Settia

Bersaing Sengit Berebut Cawapres

Ilustrasi

EDITOR.ID, Jakarta,- Pilpres 2019 ini akan berlangsung menarik untuk dicermati. Pasalnya, hingga saat ini hampir mayoritas lembaga survei masih memposisikan Jokowi Widodo (Jokowi) dan Prabowo di urutan pertama dan kedua paling tertinggi tingkat elektabilitasnya.

Sehingga Pilpres kemungkinan besar diramal akan menyajikan tarung ulang (rematch) edisi 2014 antara Jokowi vs Prabowo.

Hal ini karena peluang munculnya poros ketiga semakin kecil, terutama jika judicial review Presidential Threshold (PT) 20 persen syarat Capres yang tengah digugat sejumlah aktivis kalah di MK.

Selain itu, tidak adanya nama kuat selevel Jokowi dan Prabowo mengakibatkan banyak parpol cenderung bermain aman agar tidak kalah.

“Pertarungan sengit justru terjadi di posisi Cawapres, dimana hingga kini sejumlah nama terus dibahas para elite kedua kubu,” kata Direktur Eksekutif Developing Countries Studies Center (DCSC), Zaenal A Budiyono dalam keterangan persnya, Minggu (24/6/2018).

Menurut Budiyono, salah satu nama yang disinyalir memiliki peluang adalah Gatot Nurmantyo. Namanya kerap di posisi tiga besar untuk Capres, atau merujuk sejumlah survei, Gatot berada di peringkat satu kalau untuk Cawapres Jokowi. Meski demikian, langkah Gatot tidak mudah.

Alasannya, kata Budiyono, di internal Jokowi untuk nama-nama profesional, selain Gatot masih ada nama Moeldoko, Mahfud MD, Susi Pudjiastuti, Sri Mulyani atau Zainul Majdi. Keempatnya bukan nama sembarangan, karena memiliki rekam jejak mentereng.

Moeldoko adalah mantan panglima TNI, dan sekarang ketua Kantor Staf Presiden (KSP). Mahfud MD berpengalaman memimpin Mahkamah Konstitusi selain pernah memiliki pengalaman birokrasi dan akademisi. Susi dikenal sebagai menteri berprestasi.

Sri Mulyani punya prestasi berhasil menstabilkan APBN, meraih kepercayaan bank Dunia dan mendapat gelar sebagai menteri keuangan terbaik di dunia. Sementara TGB Zainul Majdi, Gubernur NTB dikenal sangat dekat dengan kalangan mayoritas umat muslim dan dikenal sebagai gubernur bersih dan santun.

Alasan kedua, menurut Budiyono, selain nama-nama dari internal Jokowi, koalisi parpol pendukung juga menyuguhkan nama-nama kuat. Mulai dari Muhaimin Iskandar, Rohmanurmuzy hingga Airlangga Hartarto.

Bila pertimbangannya untuk perimbangan kekuatan politik dan memperkuat elektabilitas, Jokowi cenderung akan memilih calon dari parpol yang sudah memiliki basis.

Jika demikian, bagaimana peluang Gatot di kubu Prabowo? Menurut Zaenal, sulit membayangkan pasangan Prabowo–Gatot, karena keduanya memiliki latar belakang yang sama, yaitu militer.

“Pengalaman 2014, Prabowo yang berpasangan dengan sipil (Hatta Rajasa) justru hanya kalah tipis dari Jokowi – JK. Mempertahankan momentum 2014 menjadi penting bagi Prabowo, dan dalam upaya ke sana, ia membutuhkan sosok sipil yang mumpuni,” katanya.

Lebih lanjut, Budiyono mengatakan partner Gerindra, PKS sendiri sejauh ini belum secara terang mendorong Gatot. Mereka lebih fokus mendukung sembilan nama dari internal partai, yang juga untuk kepentingan Pileg mendatang. Satu-satunya peluang adalah mengharapkan poros ketiga mencalonkan Gatot sebagai Capres.

“Tapi sekali lagi peluangnya sangat kecil, karena PD juga memiliki calon tak kalah menarik pada diri AHY (Agus Harimurti Yudhoyono, red),” kata Budiyono yang juga pengajar FISIP Universitas Al Azhar Indonesia ini. (tim)

Leave a Reply