Harlan Boer, Penulis Lagu Indie Folk

Album Bersambung juga dirilis dalam format kaset oleh Sekuntum Records, dengan sampul dan desain kemasan yang dikerjakan oleh seniman Bujangan Urban. Ok, kita tunggu juga ya di Spotify.

Adapun 12 lagu dalam Album Bersambung antara lain: Rumah-Rumah Jadi Kenyang, Gitar Kesenggol, Tak Ada yang Kusamarkan, Kopi Tumpah ke Rambut, Kita Tak Bertemu, Main IG, Patah Patah, Kamar Crazy, Layang-Layang Seperti Tengkorak, Main WA, Lupa Bawa Pulang Mobil, Aku Mau Bikin Mi Instan.

Siapa Harlan Boer

Mengutip Frekuensiantara.com, Harlan Boer dideskripisikan sebagai seorang penyanyi folk yang menyandarkan gemuruh isi kepalanya pada jerumus dua-tiga kunci gitar kayu sederhana, yang dipetik, digenjring mengusik sederet lamunan lowong milik sang gelisah.

“Kita bisa melihatnya bersisa secara permanen di sana, menyelimuti sosok kartun flamboyan berkacamata minus yang tengah duduk memangku sebelah kakinya sendiri, berusaha meredakan kesintingan alami bersama motorik asing galaksi gabir,” bunyi tulisan yang ditulis oleh Rio Tantomo itu.

Namun dari profil yang ditulis sendiri oleh Harlan Boer, pria yang akrab dengan kacamata minus ini merupakan penyanyi dan penulis lagu indie folk/indie-pop/anti-folk Jakarta.

Pria kelahiran 9 Mei 1977 ini bisa dibilang hampir setiap tahun merilis album baru. Sederet album mini seperti Sakit Generik (2012), Jajan Rock & Sentuhan Minimal (2013), Kopi Kaleng (2016) telah diterbitkan. Nanaba Records kemudian menyatukan keempat diskografi tersebut dalam satu rilisan kaset yang diberi titel Binfolk di tahun yang sama pas debut penuhnya, Operasi Kecil (2017) ditelurkan.

Pria kelahiran Jakarta ini merilis album dengan judul yang sangat elok: “Bila Lapar Melukis”. Dari album ini, aroma perbudakan segera tercium dari kalimat yang menetes barusan, seperti meradang pun menantang, memancarkan romantisme perikebinatangan pelampiasan karya.

Dia mengaku ilham itu diambilnya dari tulisan sastrawan Sunda, Ajip Rosidi, ketika menggambarkan perilaku berkesenian pelukis Affandi. Boer mengatakan Affandi melukis seperti orang lapar yang butuh makan.

“Gue merasa punya kedekatan dengan itu. Prosesnya sama kayak dia (Affandi), begitu ‘lapar’ datang – misalnya habis baca buku atau ngobrol sama orang, gue akan langsung ambil gitar, lima belas menit – sekali jalan, selesai.” katanya.

Untuk Bila Lapar Melukis, Boer bekerja sama dengan Fungjai, kanal musik streaming asal Thailand yang memberinya kesempatan melepas setiap lagu dalam albumnya sebagai single dan dipanggungkan masing-masing sepuluh kali per minggu tur keliling Jakarta-Bekasi. Sementara fisiknya disebar via Langen Srawa Records.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.

%d bloggers like this: