Imbas Pilkada 2018 Kubu 08 Gamang?

EDITOR.ID, Jakarta,- Dua partai besar PDIP dan Gerindra terseok di Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada 2018). Kedua parpol yang memiliki basis massa besar ini justru kalah dengan Nasdem yang melejit memenangkan hampir 10 Gubernur.

Hasil perhitungan cepat (quick count) di Pilkada Serentak 2018 menunjukkan Partai Gerindra dan PDIP hanya bisa meraih kemenangan di bawah 35 persen pada pemilihan kepala daerah tingkat provinsi. Kondisi ini tentu saja banyak yang menilai akan berdampak dengan kekuatan di Pilpres 2019.

Gerindra yang tengah berjuang mencari “teman” koalisi untuk mengusung Prabowo Subianto atau juga dikenal dengan sebutan 08 menjadi gamang.

Pasalnya, selain Prabowo disebut-sebut sedang mengalami kekurangan duit untuk maju di Pilpres 2019 ditambah dengan hasil pilkada serentak 2018 yang kurang baik. Partai Gerindra bisa jadi semakin sulit mencari partai koalisi untuk mendukung pencalonan mantan Danjen Kopassus itu.

Meski demikian, Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Fadli Zon mengaku partainya tetap optimistis akan mencalonkan Prabowo Subianto di pilpres 2019 mendatang. Ia menyebut, hasil Pilkada Serentak 2018 yang dicapai partai berlambang kepala burung garuda itu dinilainya tak begitu buruk.

Dia pun mencontohkan di pemilihan gubernur Jawa Barat 2018. Kala itu pasangan yang diusungnya bersama PKS dan PAN dapat mematahkan prediksi bahwa suara jagoannya itu di bawah 7 persen. Nyatanya, suara yang diusungnya itu dapat melejit jauh sampai ke 29 persen.

Begitu pula hasil pemilihan Gubernur Jawa Tengah 2018, pasangan yang dijagokannya, Sudirman Said – Ida Fauziah diketahui telah dapat menembus angka psikologis dari berbagai prediksi lembaga survei. Dari dugaan kalah telak dengan mendapatkan suara belasan persen saja, menjadi setidaknya 44 persen suara versi hasil quick count.

“Kita sangat optimistis bahwa Pak Prabowo akan mendapatkan dukungan yang lebih nyata dan kuat di Pilpres 2019,” ucapnya.

Tak hanya itu, Partai Gerindra pun menyebut dengan hasil ini akan terus beriringan dengan PKS dan PAN dalam menghadapi Pilpres 2019 mendatang. Mereka pun akan mendudukan kembali ihwal koalisi bersama dengan para petinggi partai.

Terpisah, Wakil Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) Viva Yoga mengaku belum pasti mendukung pencalonan Prabowo Subianto di Pilpres 2019. Ia menyebut, partai berlambang matahari terbit itu akan melakukan Rakernas pada Juli 2018 terlebih dahulu.

Dalam agenda itu, nantinya hasil pemilihan kepala daerah pun juga akan masuk dalam pembahasan, termasuk pula berbagai capaian evaluasi dari parpol. Rakernas itulah yang nantinya akan memutuskan ihwal calon presiden yang akan diusung oleh PAN.

“Untuk itu PAN akan menetapkan paslon di pilpres pada saat Rakernas PAN nanti,” ucapnya.

Berbeda PAN yang masih bingung menentukan pilihannya, rekan sejawatnya, Partai Keadilan Sejahtera (PKS) justru semakin mantap untuk berkoalisi dengan Partai Gerindra. Hal itu diungkapkan oleh Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) PKS Abdul Hakim.

Ia menyebut, hasil pelaksanaan Pilkada Serentak 2018 itu sebagai sinyal bahwa gerakan ‘2019 Ganti Presiden’ yang dicanangkan kadernya semakin realistis. Sebaliknya, dengan hasil ini, ia pun mengaku akan terus menguatkan kerja sama dengan Partai Gerindra dan PAN.

“Sampai saat ini tidak terbesit untuk berpisah (dengan Gerindra dan PAN), bahkan kami akan menguatkan konsolidasi untuk Pilpres 2019,” katanya.

Sementara itu, kondisi yang sedikit berbeda mungkin terjadi di gerbong koalisi pendukung Jokowi. Meski PDIP keok di 11 propinsi namun bisa dikatakan PDIP masih diuntungkan daripada partai berlambang kepala burung garuda itu.

Sebab, beberapa partai koalisi pendukung Jokowi seperti Nasdem, Golkar dan Hanura dan PPP tak mempermasalahkan koleganya PDIP terpuruk di Pilkada.

Beberapa di antaranya pun akan tetap setia mendukung pencalonan sang mantan Gubernur DKI Jakarta. Empat partai itu masih solid untuk mendukung Jokowi menjadi presiden dua periode.

Ketua DPP Partai Golkar Ace Hasan Syadizly mengaku, partainya tetap akan konsisten mendukung pencalonan Jokowi. Hasil pilkada ini dinilainya justru semakin memperkuat konsolidasi untuk mendukung pencalonan mantan Wali Kota Surakarta itu.

“Pilkada 2018 ini menegaskan Pak Jokowi semakin kuat karena partai-partai politik pendukung Pak Jokowi dapat memenangkan Pilkada serentak,” kata Ace sebagaimana dilansir dari JawaPos.com, Kamis (28/6/2018).

Lantas benarkah seluruh partai koalisi pengusung pendukung Jokowi tetap solid mendukung pencalonan pria kelahiran kota Solo itu? Apalagi, beberapa di antaranya juga sama-sama memiliki kepentingan untuk mengusung cawapres.

Ketua DPP Partai Nasdem Willy Aditya mengaku, partainya akan tetap setiap mengusung pencalonan Jokowi dalam pilpres. Bahkan, berbagai alasan pun dinilainya tak akan menggoyahkan pendiriannya untuk tetap bersama mendukung pencalonan mantan Wali Kota Surakarta itu. Termasuk pula polemik mengenai pengusungan cawapres.

“Nasdem itu tegak lurus, apa pun yang terjadi, tsunami, gempa besar, tetap berjuang bersama Jokowi lah membangun republik ini,” tegasnya. (jpc)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.

%d bloggers like this: