Settia

Rahasia Yang Diajarkan Baginda Nabi untuk Melancarkan Rejeki

Rasulullah juga tidak menutup mata dan membiarkan mereka terus menerus hidup dalam kekurangan. Beliau memberikan beragam cara dan tips-tips agar para sahabat terhindar dari kefakiran dan kemiskinan.

Oleh : Ustadz Sunnatullah

Penulis Adalah Pengajar di Pondok Pesantren Al-Hikmah Darussalam Durjan, Kokop, Bangkalan, Jawa Timur.

EDITOR.ID,- Mengharapkan adanya kelancaran rezeki, maka sama halnya membahas perihal suatu bagian yang tidak terpisahkan dari siklus ketetapan, siklus penciptaan, serta bagian-bagian yang sudah diatur oleh Allah swt dan tercatat di Lauhil Mahfudz, yang semuanya berkaitan dengan takdir.

Sebagai umat Islam, yang harus dipercaya dan diyakini pertama kali adalah janji Allah yang sudah ditetapkan dalam Al-Qur’an, bahwa semua makhluk yang ada di muka bumi sudah memiliki jaminan masing-masing tentang rezeki.

Dalam ajaran Islam, rezeki sama sekali tidak selalu berhubungan dengan materi. Ia murni sebagai nikmat dari Allah yang wajib disyukuri, baik berupa harta, sehat jasmani dan rohani, serta bisa hidup dengan taat kepada-Nya, semuanya adalah rezeki.

Hanya saja, beberapa orang masih memandang bahwa rezeki adalah tentang kekayaan dan uang yang melimpah, yang hal itu hanya bisa dirasakan oleh beberapa pihak saja.

Kaya dengan memiliki uang yang sangat banyak, tidak lantas bisa dinikmati secara menyeluruh, begitu juga dengan hidup miskin, tidak lantas membuatnya tidak bisa menikmati apa yang bisa dirasakan oleh orang kaya.

Semuanya sama-sama berhak dan niscaya, hanya saja latar belakang miskin terkadang sering dijadikan alasan bahwa mereka tidak akan pernah menikmati apa yang dirasakan orang kaya.

Jika kaya adalah suatu keniscayaan bagi manusia, maka miskin juga demikian, ia menjadi sesuatu keniscayaan yang bisa dirasakan oleh siapa saja. Semuanya berhak untuk kaya, dan juga niscaya untuk fakir dan miskin. Akan tetapi, hidup kaya dengan serba berkecukupan menjadi suatu keinginan setiap manusia.

Hidup dengan tidak bergantung kepada orang lain merupakan dambaan setiap makhluk hidup, termasuk manusia.

Oleh karenanya, dalam catatan sejarah, tidak sedikit para sahabat yang mengadukan nasibnya kepada Rasulullah perihal kehidupan mereka yang mengalami kesulitan, hidup fakir miskin dan penuh kekurangan perihal materi.

Rasulullah juga tidak menutup mata dan membiarkan mereka terus menerus hidup dalam kekurangan. Beliau memberikan beragam cara dan tips-tips agar para sahabat terhindar dari kefakiran dan kemiskinan.

Kisah-kisah itu oleh para ulama diabadikan dalam suatu kitab karangan mereka, menjadi suatu bab secara khusus yang hanya menjelaskan tentang cara-cara agar terhindar dari kemiskinan.

Misalnya, Sayyid Muhammad bin Ali Khirrid al-Alawi al-Husaini at-Tarimi, dalam salah satu kitab karyanya menceritakan tentang suatu riwayat dari sahabat Sahal bin Sa’ad tentang seorang laki-laki yang hidup dalam kefakiran dan kemiskinan.

Leave a Reply