Settia

Golkar PPP dan Hanura Masih Galau, Kadernya Tak 100 Persen ke Jokowi

EDITOR.ID, Jakarta,- Suara akar rumput tiga partai pendukung paslon 01, Partai Golkar, Hanura dan PPP, ternyata tidak seratus persen mendukung pasangan calon presiden Joko Widodo, dan cawapres KH Maruf Amin. Kader ketiga parpol ini masih galau dalam memberikan dukungan ke paslon Jokowi-Maruf.

Karena, dari 100 persen kader Partai Golkar yang mendukung Jokowi-Maruf hanya 62,1 persen. Namun 31,2 persen justru akan memilih Prabowo-Sandi.

Lebih parah lagi terjadi di PPP. Kader yang memilih Jokowi Maruf hanya 53,7 persen. Sementara 43,2 persen membelot ke Prabowo-Sandiaga.

Sedangkan di Partai Hanura, kadernya yang loyal ke Jokowi-Maruf hanya 59,1 persen dan 39,6 persen mendukung Prabowo-Sandiaga.

Namun dari sembilan koalisi parpol pendukung Jokowi-Maruf, ada tiga parpol yang solid mayoritas kadernya adalah pendukung militan Jokowi-Maruf. Mereka adalah Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKPI) yang 100 persen mendukung pasangan calon presiden-wakil presiden nomor urut 01.

Kader PDI Perjuangan 90,1 persen mendukung Jokowi-Ma’ruf, sementara 6 persen mendukung Prabowo-Sandi. Kemudian Partai Solidaritas Indonesia (PSI) dimana 92,9 persen kadernya militan mendukung Jokowi dan hanya 8,1 persen yang mendukung Prabowo-Sandi.

Suara para kader partai tersebut terungkap dari hasil survey yang dilakukan Lembaga survei Indikator. Lembaga survey ini merilis hasil survei terkait pemilih dari parpol yang memberikan suara kepada pasangan calon yang bukan diusung partainya (split ticket voting).

Hasilnya, pemilih PPP, Berkarya, dan Partai Demokrat (PD) paling banyak yang split voters.

Survei dilakukan pada 16-26 Desember 2018 terhadap 1.220 responden. Populasinya seluruh warga yang memiliki hak pilih. Survei dilakukan menggunakan metode multistage random sampling. Margin of error survei +/- 2,9 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.

Indikator awalnya menggunakan simulasi surat suara untuk melihat pilihan masyarakat terhadap partai politik. Responden diberi pertanyaan ‘Jika pemilihan anggota DPR diadakan sekarang ini, partai atau calon partai mana yang akan Ibu/Bapak pilih?’. Hasilnya, PDIP meraih suara tertinggi.

“Ada 16 partai yang kami tanyakan dalam berbagai jenis pertanyaan. Kami menerapkan cara bertanya dengan simulasi surat suara dan mereka diminta mencoblos tanpa sepengetahuan pewawancara,” kata peneliti senior Indikator Rizka Halida di kantornya, Jalan Cikini V, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (23/1/2019).

“PDIP paling tinggi, 21,6 persen responden kami mendukung PDIP. Kemudian Gerindra 12,2 persen, Golkar 10,7 persen, PKB 9,3 persen, Demokrat 6,3 persen, NasDem 5,3 persen, PKS 4,2 persen, PPP 4 persen, Perindo 3,4 persen, dan PAN 2,7 persen. Partai lain masih di bawah 2 persen. Ada juga warga yang belum menyatakan pilihannya secara terbuka 16,5 persen,” imbuh Rizka.

Dari total responden, ada 56,2 persen total suara yang diperoleh partai Koalisi Indonesia Kerja, 26,2 persen suara yang diperoleh partai Koalisi Indonesia Adil Makmur, 1,2 persen nonkoalisi, dan 16,5 persen tidak mengindikasikan dukungan kepada salah satu partai.

Indikator lalu memberi pertanyaan ‘Jika pemilihan presiden diadakan sekarang, siapa yang akan Ibu/Bapak pilih sebagai presiden?’. Hasilnya, PDIP menjadi partai paling solid mendukung pasangan Joko Widodo-Ma’ruf Amin, sedangkan PPP menjadi partai yang mengalami split ticket voting terbesar.

“Secara umum, partai-partai yang berada di koalisi pendukung Jokowi-Ma’ruf masih banyak yang mendukung pasangan ini, di atas 50 persen. Akan tetapi, memang ada variasinya itu masing-masing partai. PDIP 90,1 persen mendukung Jokowi-Ma’ruf, sementara 6 persen mendukung Prabowo-Sandi. PPP mengalami split ticket voter paling besar, 53,7 persen mendukung Jokowi-Ma’ruf, sementara 43,2 persen mendukung Prabowo-Sandi,” jelas Rizka.

