Uncategorized  

Jangan Kaget, Ramuan Akulturasi Bikin Madiun Laksana Kota-kota di Eropa

Jangan Kaget, Ramuan Akulturasi Bikin Madiun Laksana Kota-kota di Eropa

EDITOR.ID, Madiun,- Pengendara dari luar kota – dari arah mana pun – yang memasuki wilayah Kota Madiun, Jawa Timur, diminta jangan kaget. Anda tidak sedang masuk di jalur kota kota di Eropa seperti Paris (Perancis), Brussel (Belgia), Roma (Italia), Zurich (Swiss) atau Amsterdam (Belanda).

Namun, apabila Anda tetap merasa kaget, itu wajar. Tidak lain dan tidak bukan, lantaran tata letak dan pemandangan Kota Madiun kekinian, beda jauh dengan kondisi sebelumnya yang sudah expired

Mengunjungi Madiun dan berjalan jalan menyusuri sudut sudut kotanya sekarang ini memang bikin pangling atau tak kenal lagi bahwa itu sebenarnya Kota Madiun yang dulu. Tak terkecuali sisi sebelah mana pun, semuanya telah berubah menjadi glowing.

img 20211222 122200
Sudut sudut kota Madiun yang indah

Struktur ruang terpola sebegitu integrated. Disitu nampak tatanan pusat pusat pemukiman dengan sistem jaringan sarana dan prasarana, mendukung kegiatan sosial ekonomi publik yang secara hierarkis memiliki hubungan fungsional.

Ambil contoh, sepanjang Jl. Pahlawan yang menjadi jantung hati Kota Madiun berjarak lebih 500 meter itu ditata begitu indah. Bergaya Eropa penuh, namun tak meninggalkan jati diri ke-Indonesia-annya.

Pedestrian sepanjang jalan itu tersusun bangku bangku artistik eropa klasik, dengan payung permanen penambah rasa betah istirahat.

img 20211222 121942
Jalan jalan kota Madiun yang membuat betah masyarakat beristirahat disana

Lebih terkesan luar negeri lagi, diantara trotoar berlantai keramik itu ditumbuhi aneka rupa tanaman bunga. Juga boks telepon umum khas masa lalu, berdiri pada posisi sinergis sekali.

Di ‘musim gugur’, aneka warna bunga jatuh dan berserakan memenuhi sepanjang lantai trotoar dan aspal jalan. Dan jatuhnya bunga bunga itu sanggup mencuri pandang para wisatawan, yang sedang membuang rasa jenuh dan lelah.

Properti dome yang menempel diantara dinding persis di atas tatanan bangku, menambah suasana romantisme. Selfie dan foto bersama pasti akan dilakukan, sebagai pelengkap kenangan berada di ‘Paris’.

Tak terlalu jauh dari spot rendezvous tersebut, tersedia aneka rupa snack dan sofdrink. Aneka camilan dan minuman ringan itu tersedia di beberapa stand, yang dibangun dengan jarak dan model bangunan yang seragam.

“Aspek kebersihan dan kesehatan tidak boleh kami abaikan. Bekas bungkus dan kemasan apa pun wajib dibuang di tempatnya. Tidak boleh tidak, harus. Sehingga lingkungan asri akan terjaga, bila manusianya bertanggung jawab akan hal itu,” tutur penjaga stand, yang diamini Hanum, pengunjung luar kota.

img 20211222 124156
Tempat-tempat makan yang bersih dan indah dengan aneka makanan yang lengkap di setiap sudut jalan

Ditambahkan Hanum, bangsa Indonesia khusunya warga Madiun dan kota kota sekitarnya tidak perlu jauh jauh dan membuang uang banyak untuk wisata ke luar negeri.

“Wisata ke jantung Kota Madiun sudah mewakili keinginan pelesir ke luar negeri. Saya tidak menggambarkan secara detil. Langsung buktikan mengunjungi Madiun,” ungkap Hanum.

Kondisi seperti di Jl. Pahlawan itu juga terdapat di berbagai sudut jalan lain yang mengitari Kota Madiun. Seperti Jl. Diponegoro, Jl. Kartini, Jl. Musi, Jl. Cokroaminoto, Jl. Jawa, Jl. Sumatera, depan Stasiun Kereta Api serta belahan jalan lainnya.

Namun, ibarat gadis yang hendak onstage mengikuti kontes ratu kecantikan, tentu tak lepas dari sosok periasnya. Sebab, sang perias wajah atau tukang make over merupakan pihak yang paling berperan di belaknganya.

Di tangan perias itulah wajah pating pletot akan disulap menjadi menawan hati bak Cleopatra, bekas penguasa Mesir yang tak terbantahkan kecantikannya.

Adalah Drs. Maidi, Walikota Madiun, sang perias itu. Dialah yang merevolusi tatanan Kota Madiun hingga semenarik saat ini. Kesan Kota Madiun kumuh dan jorok telah dilempar Maidi ke bak sampah. Diganti dengan hidup dan bergairah sepanjang hari.

Maidi menjabat Walikota Madiun sejak 29 April 2019, menggantikan Bambang Irianto yang ditangkap KPK karena terjebak kasus korupsi, gratifikasi dan pencucian uang pembangunan Pasar Besar Madiun.

Sejak menjabat, Maidi langsung menyingsingkan lengan bajunya, membangun Kota Madiun mulai dari aspek infrastruktur sampai ke arah sosial ekonomi masyarakatnya.

Walikota kelahiran Desa Ngancar, Magetan, itu memang memiliki etos kerja amat tinggi. Punya selera spirit to build wilayah yang menjadi tanggung jawabnya.

Sebelum akhirnya menjabat sebagai Kepala Dinas Pendidikan, Sekretaris Daerah hingga Walikota Madiun, sebenarnya Maidi hanyalah guru biasa. Tepatnya Guru Geografi di SMA Negeri 1 Madiun.

Menilik dari basic nya sebagai Guru Geografi, maka tak heran jika Maidi memahami betul soal hubungan antara manusia dan lingkungannya. Pasalnya, geografi sendiri merupakan ilmu yang mempelajari tentang hubungan, persamaan, dan perbedaan antar ruang di bumi.

Sehingga di tangan Maidi Kota Madiun menjadi tak terelakkan lagi bagusnya. Dia belum puas dengan capaian saat ini. Kabarnya, pemolesan Kota Madiun masih berlanjut sampai tahun depan.

Bahkan, di ujung tahun ini Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (PUTR) Pemkot Madiun merampungkan rehabilitasi areal Pasar Sleko.

Digelontor anggaran lebih dari Rp. 2 miliar, dua sisi Pasar Sleko yakni pusat jajan selera rakyat (Pujasera) dan Pasar Buah saat ini menjadi lebih elegan, bersih dan rapi.

Kesan kumuh dan jorok minggat lantaran ditampilkan dalam konsep terbuka dan lapang. Tempat duduknya tidak berdesak desakan, seperti saat sebelumnya.

“Saya merasa lebih nyaman minum kopi di tempat sekarang ini, Mas. Pandangan lepas mengarah ke luar. Mantul lah pokoknya,” aku Didik, pengunjung Pujasera.

Menyambung keinginan Maidi, Kepala Dinas PUTR Kota Madiun Ir. Suwarno kepada jurnalis, Selasa (20/12), mengaku akan melanjutkan pembangunan Kota Madiun.

Menurutnya, tahun depan pihaknya akan merencanakan membangun tower untuk umum. Jadi, publik akan bisa memantau keindahan Kota Madiun melalui tower tersebut.

Menara pantau itu, lanjut Suwarno, akan dibangun di atas Tower PDAM yang berada di areal Pasar Sleko. Menyangkut soal ketinggian tower, Suwarno mengaku akan menyesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi.

“Tahun depan akan melanjutkan pembangunan Taman Sumber Umis, sama koneksi trotoar dari pintu keluar stasiun (kereta api) jalan Dr. Sutomo menuju Jl. Jawa,” pungkas Suwarno. (fin)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.

%d bloggers like this: