Settia

Octaviyanti Ronsumbre Pilot Wanita Asal Papua Inspirator Kartini Milenial

Banyak Kartini di Papua, satu di antaranya adalah Octaviyanti Blandina Ronsumbre. Wanita ini menjadi penerbang menginspirasi kebangkitan Kartini-kartini milenial di bumi Cenderawasih.

Tidak banyak perempuan yang berprofesi menjadi pilot karena profesi ini indentik dengan kaum pria. Namun bagi Octaviyanti Blandina Ronsumbre, namanya telah tercatat dalam sejarah sebagai wanita asli Papua pertama yang menjadi pilot.

Bersana sang kakak yang juga seorang pilot

Kehebatan Octaviyanti ini bisa menjadi inspirasi untuk kebangkitan Kartini-kartini di provinsi paling timur Indonesia.

Ibu muda berusia 31 tahun ini telah malang melintang hampir 5 tahun melanglang dirgantara tanah air menerbangkan berbagai jenis pesawat.

Octaviyanti Blandina Ronsumbre yang akrab disapa Vivin ini telah menerbangkan pesawat jenis Boeing 737 seri 300/400/500 dengan jam terbang sekitar 4.000 jam itu.

Ia adalah putri ketiga dari pasangan Yakobus Ronsumbre putra asli Papua dan ibunya Susilowati perempuan berdarah Jawa. Kakak pertama atau sulungnya, Yonnas N Rosumbre juga adalah pilot di PT Garuda Indonesia.

Menempuh pendidikan dasar sampai sekolah menengah atas di Biak. Menempuh pendidikan dasar di SD Negeri 1 Kota Biak 1994-2000. Kemudian melanjutkan ke SMP Negeri 1 Kota Biak 2000-2003, dan SMA Negeri 1 Kota Biak pada 2003-2006.

Kini wanita kelahiran Biak, 30 Oktober 1988 itu menjadi salah satu pilot di Maskapai Trigana Air dan telah mengantongi ribuan jam terbang.

Kesan pertama sosok dari ibu anak satu itu cukup ramah dan bersahabat kepada siapa saja. Ibu dari Dirgantara Ronsumbre dan istri dari Agustinus Sujatmiko ini mengaku tak menyangka jika jalan hidupnya akan menjadi seorang wanita yang mengawaki pesawat terbang.

Takdir tersebut dimulai ketika Vivin berhasil lulus seleksi untuk ikut pendidikan sekolah penerbang Nusa Flying International Bandara Halim Perdanakusuma Jakarta. Bahkan Vivin berhasil menamatkan pendidikan penerbangan dengan predikat baik pada 2010-2011.

“Saya lulus penerbang Mei 2011,” ujarnya mengawali percakapan.

Octaviyanti Blandina Ronsumbre Pilot Wanita Asal Papua

Meski kini berprofesi sebagai pilot, namun ternyata cita-citanya sejak kecil sebenarnya menjadi pramugari.

Begitu mengidolakan pada profesi pramugari, kalau ada kegiatan karnaval pada masa sekolah, ia nyaris selalu mengenakan kostum pramugari. “Bahkan saking kepincutnya jadi pramugari, setiap ada kegiatan karnaval saat duduk di bangku SD, SMP, SMA, saya selalu mengenakan busana pramugari,” kisahnya.

Namun saat mendaftar pramugari, ia ditolak karena tinggi badannya tidak memenuhi syarat, kurang dua sentimeter. “Karena tinggi badan saya hanya 158 sentimeter, sedangkan standarnya tinggi badan seorang pramugari minimal 160 sentimeter. Lantas kemudian ikut tes pilot,” tuturnya

Leave a Reply