Di koalisi Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, Gerindra menjadi partai paling solid mendukung. Namun Partai Berkarya menjadi partai yang paling banyak terbelah suaranya, disusul Demokrat.

“Kalau di koalisi Prabowo-Sandi ini yang paling solid dukungannya adalah pemilih Gerindra, di mana 81,5 persen pemilih Gerindra mendukung Prabowo-Sandi. Yang paling tidak solid Partai Berkarya, terbelah dukungannya ke Jokowi-Ma’ruf. Yang cukup banyak juga adalah dari Partai Demokrat, 40,5 persen lebih banyak yang memilih Jokowi-Ma’ruf,” paparnya.

Wakil Ketua Umum Partai Demokrat Roy Suryo, yang juga hadir dalam pemaparan hasil survei Indikator, menyatakan fenomena split ticket voting sudah ada sejak Pilpres 2014. Roy mengakui memang terjadi suara terbelah dalam partainya. Namun, menurutnya, jumlahnya sudah mulai menurun dan lebih banyak yang mendukung Prabowo-Sandi.

“Fenomena ini benar ada dan kami mengakui bahwa awalnya Partai Demokrat memang split, tapi alhamdulillah sekarang sudah semakin menurun dan itu akan terus menurun mendekati 17 April. Apalagi di bulan-bulan terakhir, Pak SBY yang ada di Banda Aceh lebih banyak turun dan itu akan memberikan satu dukungan yang cukup signifikan kepada pasangan 02, Prabowo-Sandi,” tegas Roy di lokasi yang sama.

Ketua Lembaga Pemenangan Pemilu PKB Marwan Jafar menyatakan fenomena split ticket voting terjadi karena penyelenggaraan pemilu legislatif dan pemilihan presiden yang dilaksanakan secara serentak. Partai politik mempunyai 2 tanggung jawab, memenangkan partainya dan memenangkan pasangan calon yang diusungnya.

“Dalam pemilihan langsung ini, partai punya 2 tanggung jawab sekaligus, memenangkan dirinya dan memenangkan capres-cawapres yang didukungnya. Ini tidak mudah. Dalam konteks tema ini, pasti partai melakukan instruksi secara total terhadap partai yang mendukungnya, tetapi pertanyaannya konstituen partai itu sejauh mana ketaatan terhadap instruksi dari partai itu. Ini kan banyak variabel yang tentunya harus dilakukan oleh para peneliti, termasuk kinerja yang dibangun oleh masing-masing capres-cawapres,” ucap Marwan.

Menanggapi hal itu, Sekjen Partai Nasional Demokrat (NasDem) Jhonny G Plate mengatakan, terbelahnya tiga partai koalisi tersebut karena adanya masalah dalam internal partai tersebut. Namun, dia tak membeberkan masalah apa yang ada di internal partai tersebut.

“Hanura, PPP dan Golkar kita ketahui di saat awal memang di internal ada persoalan di 3 partai ini. Karena itu fokus untuk konsolidasi internal di awal jelas tantangannya besar,” kata Jhonny di Kantor Indikator, Jakarta Pusat, Rabu (23/1).

Meski begitu, permasalahan yang ada dalam internal tiga partai tersebut saat ini sudah terselesaikan. Menurutnya, soliditas tiga partai tersebut kini sudah mulai kembali dan memberikan dampak positif.

“Masalah politik di internal sudah diselesaikan dan sekarang soliditas saya kira akan memberikan dampak dan akan berpuncak pada bulan-bulan terakhir kampanye. Kita mulai akhir Maret akan mulai rapat terbuka akan iklan-iklan politik, penggunaan internet sebagaimana amanat UU dengan media-media cetak maupun elektronik,” ujarnya.

“Saat itu nanti secara masif koalisi 9 partai ini akan bekerja utk memastikan pak Jokowi-Ma’ruf basis elektoral elektabilitas dipertahankan atau ditingkatkan. Kami sampai saat ini sih di internal membuat analisis itu masih cukup yakin bahwa keunggulan itu bisa dipertahankan,” pungkasnya. (tim)

Berikut ini persentase konstituen partai Koalisi Indonesia Kerja yang memilih Prabowo-Sandi:

PDIP: 6,0 persen
Partai Golkar: 31,2 persen
PKB: 27,0 persen
Partai NasDem: 27,8 persen
PPP: 43,2 persen
Partai Hanura: 39,6 persen
Partai Perindo: 27,9 persen
PSI: 8,1 persen
PKPI: 0,0 persen

Berikut ini persentase konstituen partai Koalisi Indonesia Adil Makmur yang memilih Jokowi-Ma’ruf:

Partai Gerindra: 14,1 persen
PKS: 21,1 persen
PAN: 26,0 persen
Partai Demokrat: 40,5 persen
Partai Berkarya: 42,1 persen

Leave a Reply