak dari usahanya.

“Hikmah dari menekuni budidaya walet adalah bahwa rejeki itu murni datang dari Allah, dan kita harus bekerja keras untuk menjemput rejeki Nya. Yang jelas jangan abaikan orang miskin dan menjadi kaya bantulah yang lemah (miskin) sayangi tetangga. Segala sesuatunya sudah menjadi ketetapan-Nya,” kata Urbanisasi.

Yang jelas Urbanisasi memutuskan untuk memulai usaha burung walet, walau hanya dengan bermodalkan nekad dan niat ikhlas bahwa usahanya dikemudian hari akan memberikan manfaat kepada banyak orang yang bekerja di budidaya sarang burung waletnya.

Selain bermodalkan nekad dan niat ikhlas, Urbanisasi juga menyiapkan modal usaha untuk mendirikan bangunan yang akan ditempati para burung walet bersarang. Dan Alhamdulillah bangunan yang dibuatnya mulai didatangi burung walet.

*******

Tak disangka inovasi yang dilakukan Urbanisasi berbuah manis. Dalam beberapa bulan ia memulai awal menekuni budidaya sarang burung walet ia sudah merasakan panen perdana meski belum sebesar pengusaha walet yang sudah beromset ratusan juta rupiah.

“Panen sarang burung walet tiap 20 hari sekali dengan syarat bangunan tempat walet bersarang yang kita buat, menarik perhatian walet dan membuat mereka kerasan tinggal di banguna

Leave a Reply