Settia

Pungli Pendidikan Marak di Pemkot Tangsel Kapan OTT Saber Pungli Bergerak?

Tangsel, EDITOR.ID,- Sejumlah orang tua wali murid sebuah sekolah di Tangerang Selatan gelisah. Pasalnya, pihak sekolah beberapa kali sering memintai uang kepada mereka. Padahal sekolah tersebut berstatus negeri dan biaya operasional dan infrastrukturnya ditanggung APBD pemerintahan kota.

Pagi ini, Sabtu (13/1/2017) sebuah Sekolah Menengah Pertama di Tangerang Selatan kembali memanggil dan mengumpulkan para orang tua wali murid. Ujung-ujungnya dari pertemuan dengan orang tua wali murid tersebut pihak sekolah kembali meminta sumbangan dana dengan dalih untuk membeli tralis pengamanan komputer yang ada di ruang pratikum.

Sejumlah orang tua wali murid memprotes permintaan dana yang membebani mereka.

“Perasaan pendidikan kita kan ditanggung gratis, negara yang membiayai operasional pendidikan melalui APBD, Kan sekolah gratis ga boleh memungut biaya lagi, kenapa kok kita masih dimintai duit lagi,” keluh seorang ibu orang tua wali murid yang minta namanya dirahasiakan karena takut dipersulit pihak sekolah jika pungli ini sampai ramai ke media massa.

Orang tua wali murid protes dan ada yang meminta keringanan. Tapi pihak sekolah tak bergeming tetap meminta sumbangan uang untuk memasang tralis jendela sekolah. “Saya keberatan pak, bukannya untuk perbaikan sekolah menjadi tanggung jawab pemerintahan kota,” keluh ibu yang putranya bersekolah di SMP tersebut.

Sebelumnya sekolah tersebut juga pernah memalak siswanya dengan dalih untuk pembelian buku-buku pelajaran bagi siswa. Mereka terpaksa membayar uang yang mencapai hingga Rp 1 juta lebih.

Imej sekolah di Tangsel sering melakukan pungli bukan yang pertama kali terjadi. Beberapa waktu silam tiap Penerimaan siswa baru (PSB) selalu diwarnai pungli. Untuk bisa masuk ke sekolah negeri, siswa yang NEM nya tidak memenuhi syarat biasanya melalui jalur belakang. Mereka dikenakan biaya Rp6 juta sampai Rp7,5 juta.

Pihak sekolah membantah adanya pungli tersebut dengan dalih mereka meminta sejumlah uang berdasarkan persetujuan orangtua siswa. “Pihak sekolah tidak memaksa untuk memungut uang tersebut. Orangtua siswa sudah menyetujui,” ujar salah satu pengelola sekolah.

Kuota penerimaan siswa baru di sekolah negeri yang terbatas mereka manfaatkan dengan istilah jalur mandiri. “Kalau uang tersebut merupakan kesepakatan dari orangtua siswa dari jalur belakang,” ujar pengelola sekolah.

Maraknya pungli dan pemalakan di dunia pendidikan di Pemerintahan Kota Tangerang Selatan ini membuat sejumlah kalangan prihatin. Pendidikan yang oleh kepala daerah digembar-gemborkan gratis untuk mencari pencitraan, namun faktanya siswa tetap menjadi bulan-bulanan praktek pungli pihak sekolah.

Leave a Reply