Kerusuhan di Iran 11 Orang Tewas, Rakyat Protes Kematian Wanita Iran Mahsa Amini

Kerusuhan dipicu tewasnya seorang wanita Iran bernama Mahsa Amini dalam tahanan polisi. Mahsa ditangkap karena tidak mengenakan jilbab. Protes kematian Mahsa meluas di beberapa kota di Iran.

Teheran, EDITOR.ID,- Kerusuhan yang terjadi di Iran masih memanas dan menegangkan. Sedikitnya 11 orang tewas dalam insiden kekacauan tersebut. Empat di antaranya personel keamanan, dalam aksi protes yang meluas di Iran atas kematian seorang wanita muda dalam tahanan polisi moral.

Dilansir dari kantor berita AFP, Kamis (22/9/2022), kantor-kantor berita Iran melaporkan tiga anggota milisi ditikam atau ditembak mati setelah mereka “dikerahkan untuk menangani perusuh”, di kota-kota Mashhad, Qazvin dan Tabriz pada Kamis.

Kerusuhan dipicu tewasnya seorang wanita Iran bernama Mahsa Amini dalam tahanan polisi. Mahsa ditangkap karena tidak mengenakan jilbab. Protes kematian Mahsa meluas di beberapa kota di Iran.

Amini jatuh koma sesaat usai ditahan oleh polisi moral di Teheran pada 13 September, karena tidak mematuhi aturan hijab.

Kepolisian menyebut Amini jatuh sakit.

Namun para aktivis dan demonstran menyebut Amini dipukuli oleh polisi selama berada dalam tahanan yang memicu cedera serius hingga berujung kematian.

Protes di Puluhan Kota

Seperti dilansir Alarabiya News, Rabu (21/9/2022), unjuk rasa berlangsung di puluhan kota Iran untuk memprotes kematian Amini. Unjuk rasa tersebut juga memprotes aturan hijab yang berlaku di negara tersebut.

Sebuah akun Twitter bernama @1500tasvir yang memiliki 80.000 follower dan memposting video-video unjuk rasa yang dikirimkan dari berbagai wilayah Iran.
Pihak berwenang Iran telah membantah terlibat dalam kematian para pengunjuk rasa tersebut.

Demonstrasi atas kematian Mahsa Amini telah berlangsung berhari-hari di seluruh penjuru negeri.

Dilansir dari DW, dalam aksi demo mereka, para perempuan melepas atau membakar hijab mereka. Ada pula yang terang-terangan memotong rambut di depan umum.

Para demonstran lainnya melempar batu atau membakar kendaraan polisi.

Mereka memprotes aturan pemerintah yang mewajibkan tata cara kaum perempuan berpakaian dan bagaimana aturan yang ketat ini ditegakkan.

Penegakan aturan tersebut diserahkan kepada unit polisi yang dikenal dengan Patroli Panduan atau Gasht-e Ershad.

Unit ini lebih dikenal dengan sebutan ‘polisi moral’. Mereka punya kewenangan menahan warga yang dianggap “berpakaian secara tidak pantas”.

Berdasarkan peraturan di Iran, yang bersumber pada interpretasi hukum Islam, kaum perempuan diwajibkan menutup rambut dengan hijab dan mengenakan pakaian panjang-longgar untuk menutup lekuk tubuh mereka.

Amini diduga tidak menutup rambutnya secara sempurna dengan hijab sehingga sempat terlihat saat ditangkap di Teheran, ibu kota Iran pada 13 September 2022. Perempuan muda itu koma setelah jatuh pingsan di tahanan dan meninggal tiga hari kemudian di rumah sakit.

Polisi moral membantah bahwa anggota mereka memukul kepala Amini dengan tongkat atau membenturkan kepalanya ke mobil polisi.

Aksi protes semacam itu diketahui telah memasuki hari kelima pada Selasa (20/9) waktu setempat, dengan unjuk rasa pertama kali digelar setelah Amini diumumkan meninggal dunia pada Jumat (16/9) pekan lalu. (tim)