Kepala BRIN: Habibie Prize Jadi Inspirasi dan Motivasi Peneliti

  • Bagikan
kepala brin laksana tri handoko saat memberikan sambutan anugerah habibie prize 2021 foto youtube brin
kepala brin laksana tri handoko saat memberikan sambutan anugerah habibie prize 2021 foto youtube brin

EDITOR.ID, Jakarta,- Kepala BRIN Laksana Tri Handoko mengatakan anugerah Habibie Prize akan menjadi motivasi dan inspirasi bagi para peneliti, ilmuwan, dan masyarakat untuk terus berkarya dan berkontribusi di berbagai bidang, khususnya bidang iptek, guna mendorong kemajuan dan kesejahteraan bangsa Indonesia.

“Penghargaan ini merupakan momentum dan dorongan untuk kita semua berupaya menghasilkan lebih banyak lagi prestasi-prestasi lainnya,” ujar Handoko dalam sambutannya saat penyerahan penghargaan Habibie Prize, Rabu (17/11/2021).

Lebih lanjut Handoko mengatakan Habibie Prize merupakan agenda nasional, dan salah satu upaya melanjutkan harapan dan cita-cita Habibie dalam membangun sumber daya manusia unggul dan berdaya saing.

Dikatakan, kemajuan suatu bangsa tidak cukup dengan tersedianya sumber daya alam (SDA) yang melimpah dan pembangunan infrastruktrur yang massif, tetapi juga harus didukung dengan peningkatan kualitas SDM yang mampu membangun bangsa.

“Pembangunan SDM yang unggul akan sangat mendukung kemajuan Indonesia sesuai dengan visi Presiden Joko Widodo. Dengan SDM unggul menjadi salah satu kunci utama peningkatan daya saing di percaturan global,” papar Handoko.

Habibie Prize 2021 digelar Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bekerja sama dengan Yayasan Sumber Daya Manusia Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (SDM Iptek) pada Rabu (17/11/2021).

Nama Habibie sendiri, merupakan untuk mengenang jasa Profesor Doktor Bacharuddin Jusuf Habibie dan sekaligus pencetus Habibie Award.

Handoko mengungkapkan, sosok BJ Habibie telah menunjukkan kepada bangsa Indonesia akan kemampuan Indonesia untuk berinovasi dan memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) untuk kemajuan dan kedaulatan bangsa.

“Profesor Habibie merupakan Presiden Indonesia ke-3 serta Menteri Ristek 1978-1998 dan dikenal luas sebagai intelektual internasional dalam bidang teknologi atas dedikasi pemikiran dan komitmen beliau dalam upaya memajukan Iptek di Indonesia,” jelas Tri Handoko.

“Indonesia maju dan berdaulat dapat dicapai jika kita mempersiapkan sungguh-sungguh dan bersinergi dalam pembangunan SDM, agar bergerak cepat memenangkan persaingan global,” tambahnya.

Sebelumnya, Habibie Prize Bernama Habibie Award. Namun pada 6 November 2021 terjadi serah terima Habibie Award dari Yayasan SDM Iptek kepada BRIN dan disepakati menyerahkan Habibie Award secara bersama-sama dengan perubahan nama menjadi Habibie Prize.

Dalam penganugerahan tersebut terdapat 5 kategori bidang iptek dan inovasi di antaranya ilmu kedokteran ilmu dasar, ilmu bioteknologi, ilmu rekayasa, ilmu ekonomi, sosial politik, dan hukum, serta ilmu filsafat dan kebudayaan.

Tahun ini terdapat total 90 kandidat dari kelima bidang ilmu tersebut yang kemudian diseleksi dan dinilai oleh dewan juri.

Adapun Habibie Prize merupakan penghargaan yang diberikan kepada perseorangan yang mempunyai keunggulan tinggi di bidang iptek dengan kriteria yang sangat tinggi, serta mampu menghasilkan temuan-temuan baru di bidangnya untuk kemajuan bangsa dan kesejahteraan rakyat Indonesia.

Penghargaan Habibie Prize 2021 kepada para pemenang akan diserahkan langsung oleh Kepala BRIN Laksana Tri Handoko, Ketua Yayasan SDM Iptek Wardiman Djojonegoro, dan perwakilan keluarga B.J. Habibie, Ilham Habibie.

