Sementara itu, kera merupakan perwajahan nafsu lawamah, teriak mencela ataupun kebutuhan dasar, makan minum, kawin, nutrisi dan reproduksi. “Kalau tidak dikendalikan bisa merusak. Makan banyak penyakit. Tidak makan sakit. Harus dikendalikan dengan benar,” ujarnya.
Adapun burung merak merupakan simbol dari nafsu muthmainnah, ketenangan. Namun, hal ini juga perlu diarahkan. Sebab, berlebihan juga juga bisa merusak.
Menurut Kiai Jadul, semua makna filosofis empat itulah yang sebetulnya terus diingatkan melalui kehadiran ketupat pada Idul Fitri.
Makna-makna tersebut yang perlu diperhatikan dan dikelola dengan betul-betul oleh umat Islam. “Itu yang harus dijaga, dikelola dengan benar untuk terciptanya kesempurnaan manusia sebagai manusia karena diturunkan Allah ke dunia tidak main-main sebagai khalifatullah, dia harus bisa mengenali, mengendalikan, dan mengarahkan empat itu,” ujarnya.
Kiai Jadul menegaskan bahwa makna filosofi bukan sekadar pemaknaan.
Namun, menurutnya, hal tersebut dapat memengaruhi realitas sosial yang ada. Makna-makna itu mampu menciptakan masyarakat sejahtera, bahagia, adil makmur.
Namun, makna filosofis itu semakin terkikis sehingga bersisa tradisinya saja secara artifisial. “Nggak dikenali lagi asal usulnya dan ke mana arah filosofinya,” pungkasnya.
Turut hadir dalam kegiatan diskusi budaya ini Ketua Lesbumi Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Cirebon M Ilfull Azka Zulkifli dan Pustakawan Wangsakerta Kesultanan Kanoman Farihin Niskala. (Sumber NU Online)