Konsep Eri Cahyadi Membangun Kota Surabaya Bersama RT, RW dan Tokoh Masyarakat

EDITOR.ID – Surabaya, Mari kita simak Siapa yang paling berjasa dalam kemajuan dan perkembangan Kota Surabaya di segala bidang? Bukan sekadar birokrat di Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya, bukan semata-mata kinerja dan policy wali kota dan wakil wali kota, bukan pula lembaga legislatif Kota Surabaya.

Perangkat rukun tetangga (RT) dan rukun warga (RW) adalah garda depan kemajuan dan perkembangan konstruktif Kota Pahlawan ini.

Selain RT dan RW, tokoh masyarakat adalah elite lain yang berkontribusi besar atas kemajuan kota ini. Tokoh masyarakat sebagai elite sosial dan keagamaan, tentunya memiliki klien (massa) yang tunduk dan patuh di bawah pengaruhnya. Relasi yang terbangun antara tokoh masyarakat dengan massanya bisa karena pengaruh persuasif dan dominasi dalam perspektif pendekatan political networking.

“RT, RW, dan tokoh masyarakat itulah pemimpin sejati yang mendorong dan mendukung pembangunan Kota Surabaya selama ini. Karena itu, saya akan memberikan apresiasi kepada mereka sekiranya dipercaya dan terpilih dalam pemilihan kepala daerah (Pilkada) 9 Desember 2020 nanti,” kata Eri Cahyadi, calon wali kota Surabaya, saat bersilaturahmi ke kantor PWI Jatim akhir pekan lalu.

Dengan kekuatan APBD 2020 mencapai Rp 10,3 triliun dan besaran product domestic regional bruto (PDRB) tahun 2019 sekitar Rp 450 triliun, kota ini memendam potensi sangat besar untuk mempromosikan kesejahteraan rakyatnya. Instrumen terpenting untuk mewujudkan itu adalah improvisasi, inovasi, dan policy prorakyat elite penguasanya.

Data yang ada menyebutkan, di tahun 2019 tingkat warga Surabaya yang hidup di bawah garis kemiskinan sekitar 4,5 persen. Tingkat persentase tersebut jika dikonversikan dalam data kuantitatif statistik sekitar 130,2 ribu jiwa. Kelompok sosial ini yang membutuhkan intervensi pemerintah lokal, khususnya wali kota Surabaya.

Tentu intervensi politik bersifat populis itu membutuhkan komitmen politik kuat, kapasitas anggaran, program aksi bersifat implementatif, dan dukungan politik banyak stakeholder.

“Saya juga konsen mengentas masalah kemiskinan di Surabaya. Angka 4,5 persen itu mesti kita turunkan secara gradual. Kita lihat nanti dari aspek mana kemiskinan itu mesti kita potong. Misalnya, kita memberikan beasiswa pendidikan kepada anak-anak keluarga miskin secara tuntas, insya Allah kemiskinan di satu keluarga itu bisa kita potong dan entas,” kata Eri Cahyadi.

Eri Cahyadi saat silaturahmi dan sharing dengan pengurus PWI Jatim di kantor PWI Jatim Jalan Taman Apsari 15-17 Surabaya, Jum’at (2/10/2020) petang.

Lahir di Kota Surabaya, 27 Mei 1977, Eri menyelesaikan studi di Fakultas Teknik Sipil Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) pada 1999. Eri mulai menjadi pegawai negeri sipil pada 2001 dan pertama kali bertugas ditempatkan di Dinas Bangunan Kota Surabaya.

Tentu banyak jurus dan strategi lain yang diterapkan Eri untuk membedah dan menyelesaikan masalah kemiskinan di kota ini. Kapasitas anggaran dan profesionalisme serta kompetensi birokrasi Surabaya mampu melakukan itu semua. Yang ditunggu adalah komitmen dan improvisasi policy dari wali kota.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.

%d bloggers like this: