“Kolaborasi bisa dilakukan dengan penyelarasan kurikulum dengan kebutuhan industri, Program Magang dan Work-Integrated Learning, Program Up-skilling dan Re-skilling bagi Tenaga Kerja, Kolaborasi Triple Helix antara Pemerintah, Akademisi, dan Industri dan Penyediaan Fasilitas R&D Berbasis Industri,” jelasnya.
Internasionalisasi pendidikan, sambungnya, juga sangat penting untuk meningkatkan keterlibatan lembaga pendidikan Indonesia dalam komunitas global, baik melalui kolaborasi akademik, pertukaran pelajar, maupun penyesuaian kurikulum agar sesuai dengan standar global. “Kita perlu mengikuti tren pasar di Asia Tenggara melalui sistem pendidikan,” ujar Prof Ariawan yang juga Pakar Hukum Bisnis dan Perdagangan Internasional.
Langkah keempat yang tak kalah penting adalah Entrepreneurship & Bisnis Inovatif. Menurutnya, dengan spirit peningkatan dana riset di pemerintahan, maka sistem pendidikan harus bisa menekankan mindset entrepreneurship dan penciptaan bisnis yang inovatif dalam SDM.
Riset yang dihasilkan oleh institusi pendidikan harus dapat dikembangkan lebih lanjut bagi masyarakat sehingga dapat menciptakan lapangan pekerjaan.
“Sumber Daya Manusia Indonesia melalui sistem pendidikan perlu bertransformasi dengan inovasi akademik, kolaborasi industri, internasionalisasi, dan bisnis kreatif untuk mewujudkan Generasi Emas 2045.” tandas Ariawan alumnus Program Doktoral Universitas Indonesia. (tim)