Wardiman Djojonegoro menyampaikan, tahun ini terdapat total 90 kandidat dari kelima bidang ilmu yang kemudian diseleksi dan dinilai oleh dewan juri yang kemudian ditetapkan dalam suatu rapat pleno yang dipimpin oleh Ketua Panitia Dewan Juri Habibie Prize 2021.

Menurut Wardiman, penghargaan diberikan kepada perseorangan yang aktif dan sangat berjasa dalam penemuan, pengembangan, dan penyebarluasan berbagai kegiatan ilmu pengetahuan dan teknologi yang baru serta bermanfaat secara signifikan bagi peningkatan kesejahteraan, keadilan, dan perdamaian.

“Kepada para penerima Habibie Prize, saya mengucapkan selamat dan semoga Saudara sekalian dapat terus berkarya dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Hadiah Habibie Prize diberikan kepada masing-masing pemenang dalam bentuk medali, sertifikat, dan uang sebesar USD 25.000,” kata Wardiman.

Ilmuwan Penerima Anugerah Habibie Prize 2021

Prof. Dr. M.Hanafi

Prof. Hanafi, peraih anugerah Habibie Prize 2021Prof. Hanafi, peraih anugerah Habibie Prize 2021 Kategori Bidang Ilmu Dasar. Foto: Kanal Youtube BRIN Indonesia

Prof. Dr. M.Hanafi menerima anugerah Habibie Prize 2021 Kategori Bidang Ilmu Dasar. Fokus meneliti tentang penemuan obat dari bahan alam, alumnus S1 Kimia Universitas Indonesia 1985 merupakan pemilik 40 paten, penulis 112 jurnal internasional, 55 prosiding internasional, 46 jurnal nasional, dan penerima penerima Hitachi Global Foundation Asia Innovation Award 2020 “Encouragement Award”.

Kelahiran Semarang, 12 April 1957 ini semula melanjutkan studi S2 Kimia Bahan Alam dan S3 Kimia Organik di Osaka University, Jepang . Ia kelak menjadi profesor riset pada 2012 dengan orasi Proses Penemuan Obat Baru Antikolesterol dan Antikanker.

Peneliti di Pusat Riset Kimia Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) ini kini tengah melakukan penelitian dalam penemuan senyawa aktif antivirus hepatitis B (HBV) dari tanaman indonesia.

“Harapan ke depan, bisa berkarya lebih maju, khususnya bagaimana menghasilkan penelitian yang prospective. Perlu banyak kerjasama, koordinasi lintas bidang, dukungan industri dan institusi, agar bisa menghasilkan obat baru dari tanaman Indonesia,” kata Prof. Hanafi.

Assoc. Prof. dr. Nicolaas C. Budhiparama, Ph.D, Sp.OT(K), FICS

dr. Nicolaas, peraih Habibie Prize 2021dr. Nicolaas, peraih Habibie Prize 2021 Kategori Bidang Ilmu Kedokteran dan Bioteknologi. Foto: Kanal Youtube BRIN Indonesia

Assoc. Prof. dr. Nicolaas C. Budhiparama, Ph.D, Sp.OT(K), FICS meraih anugerah Habibie Award 2021 Kategori Bidang Ilmu Kedokteran dan Bioteknologi. Dedikasinya dalam kedokteran ortopedi dan kemanusiaan mendorongnya kelak mendirikan Nicolaas Institute of Constructive Orthopaedic Research & Education Foundation for Arthroplasty & Sports Medicine.

Alumnus S1 Fakultas Kedokteran Universitas Sumatra Utara (USU) ini semula melanjutkan studi di Leiden Medical School, Belanda. Di sana, dr. Nicolaas lulus sebagai lulusan termuda pada tahun 1993. Ia kelak mendapat fellowship untuk mengembangkan keilmuan di pusat pendidikan ortopedi dunia seperti Lennox Hills Hospital, New York, AS, New England Baptist Hospital, Harvard Medical School, Boston, AS, dan Colorado Joint Replacement, Denver, AS.

dr. Nicolaas kelak memperkenalkan limb salvage surgery. Ilmunya kelak memberikan harapan kualitas hidup yang baik pada pasien dengan tumor tulang. Di samping itu, ia juga mengembangkan teknik bedah berbantuan komputer, unicondylar knee arthroplasty, dan hyperflex knee.

dr. Nicolaas bercerita, ia semula tertarik pada ilmu ortopedi setelah kecelakaan saat menjadi pembalap Formula 3000 di Jerman. Ilmuwan ini berjanji akan membantu banyak orang kembali bisa berjalan jika dapat sembuh saat itu. Ia pun didorong sang ayah untuk menjadi dokter agar dapat membantu yang sakit, kesusahan, dan kesulitan.

Prof. Dr. Ir. Subagjo, DEA

Prof. Subagjo, peraih Habibie Prize 2021Prof. Subagjo, peraih Habibie Prize 2021 Kategori Bidang Ilmu Rekayasa. Foto: Kanal Youtube BRIN Indonesia

Prof. Dr. Ir. Subagjo, DEA meraih anugerah Habibie Prize 2021 Kategori Bidang Ilmu Rekayasa. Prof. Subagjo merupakan pencetus, perancang, dan pemimpin tim peneliti bidang teknologi katalis di Institut Teknologi Bandung (ITB) untuk mengurangi impor minyak mentah, bahan bakar minyak (BBM), dan menciptakan ketahanan energi.

Alumnnus S1 ITB tahun 1975 ini semula lanjut studi hingga S3 di Universite de Poitier, Prancis. Peneliti di Kelompok Keahlian Teknologi Reaksi Kimia dan Katalis ini kelak menghasilkan inovasi yang diganjar anugerah Adibrata sebagai peneliti inovator pada Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (Harteknas ) 2018. Teknologi katalis untuk ketahanan energi tersebut dikembangkan dari kerjasama tim Katalis Merah Putih ITB dengan PT Pertamina.

Prof. Subagjo juga memajukan bidang teknologi proses di Indonesia dengan membuat perusahaan patungan industri katalis PT Katalis Sinergi Indonesia antara PT Pertamina Lubricants, PT Pupuk Kujang, dan PT Rekacipta Inovasi ITB. Perusahaan ini direncanakan beroperasi secara komersil pada 2024 mendatang.

Sejak 2008, Laboratorium Teknik Reaksi Kimia dan Katalis mengembangkan katalis yang mengonversi minyak sawit jadi diesel. Pengembangan ini diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan petani sawit swadaya Indonesia yang mencapai 37 juta kepala keluarga.

Dr. (HC) Nyoman Nuarta

Dr. (HC) Nyoman Nuarta meraih anugerah Habibie Prize 2021 Kategori Bidang Ilmu Filsafat, Agama, dan Kebudayaan. Nyoman Nuarta dikenal sebagai seniman pencipta Garuda Wisnu Kencana, patung serta lanskap ikonik yang menjadi atraksi wisata Indonesia di selatan Bali. sia di selatan bali. Karya Nyoman Nuarta tersebut merupakan salah satu patung tertinggi di dunia.

Kelahiran 14 November 1951 ini menuturkan, ia belajar seni dari sang paman, Ketut Darma Susila yang seorang guru seni rupa. Maestro seni patung ini kelak menciptakan karya-karya terkenal seperti patung Jalasveva Jayamahe di Surabaya, patung Sukarno di Bali, patung di Museum Nasional, dan lain-lain. Menurutnya, patung di ruang publik ini dibuat agar dapat dinikmati siapa saja.

Penerima gelar doktor honoris causa dari ITB ini kemudian mendirikan NuArt Sculpture Park di Bandung. Ia menuturkan, taman patung yang menuangkan nilai luhur budaya melalui kesenian itu berangkat dari mimpinya sejak menjadi mahasiswa untuk punya taman patung dan museum galeri seni modern, mengingat saat itu belum ada museum seni kontemporer di Indonesia.

Nuarta kelak juga memenangkan sayembara konsep desain istana negara di ibu kota negara baru. Konsep burung garuda pada arsitekturnya, menurut Nuarta, menggambarkan sinergi antara seni, sains, dan teknologi. (tim)

 1,904 Total Pengunjung,  3 Pembaca Hari ini

Settia
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan